Petani Palasari Soroti Tantangan Pembibitan Desa di Forum SEMAI KKNT IPB University: ‘Kami Butuh Dukungan Konkret, Bukan Sekadar Program Seremonial!’

Pembibitan Desa Palasari
Suasana forum yang diselenggarakan oleh KKNT IPB 2025 Desa Palasari. Forum ini dihadiri oleh sejumlah petani setempat yang berharap kritikan mereka terhadap pemerintah bisa tersalurkan melalui pertemuan ini. (Foto: Dok. Penulis)

Bogor, MMI – Desa Palasari, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, kerap dikenal di kalangan pelaku hortikultura sebagai salah satu sentra pembibitan durian yang aktif. Dari desa inilah ribuan bibit durian diproduksi dan dipasarkan ke berbagai wilayah. Namun di balik aktivitas pembibitan yang terus berjalan, tersimpan persoalan mendasar yang selama ini jarang disorot: keterbatasan dukungan pemerintah terhadap sektor pembibitan di tingkat desa.

Persoalan itu mencuat dalam kegiatan Seminar dan Edukasi Bibit Unggul Tani (SEMAI) yang diselenggarakan oleh Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Institut Pertanian Bogor (IPB) University di Desa Palasari, Rabu (28/01/26). Kegiatan yang awalnya dirancang sebagai ruang edukasi teknis itu justru berkembang menjadi forum kritik dan refleksi atas kondisi pertanian desa.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Dalam diskusi yang berlangsung terbuka, para petani bibit tak hanya membahas persoalan teknis seperti sambung pucuk atau perawatan bibit. Namun, mereka juga sampaikan kegelisahan mereka atas minimnya perhatian pemerintah.

“Pembibitan di Desa Palasari selama ini berkembang secara mandiri, tanpa dukungan fasilitas yang memadai dari pemerintah,” ungkap salah seorang petani bibit dari Desa Palasari yang tak mau sebut nama.

Baca juga: Sosialisasi Pengolahan Biji Durian Jadi Tepung: Wujudkan Konsep Zero Waste untuk Keberlanjutan

Petani itu menilai kondisi ini kontras dengan potensi yang dimiliki desa. Palasari disebut sebagai salah satu pusat pembibitan terbesar di Bogor. Pengalaman dan jaringan pasarnya sudah terbentuk. Namun hingga kini, desa itu belum memiliki lahan khusus untuk pohon induk pembibitan. Pohon induk itu seharusnya jadi fondasi utama dalam menghasilkan bibit unggul yang berkualitas dan berkelanjutan.

Ketiadaan pohon induk berdampak langsung pada proses produksi bibit. Petani terpaksa mencari bahan tanam dari luar desa, yang tidak selalu terjamin kualitasnya. Selain meningkatkan biaya, kondisi ini juga menyulitkan petani dalam menjaga standar bibit yang dihasilkan. Dalam jangka panjang, hal itu berpotensi melemahkan daya saing pembibitan lokal yang sebenarnya memiliki potensi besar.

Kritik itu menyedot perhatian dalam forum SEMAI yang difasilitasi mahasiswa KKNT IPB University. Kegiatan yang menghadirkan narasumber dari Pusat Kajian Hortikultura Tropika IPB University, Kusuma Darma, S.P., M.Si. ini justru jadi panggung bagi petani untuk menyampaikan aspirasi mereka secara langsung. Keberanian petani inilah yang paling menonjol dalam acara itu.

Bagi mahasiswa, SEMAI jadi ruang belajar yang tak hanya membahas teknik pertanian, tapi juga membuka mata terhadap persoalan struktural di sektor agraria.

“Mahasiswa melihat bahwa persoalan pembibitan di desa tidak semata-mata disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan petani, melainkan juga oleh absennya kebijakan yang berpihak pada penguatan basis produksi di tingkat desa,” ujar salah seorang mahasiswa KKNT IPB University yang enggan menyebutkan namanya.

Baca juga: Menguak Potensi Bisnis Store Durian XYZ dengan BMC dan SWOT yang #NextLevel

Kritik pedas petani yang disampaikan dalam kegiatan ini memperlihatkan, pembangunan pertanian kerap berhenti pada tataran wacana saja. Sementara praktik di lapangan berjalan dengan keterbatasan.

Petani Palasari dinilai telah memiliki modal sosial, keterampilan, dan pengalaman. Namun tanpa dukungan nyata dari pemerintah, terutama dalam penyediaan lahan pohon induk dan pendampingan berkelanjutan, potensi itu berkembang hanya setengah jalan.

SEMAI juga menunjukkan peran mahasiswa sebagai jembatan antara masyarakat desa dan ruang diskursus yang lebih luas. Dengan membuka ruang dialog yang setara, mahasiswa KKNT IPB University tak hanya menjalankan program pengabdian, tapi juga memfasilitasi lahirnya kritik dari akar rumput.

“Kritik ini bukan ditujukan untuk menyalahkan, melainkan untuk mendorong perbaikan kebijakan,” lanjut mahasiswa itu.

Bagi petani, forum seperti SEMAI jadi salah satu ruang langka untuk menyuarakan aspirasi mereka. Selama ini, pembibitan di Desa Palasari berjalan berkat ketekunan dan pengalaman turun-temurun. Namun, peran signifikan pemerintah sangat mereka dambakan.

“Kami berharap pemerintah tak hanya hadir dalam bentuk program seremonial, melainkan melalui dukungan konkret yang menyentuh kebutuhan dasar pembibitan,” harap seorang petani bibit lainnya yang juga tak menyebutkan namanya.

Dari Desa Palasari, SEMAI menyingkap wajah asli pertanian Indonesia di tingkat desa: potensi besar yang terhambat keterbatasan. Kritik yang muncul dalam forum ini jadi pengingat, kemandirian para petani bukan alasan bagi negara untuk absen. Melainkan panggilan untuk memperkuat melalui kebijakan yang berpihak dan berkelanjutan.


Penulis: Peserta KKNT IPB 2025 Desa Palasari
Mahasiswa Institut Pertanian Bogor University


Editor: Nilam Indahsari

Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses