Kejadian, 12 Mei 2026, MMI – Pelaksanaan Lomba Cerdas Cermat (LCC) tingkat provinsi yang digelar kemarin menyisakan awan mendung bagi dunia pendidikan. Bukan karena kurangnya persiapan peserta, melainkan munculnya dugaan kuat mengenai ketidakadilan dan sikap “pilih kasih” dari dewan juri terhadap sekolah tertentu.
Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI Tahun 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat diikuti oleh sembilan peserta yang lolos dari 137 sekolah pada seleksi tingkat kabupaten/kota. Kesembilan sekolah tersebut adalah SMAN 1 Pontianak, SMAN 3 Singkawang, SMAN 1 Seponti, SMA Santo Paulus Pontianak, SMA Katolik Santo Paulus Pontianak, SMA Katolik Santo Petrus Pontianak, SMAN 1 Sambas, SMAN 1 Sanggau, MAS Darussalam Sengkubang, dan MAN 1 Sintang.
Kronologi Kejanggalan di Lapangan
Ketegangan mulai terasa saat memasuki babak semifinal. Beberapa pendamping siswa dan penonton mulai menyadari adanya pola yang dinilai tidak wajar dalam penilaian. Berikut beberapa poin yang menjadi sorotan.
Standar Ganda Pertanyaan
Juri dinilai memberikan toleransi jawaban yang sangat luas bagi sekolah yang dianggap “unggulan”, sementara sekolah lain langsung dianulir meskipun substansi jawabannya serupa.
Kecepatan Interupsi
Terdapat insiden ketika juri membiarkan salah satu tim menjawab sebelum bel berbunyi sepenuhnya. Namun, pada situasi yang sama, tim lain justru mendapat perlakuan berbeda dengan jawaban yang didiskualifikasi.
Interaksi Informal
Saksi mata melihat adanya interaksi yang dianggap terlalu akrab antara oknum juri dan pembimbing salah satu sekolah di luar jam perlombaan. Hal tersebut memicu spekulasi mengenai kemungkinan adanya konflik kepentingan.
Baca Juga: Distorsi Keadilan dan Malaetik Pedagogis: Refleksi Atas Final LCC Empat Pilar 2026
Kekecewaan Peserta dan Pendamping
Salah satu guru pembimbing yang enggan disebutkan namanya menyampaikan kekecewaannya.
“Anak-anak kami berlatih siang malam. Mereka tidak kalah secara kecerdasan, tetapi mereka ‘dikalahkan’ oleh keputusan yang tidak konsisten. Ini merusak mental juara mereka,” ujarnya dengan nada getir.
Ketidakpuasan tersebut sempat memicu aksi protes di meja panitia sesaat setelah pengumuman pemenang. Namun, tanggapan dari pihak penyelenggara dinilai normatif dan belum memberikan solusi nyata atas keberatan yang diajukan, baik secara lisan maupun tertulis.
Mengapa Integritas Juri Begitu Krusial?
Dalam lomba akademik seperti Cerdas Cermat, juri bukan sekadar penilai, melainkan simbol keadilan. Ketika juri menunjukkan keberpihakan, esensi perlombaan itu sendiri menjadi hilang.
Dampak Negatif Sikap Pilih Kasih
- Demotivasi siswa.
- Penurunan kredibilitas perlombaan.
- Citra buruk bagi instansi penyelenggara.
Penjelasan
- Siswa merasa usaha keras mereka tidak dihargai apabila hasil akhirnya dianggap telah “diatur”.
- Gelar juara yang diraih menjadi kurang membanggakan dan diragukan oleh publik.
- Penyelenggara tingkat provinsi akan dicap tidak profesional dalam mengelola kompetisi.
Baca Juga: Kontravensi Penilaian LCC: Ketika Keadilan Dipertaruhkan di Panggung Akademik
Update Terkini
Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR di Kalimantan Barat berbuntut panjang setelah muncul penilaian bahwa juri kurang adil dalam memberikan penilaian kepada tim dari SMAN 1 Pontianak. Oleh karena itu, MPR memutuskan untuk mengulang final Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar tersebut.
Kendati demikian, SMAN 1 Pontianak menolak mengikuti pengulangan Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar tingkat Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2026 yang diusulkan oleh MPR.
Sejak awal, SMAN 1 Pontianak menegaskan bahwa mereka tidak memiliki maksud untuk menganulir hasil lomba, melainkan menuntut kejelasan terkait hasil poin-poin yang dipersoalkan kepada pihak penyelenggara.
“SMAN 1 Pontianak memohon maaf atas kegaduhan yang terjadi, serta mengajak semua pihak untuk menyelesaikan permasalahan ini dengan semangat kebersamaan, saling menghargai, dan menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan,” katanya.
Langkah yang dilakukan juga tidak bermaksud untuk menyerang ataupun menjatuhkan kredibilitas lembaga, penyelenggara lomba, maupun individu tertentu.
Harapan ke Depan
Kejadian ini harus menjadi bahan evaluasi besar bagi Dinas Pendidikan dan penyelenggara terkait. Diperlukan sistem penilaian yang lebih transparan, misalnya melalui penggunaan panel juri lintas daerah (bukan lokal) serta sistem penilaian digital yang dapat dipantau langsung oleh penonton secara real-time.
Tanpa adanya transparansi dan integritas, panggung cerdas cermat hanya akan menjadi formalitas belaka, bukan lagi wadah untuk melahirkan generasi emas yang jujur dan berprestasi.
Penulis: Syava Arsih Karia
Mahasiswa Program Studi Akuntansi S1 Universitas Pamulang (Unpam)
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















