Abstrak
Perkembangan teknologi digital telah mengubah perilaku konsumen dalam menentukan pilihan tempat berbelanja, termasuk pada sektor ritel modern. Meskipun Alfamart dan Indomaret menawarkan produk serta layanan yang relatif serupa, sebagian konsumen tetap menunjukkan kecenderungan untuk memilih salah satu merek secara konsisten.
Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan tingkat loyalitas merek (brand loyalty) antara pelanggan Alfamart dan Indomaret dari perspektif psikologi konsumen. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap 50 responden yang terdiri atas 25 pelanggan Alfamart dan 25 pelanggan Indomaret. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang diadaptasi dari konsep brand loyalty Oliver (1999) dan dianalisis menggunakan statistik deskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelanggan Alfamart memiliki rata-rata skor loyalitas merek sebesar 49,04, lebih tinggi dibandingkan pelanggan Indomaret yang memperoleh rata-rata skor sebesar 46,68. Selain itu, pelanggan Alfamart menunjukkan tingkat jawaban yang lebih konsisten berdasarkan nilai simpangan baku yang lebih rendah. Temuan ini mengindikasikan bahwa pengalaman berbelanja, kepuasan, dan kepercayaan terhadap merek berkontribusi terhadap terbentuknya loyalitas pelanggan. Meskipun demikian, karena penelitian ini hanya menggunakan analisis statistik deskriptif, hasil yang diperoleh bersifat deskriptif dan belum dapat menjelaskan signifikansi perbedaan loyalitas antara kedua kelompok.
Penelitian ini memberikan gambaran mengenai pentingnya membangun hubungan jangka panjang dengan konsumen sebagai upaya mempertahankan loyalitas merek di tengah persaingan ritel pada era digital.
Kata kunci: Brand loyalty; Minimarket; Alfamart; Indomaret
Perang Minimarket di Era Digital: Benarkah Konsumen Masih Setia pada Satu Merek?
Pernah nggak, kamu berniat membeli satu botol air mineral, tetapi tanpa sadar justru melangkah ke minimarket yang “itu” lagi? Padahal, di seberangnya berdiri minimarket lain yang menjual produk hampir sama, dengan harga yang tidak jauh berbeda. Anehnya, banyak orang tetap memiliki pilihan favorit. Ada yang selalu memilih Alfamart, sementara yang lain merasa lebih nyaman berbelanja di Indomaret.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa keputusan konsumen tidak selalu didasarkan pada pertimbangan yang rasional, seperti harga atau lokasi toko. Dalam banyak situasi, pengalaman berbelanja, rasa nyaman, kepercayaan terhadap merek, hingga kebiasaan yang terbentuk dari waktu ke waktu turut memengaruhi keputusan seseorang dalam memilih tempat berbelanja. Akibatnya, dua minimarket yang menawarkan produk serupa tetap mampu mempertahankan kelompok pelanggan yang memiliki preferensi terhadap merek tertentu (Kotler & Keller, 2016).
Perubahan perilaku tersebut semakin terlihat seiring berkembangnya teknologi digital. Indonesia memiliki lebih dari 212 juta pengguna internet pada awal tahun 2025 dengan tingkat penetrasi internet mencapai 74,6% dari total populasi (DataReportal, 2025). Selain itu, media digital kini tidak hanya digunakan untuk berkomunikasi, tetapi juga untuk mencari informasi produk, membandingkan harga, membaca ulasan, hingga menemukan merek yang sesuai dengan kebutuhan konsumen.
Laporan Digital 2025 juga menunjukkan bahwa media sosial semakin berperan sebagai sarana utama bagi konsumen untuk menemukan dan mengenal berbagai merek, sementara aktivitas belanja digital terus berkembang seiring meningkatnya penggunaan teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi ini menunjukkan bahwa proses pengambilan keputusan konsumen menjadi semakin kompleks karena dipengaruhi oleh berbagai sumber informasi yang dapat diakses dengan mudah.
Di tengah perubahan tersebut, mempertahankan pelanggan menjadi tantangan yang semakin besar bagi perusahaan ritel. Konsumen kini dapat dengan mudah membandingkan berbagai alternatif sebelum memutuskan untuk membeli suatu produk. Namun, menariknya, tidak sedikit konsumen yang tetap memilih merek yang sama meskipun tersedia banyak pilihan lain. Fenomena inilah yang menjadi perhatian dalam psikologi konsumen karena menunjukkan bahwa keputusan pembelian tidak hanya dipengaruhi oleh faktor ekonomi, tetapi juga oleh hubungan psikologis yang berkembang antara konsumen dan merek (Oliver, 1999).
Melalui survei terhadap pelanggan Alfamart dan Indomaret, artikel ini membahas bagaimana loyalitas merek terbentuk di tengah persaingan ritel yang semakin kompetitif serta melihat bagaimana kecenderungan loyalitas pelanggan terhadap kedua minimarket tersebut. Dengan memahami proses tersebut, artikel ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai pentingnya membangun hubungan jangka panjang dengan konsumen di era digital.
Selain pengalaman berbelanja, kepercayaan terhadap merek juga memiliki peran penting dalam membangun loyalitas pelanggan. Di era digital, konsumen dihadapkan pada beragam pilihan serta informasi yang mudah diakses, sehingga mereka cenderung memilih merek yang mampu memberikan kualitas secara konsisten dan menciptakan rasa aman dalam setiap interaksi. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa brand trust menjadi mekanisme psikologis yang memperkuat hubungan antara berbagai aktivitas pemasaran digital dengan perilaku konsumen, termasuk keputusan untuk tetap menggunakan suatu merek.
Loyalitas Merek di Tengah Persaingan Era Digital
Persaingan antara Alfamart dan Indomaret saat ini tidak lagi hanya ditentukan oleh jumlah gerai, harga produk, atau besarnya promosi yang ditawarkan. Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara konsumen mencari informasi, membandingkan berbagai alternatif, hingga menentukan tempat berbelanja. Konsumen kini dapat dengan mudah mengakses ulasan, rekomendasi, serta pengalaman pelanggan lain melalui berbagai platform digital sebelum memutuskan untuk melakukan pembelian. Kondisi tersebut membuat perusahaan ritel tidak hanya dituntut mampu menarik perhatian konsumen, tetapi juga mempertahankan mereka agar tetap memilih merek yang sama dalam jangka panjang (Kotler & Keller, 2016).
Dalam kondisi tersebut, loyalitas merek (brand loyalty) menjadi salah satu aset yang paling penting bagi perusahaan. Menurut Aaker (1991), loyalitas merek merupakan salah satu dimensi utama brand equity karena pelanggan yang loyal cenderung melakukan pembelian ulang, tidak mudah beralih ke merek pesaing, serta memberikan nilai jangka panjang bagi perusahaan. Dengan demikian, keberhasilan sebuah merek tidak hanya diukur dari kemampuannya memperoleh pelanggan baru, tetapi juga dari kemampuannya mempertahankan hubungan yang berkelanjutan dengan pelanggan yang sudah dimiliki.
Meskipun konsep loyalitas merek telah lama menjadi perhatian dalam kajian pemasaran, perkembangan teknologi digital membuat faktor-faktor yang membentuk loyalitas pelanggan menjadi semakin kompleks. Penelitian Ayesha dan Muchtar (2025) menunjukkan bahwa customer experience, brand trust, dan perceived value merupakan faktor-faktor yang berperan penting dalam membentuk customer loyalty di era digital. Temuan tersebut menunjukkan bahwa loyalitas pelanggan tidak lagi hanya dipengaruhi oleh kualitas produk atau harga yang kompetitif, tetapi juga oleh kualitas pengalaman yang dirasakan konsumen selama berinteraksi dengan suatu merek.
Temuan tersebut diperkuat oleh penelitian Astutik dan Purwanto (2024) yang menemukan bahwa brand experience, brand trust, dan perceived value berpengaruh positif terhadap brand loyalty. Artinya, pengalaman berbelanja yang positif tidak hanya meningkatkan kepuasan pelanggan, tetapi juga membangun kepercayaan terhadap merek sehingga mendorong konsumen untuk terus melakukan pembelian ulang. Dengan kata lain, semakin positif pengalaman yang dirasakan konsumen, semakin besar pula kemungkinan mereka untuk tetap setia pada merek yang digunakan.
Selain pengalaman berbelanja, kepercayaan terhadap merek juga memiliki peran penting dalam mempertahankan loyalitas pelanggan, terutama di era digital yang dipenuhi oleh berbagai pilihan dan arus informasi. Penelitian Aulia dan Andjarwati (2026) menjelaskan bahwa brand trust menjadi mekanisme psikologis yang memperkuat hubungan antara aktivitas pemasaran digital dengan perilaku konsumen. Ketika konsumen merasa yakin bahwa suatu merek mampu memberikan kualitas dan pengalaman yang konsisten, mereka akan lebih percaya diri untuk tetap memilih merek tersebut dibandingkan mencoba alternatif lain.
Berdasarkan berbagai temuan tersebut, loyalitas merek tidak lagi dipahami sekadar sebagai perilaku membeli secara berulang, melainkan sebagai hasil dari hubungan jangka panjang yang dibangun melalui pengalaman positif, kepuasan, dan kepercayaan terhadap merek. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan perusahaan ritel tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menawarkan produk atau harga yang kompetitif, tetapi juga oleh kemampuannya menciptakan pengalaman berbelanja yang konsisten serta membangun hubungan yang kuat dengan konsumennya. Oleh karena itu, memahami bagaimana loyalitas tersebut terbentuk menjadi penting untuk menjelaskan mengapa sebagian konsumen tetap memilih Alfamart maupun Indomaret meskipun keduanya menawarkan produk dan layanan yang relatif serupa. Proses terbentuknya loyalitas tersebut akan dibahas pada bagian berikutnya.
Mengapa Konsumen Bisa Tetap Setia?
Pernahkah kamu bertanya, mengapa seseorang selalu memilih minimarket yang sama, padahal ada banyak alternatif yang menawarkan produk serupa? Dalam psikologi konsumen, keputusan tersebut tidak terjadi secara kebetulan. Oliver (1999) menjelaskan bahwa loyalitas terhadap suatu merek berkembang melalui serangkaian pengalaman yang dialami konsumen, mulai dari mengenal suatu merek hingga akhirnya menjadikannya sebagai pilihan utama dalam kehidupan sehari-hari.
Tahap Awal: Keputusan Rasional
Proses tersebut umumnya diawali ketika konsumen memilih suatu merek berdasarkan pertimbangan yang rasional, seperti lokasi yang mudah dijangkau, harga yang sesuai, kelengkapan produk, atau promosi yang menarik. Namun, keputusan awal itu belum dapat dikatakan sebagai bentuk loyalitas. Konsumen masih terbuka untuk mencoba merek lain apabila menemukan penawaran yang dianggap lebih menguntungkan.
Pengalaman Positif Membangun Kepuasan
Seiring berjalannya waktu, pengalaman berbelanja mulai membentuk persepsi konsumen terhadap suatu merek. Ketika pelayanan yang diberikan ramah, produk yang dicari selalu tersedia, proses pembayaran berjalan lancar, dan pengalaman berbelanja terasa menyenangkan, konsumen akan mengevaluasi bahwa merek tersebut mampu memenuhi harapan mereka. Kotler dan Keller (2016) menjelaskan bahwa kepuasan yang dirasakan setelah menggunakan suatu produk atau layanan akan meningkatkan kemungkinan konsumen untuk melakukan pembelian ulang.
Kepercayaan terhadap Merek Memperkuat Loyalitas
Pengalaman positif yang terjadi secara konsisten kemudian berkembang menjadi rasa percaya terhadap merek. Konsumen tidak lagi memilih suatu minimarket semata-mata karena harga atau promosi, tetapi karena mereka merasa yakin bahwa merek tersebut mampu memberikan pengalaman yang sesuai dengan harapan. Chaudhuri dan Holbrook (2001) menjelaskan bahwa kepercayaan terhadap merek menjadi salah satu faktor yang memperkuat loyalitas karena konsumen merasa lebih nyaman dan memiliki keyakinan terhadap kualitas yang diberikan.
Loyalitas sebagai Kebiasaan Konsumen
Ketika pengalaman positif terus berulang, keputusan membeli perlahan berubah menjadi sebuah kebiasaan. Konsumen tidak lagi membandingkan setiap pilihan secara mendetail karena telah memiliki keyakinan terhadap merek yang biasa mereka pilih. Bahkan ketika muncul berbagai promosi atau penawaran dari pesaing, mereka tetap cenderung kembali pada merek yang telah dipercaya. Kondisi inilah yang menggambarkan bagaimana loyalitas merek terbentuk, bukan sebagai keputusan sesaat, melainkan sebagai hasil dari pengalaman positif yang berlangsung secara konsisten (Oliver, 1999).
Lebih jauh lagi, keengganan konsumen untuk beralih ke minimarket pesaing—meskipun menawarkan produk dan harga yang serupa—juga dapat dijelaskan melalui konsep hambatan berpindah (switching costs) dan bias komitmen(commitment bias). Kembau dkk. (2025), dalam kajiannya mengenai perilaku konsumen di Indonesia, menemukan bahwa tingginya biaya psikologis, seperti keengganan untuk merelakan kenyamanan yang sudah ada atau mempelajari sistem baru, secara signifikan memperkuat loyalitas pelanggan. Dalam lanskap ritel modern, hambatan psikologis ini muncul ketika konsumen merasa enggan untuk beradaptasi dengan tata letak toko yang baru, skema poin keanggotaan yang berbeda, atau bahkan suasana interaksi kasir yang belum familier. Akibatnya, bias komitmen tersebut mengunci kesetiaan konsumen, mendorong mereka untuk tetap memilih merek yang sama—baik itu Alfamart maupun Indomaret—sebagai bentuk justifikasi atas rasa aman dan kenyamanan yang telah terbangun.
Proses tersebut menunjukkan bahwa loyalitas merek bukan hanya berkaitan dengan aktivitas membeli secara berulang, tetapi juga mencerminkan hubungan psikologis yang berkembang antara konsumen dan merek. Semakin positif pengalaman yang dirasakan, semakin besar pula kemungkinan konsumen untuk mempertahankan pilihannya. Berdasarkan pemahaman tersebut, penelitian ini kemudian berupaya melihat bagaimana tingkat loyalitas pelanggan Alfamart dan Indomaret melalui hasil survei yang telah dilakukan.
Metode
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei untuk menggambarkan tingkat loyalitas merek pada pelanggan Alfamart dan Indomaret.
Responden Penelitian
Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner secara daring kepada 50 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling (Asrulla et al., 2023). Responden merupakan konsumen yang pernah berbelanja di Alfamart maupun Indomaret, dengan masing-masing kelompok terdiri atas 25 pelanggan Alfamart dan 25 pelanggan Indomaret.
Instrumen dan Analisis Data
Instrumen penelitian menggunakan 12 butir pernyataan yang diadaptasi dari konsep brand loyalty yang dikembangkan oleh Oliver (1999). Seluruh pernyataan diukur menggunakan skala Likert lima poin, mulai dari 1 (sangat tidak setuju) hingga 5 (sangat setuju). Skor yang diperoleh kemudian dijumlahkan untuk menggambarkan tingkat loyalitas merek masing-masing responden.
Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif yang meliputi nilai rata-rata (mean), simpangan baku (standard deviation), nilai minimum, dan maksimum. Hasil analisis tersebut digunakan untuk membandingkan kecenderungan loyalitas merek pada pelanggan Alfamart dan Indomaret serta memberikan gambaran mengenai perilaku konsumen dalam memilih dan mempertahankan merek minimarket di era digital.
Hasil
Tabel 1. Hasil Uji Statistik Deskriptif
| N | Mean | SD | SE | Min | Max | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| Alfamart | 25 | 49.04 | 5.99 | 0.90 | 40 | 60 |
| Indomaret | 25 | 46.68 | 6.59 | 0.90 | 40 | 60 |
Karakteristik Responden
Penelitian ini melibatkan 50 responden yang terdiri atas 25 pelanggan Alfamart dan 25 pelanggan Indomaret. Berdasarkan karakteristik responden, sebanyak 28 responden (56%) berjenis kelamin laki-laki, sedangkan 22 responden (44%) berjenis kelamin perempuan. Rata-rata usia responden berada pada rentang dewasa awal, yaitu sekitar 22 tahun. Karakteristik tersebut menunjukkan bahwa penelitian ini didominasi oleh kelompok usia yang aktif menggunakan teknologi digital dan memiliki mobilitas tinggi dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Hasil Analisis Statistik Deskriptif
Selanjutnya, tingkat loyalitas merek dianalisis menggunakan statistik deskriptif. Hasil analisis menunjukkan bahwa pelanggan Alfamart memperoleh rata-rata skor loyalitas sebesar 49,04 dengan simpangan baku (SD) sebesar 5,99. Sementara itu, pelanggan Indomaret memperoleh rata-rata skor loyalitas sebesar 46,68 dengan simpangan baku (SD) sebesar 6,59. Pada kedua kelompok, skor loyalitas berada pada rentang 40 hingga 60, yang menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat loyalitas yang relatif baik terhadap minimarket yang mereka pilih.
Secara deskriptif, rata-rata skor loyalitas pelanggan Alfamart sedikit lebih tinggi dibandingkan pelanggan Indomaret, dengan selisih sekitar 2,36 poin. Meskipun demikian, kedua kelompok sama-sama menunjukkan kecenderungan untuk tetap melakukan pembelian pada minimarket yang menjadi pilihannya. Selain itu, nilai simpangan baku pada kelompok pelanggan Indomaret sedikit lebih besar dibandingkan pelanggan Alfamart. Hal ini mengindikasikan bahwa tingkat loyalitas pelanggan Indomaret lebih bervariasi, sedangkan loyalitas pelanggan Alfamart cenderung lebih konsisten dalam sampel penelitian ini.
Selanjutnya, kedua kelompok memiliki nilai minimum yang sama, yaitu 40, dan nilai maksimum sebesar 60, sehingga masing-masing memiliki rentang skor (range) sebesar 20. Hal ini menunjukkan bahwa batas skor terendah dan tertinggi pada kedua kelompok adalah sama.
Berdasarkan nilai skewness, kelompok Alfamart memiliki nilai 0,302, sedangkan kelompok Indomaret memiliki nilai 1,061. Nilai tersebut menunjukkan bahwa distribusi data pada kedua kelompok cenderung sedikit miring ke arah kanan, namun masih berada dalam batas yang dapat diterima. Sementara itu, nilai kurtosis pada Alfamart sebesar -0,950 dan pada Indomaret sebesar -0,266, yang menunjukkan bahwa distribusi data pada kedua kelompok relatif lebih datar dibandingkan distribusi normal.
Secara keseluruhan, hasil statistik deskriptif menunjukkan bahwa responden Alfamart memiliki rata-rata brand loyaltyyang lebih tinggi dibandingkan responden Indomaret. Selain itu, jawaban responden pada kelompok Alfamart juga lebih konsisten karena memiliki nilai standar deviasi yang lebih kecil dibandingkan kelompok Indomaret.
Pembahasan
Perbandingan Tingkat Loyalitas Pelanggan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelanggan Alfamart memiliki rata-rata skor brand loyalty yang sedikit lebih tinggi dibandingkan pelanggan Indomaret. Meskipun selisih rata-ratanya tidak terlalu besar, temuan ini memberikan gambaran bahwa pelanggan Alfamart dalam penelitian ini cenderung memiliki kecenderungan yang lebih kuat untuk tetap memilih merek yang sama ketika berbelanja. Selain itu, nilai standar deviasi yang lebih rendah pada kelompok Alfamart menunjukkan bahwa tingkat loyalitas responden relatif lebih konsisten dibandingkan pelanggan Indomaret. Temuan ini mengindikasikan bahwa loyalitas pelanggan tidak hanya ditentukan oleh frekuensi pembelian, tetapi juga oleh pengalaman positif yang diperoleh secara berulang selama berinteraksi dengan suatu merek.
Kesesuaian dengan Teori Brand Loyalty
Temuan tersebut sejalan dengan teori brand loyalty yang dikemukakan oleh Oliver (1999), yang menjelaskan bahwa loyalitas berkembang melalui proses bertahap, dimulai dari pengalaman positif hingga akhirnya menjadi komitmen untuk terus menggunakan suatu merek. Dalam konteks penelitian ini, pelanggan yang secara konsisten memperoleh pengalaman berbelanja yang memuaskan, seperti kemudahan memperoleh produk, kenyamanan berbelanja, maupun pelayanan yang baik, cenderung memiliki keinginan yang lebih besar untuk kembali berbelanja pada minimarket yang sama. Dengan demikian, loyalitas tidak muncul secara instan, melainkan terbentuk melalui akumulasi pengalaman yang berlangsung secara konsisten.
Dukungan Penelitian Terdahulu
Hasil penelitian ini juga didukung oleh penelitian Ayesha dan Muchtar (2025) yang menunjukkan bahwa customer experience, brand trust, dan perceived value merupakan faktor-faktor yang berperan penting dalam membentuk customer loyalty di era digital. Konsumen yang memperoleh pengalaman berbelanja yang positif akan lebih mudah membangun kepercayaan terhadap suatu merek sehingga memiliki kecenderungan untuk melakukan pembelian ulang. Dalam konteks Alfamart dan Indomaret, meskipun keduanya menawarkan produk dan layanan yang relatif serupa, perbedaan pengalaman yang dirasakan konsumen dapat memengaruhi tingkat loyalitas yang terbentuk.
Temuan tersebut juga sejalan dengan penelitian Astutik dan Purwanto (2024) yang menemukan bahwa brand experience, brand trust, dan perceived value berpengaruh positif terhadap brand loyalty. Hal ini menunjukkan bahwa loyalitas pelanggan tidak hanya dipengaruhi oleh faktor fungsional seperti harga atau lokasi gerai, tetapi juga oleh bagaimana konsumen memaknai setiap pengalaman selama berinteraksi dengan merek. Pengalaman yang konsisten dan menyenangkan akan memperkuat kepercayaan pelanggan sehingga mereka lebih cenderung mempertahankan pilihannya terhadap suatu merek dibandingkan beralih ke merek lain.
Keterbatasan Penelitian
Meskipun demikian, penelitian ini memiliki keterbatasan karena hanya menggunakan analisis statistik deskriptif dengan jumlah responden yang relatif terbatas, sehingga hasil penelitian belum dapat menjelaskan apakah perbedaan loyalitas antara pelanggan Alfamart dan Indomaret signifikan secara statistik. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya dapat menggunakan jumlah responden yang lebih besar serta analisis inferensial, seperti uji beda atau analisis regresi, agar faktor-faktor yang memengaruhi loyalitas merek dapat dijelaskan secara lebih mendalam.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif terhadap 50 responden, yang terdiri atas 25 pelanggan Alfamart dan 25 pelanggan Indomaret, diperoleh gambaran bahwa tingkat brand loyalty pelanggan Alfamart cenderung lebih tinggi dibandingkan pelanggan Indomaret. Hal tersebut terlihat dari nilai rata-rata (mean) brand loyalty pelanggan Alfamart sebesar 49,04, sedangkan pelanggan Indomaret sebesar 46,68. Selain itu, nilai standar deviasi pada kelompok Alfamart lebih kecil dibandingkan Indomaret, yang menunjukkan bahwa jawaban responden pada kelompok Alfamart relatif lebih konsisten.
Secara umum, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelanggan Alfamart memiliki kecenderungan loyalitas merek yang lebih tinggi daripada pelanggan Indomaret. Temuan ini mengindikasikan bahwa pengalaman berbelanja, kepuasan, serta kebiasaan dalam memilih minimarket dapat berkontribusi terhadap terbentuknya loyalitas merek, sebagaimana dijelaskan dalam teori Brand Loyalty oleh Oliver (1999). Namun, karena penelitian ini hanya menggunakan analisis statistik deskriptif, hasil yang diperoleh hanya memberikan gambaran mengenai kecenderungan loyalitas merek pada kedua kelompok dan belum dapat digunakan untuk menyimpulkan apakah perbedaan tersebut signifikan secara statistik.
Daftar Pustaka
- Aaker, D. A. (1991). Managing Brand Equity: Capitalizing on the Value of a Brand Name. The Free Press.
- Asrulla, Risnita, Jailani, M. S., & Jeka, F. (2023). Populasi dan Sampling (Kuantitatif), Serta Pemilihan Informan Kunci (Kualitatif) dalam Pendekatan Praktis. Jurnal Pendidikan Tambusai, 7(3), 26320–26332.
- Astutik, R. D., & Purwanto, S. (2024). The influence of brand experience, brand trust, and perceived value on brand loyalty of Maybelline products in Surabaya. East Asian Journal of Multidisciplinary Research, 3(8), 3565–3576. https://doi.org/10.55927/eajmr.v3i8.10568
- Aulia, T. R., & Andjarwati, A. L. (2026). Social media marketing, e-WOM, and purchase decisions: The mediating role of brand trust. Harmoni Economics: International Journal of Economics and Accounting, 3(1). https://doi.org/10.70062/harmonieconomics.v3i1.456
- Ayesha, S., & Muchtar, M. (2025). Pengaruh customer experience, brand trust, dan perceived value dalam menciptakan customer loyalty di era digital pada e-commerce Shopee. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi, 8(2).
- Chaudhuri, A., & Holbrook, M. B. (2001). The chain of effects from brand trust and brand affect to brand performance: The role of brand loyalty. Journal of Marketing, 65(2), 81–93. https://doi.org/10.1509/jmkg.65.2.81.18255
- DataReportal. (2025). Digital 2025: Indonesia. https://datareportal.com/reports/digital-2025-indonesia
- Kembau, A. S., Mandey, N. H. J., Tampinongkol, F. F., & Makarawung, R. J. N. (2025). Why Do Indonesian Users Remain Loyal to Digital Subscriptions? Examining Endowment Effect, Commitment Bias, Hedonic Motivation, and Switching Costs. Asian Journal of Logistics Management, 4(1), 31–50. https://doi.org/10.14710/ajlm.2025.27028
- Kotler, P., & Keller, K. L. (2016). Marketing Management (15th Global ed.). Pearson.
- Oliver, R. L. (1999). Whence consumer loyalty? Journal of Marketing, 63(Special Issue), 33–44. https://doi.org/10.2307/1252099
Penulis:
1. Ibnu Rivan Saputra
2. Gilman Hasim Abdullah
3. Yudhistiro Bintang Pambudi
4. Wahid Akmal Arifin
5. Alvin Eryandra
Mahasiswa Program Studi Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA)
Dosen Pengampu: Alvin Eryandra
Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












