Pengaruh Media Sosial TikTok terhadap Fenomena Self-Diagnose

Self-Diagnose
Ilustrasi Algoritma TikTok (Sumber: MMI)

Perkembangan teknologi dan media sosial membuat informasi semakin mudah diakses oleh masyarakat. Salah satu media yang paling sering digunakan saat ini adalah TikTok.

Aplikasi ini tidak hanya berisi hiburan, tetapi juga dipenuhi berbagai konten edukasi, salah satunya mengenai kesehatan fisik dan mental. Banyak pengguna membagikan pengalaman pribadi mengenai gangguan kesehatan tertentu, mulai dari gejala dan tanda penyakit hingga penanganannya.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Oleh karena itu, mulai muncul fenomena self-diagnose, dimana seseorang mencoba mendiagnosis dirinya sendiri berdasarkan informasi yang dilihat di media sosial. Fenomena ini semakin sering terjadi, terutama di kalangan muda yang aktif menggunakan TikTok dalam kehidupan sehari-hari.

Self-diagnose melalui TikTok menjadi populer karena informasi dapat diperoleh dengan cepat dan mudah dipahami. Banyak konten kreator yang menjelaskan suatu penyakit menggunakan bahasa sederhana sehingga penonton merasa lebih dekat dengan pembahasan tersebut.

Selain itu, algoritma TikTok membuat pengguna terus menerima video yang serupa. Akibatnya, seseorang yang awalnya hanya menonton satu video kesehatan jadi terus mendapatkan konten terkait penyakit tertentu hingga merasa dirinya memiliki gejala yang sama.

Fenomena self-diagnose juga dipengaruhi oleh rasa ingin tahu seseorang terhadap kondisi kesehatannya. Tetapi, banyak dari mereka yang mengalami kesulitan untuk segera berkonsultasi dengan dokter atau psikolog, baik karena keterbatasan biaya, rasa cemas, maupun kesibukan yang menyita waktu.

TikTok akhirnya menjadi tempat alternatif untuk mencari jawaban atas keluhan yang mereka rasakan. Bagi sebagian orang, video-video tersebut membantu mereka lebih sadar terhadap kesehatan dan mendorong mereka untuk mulai memperhatikan kondisi tubuh dan juga mentalnya.

Self-diagnose melalui TikTok memiliki banyak dampak positif. Konten kesehatan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan dan mengenali gejala penyakit sejak dini.

Beberapa orang bahkan menjadi lebih berani mencari bantuan profesional setelah menyadari adanya masalah pada dirinya. Berbagai pengalaman yang diceritakan konten kreator juga membantu mengurangi stigma terhadap gangguan kesehatan tertentu karena banyak orang mulai terbuka untuk membicarakan pengalaman pribadi mereka.

Baca juga: Self-Diagnosis: Ketika Algoritma yang Menentukan Kondisimu

Namun, tidak semua informasi di TikTok dapat dipercaya. Banyak konten dibuat tanpa dasar medis yang jelas dan hanya bertujuan menarik perhatian penonton. Hal ini dapat menyebabkan kesalahan diagnosis karena gejala suatu penyakit sering kali mirip dengan kondisi lainnya.

Seseorang yang terlalu percaya pada informasi di TikTok bisa menjadi cemas berlebihan dan merasa dirinya sakit padahal belum tentu benar. Bahkan, ada juga yang mencoba pengobatan sendiri tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Masyarakat perlu menggunakan media sosial secara bijak. TikTok sebaiknya dijadikan sebagai sumber informasi awal, bukan sebagai tempat untuk menentukan diagnosis akhir.

Informasi kesehatan yang diperoleh dari media sosial harus diperiksa kembali melalui sumber terpercaya atau dikonsultasikan langsung kepada dokter maupun tenaga kesehatan lainnya. Dengan sikap yang lebih kritis, masyarakat dapat memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi secara positif tanpa mudah terpengaruh oleh informasi yang menyesatkan.

Fenomena self-diagnose dari TikTok menunjukkan bahwa media sosial memiliki pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat modern. Kehadiran konten kesehatan memang dapat membantu meningkatkan kesadaran terhadap kondisi diri sendiri. Namun, jika digunakan tanpa pemahaman yang benar, self-diagnose dapat menimbulkan kesalahan informasi dan kecemasan berlebihan.

Oleh sebab itu, masyarakat harus lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan tetap mengutamakan konsultasi dengan tenaga kesehatan agar informasi yang diperoleh benar dan dapat dipertanggungjawabkan.

 


Penulis: Annisa Mumtaza
Mahasiswa Kedokteran, Universitas Yarsi


Dosen Pengampu: Aulia Rahmi, S. Pd., M.Pd


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses