Sekarang rasanya politik ada di mana-mana. Buka TikTok muncul potongan debat. Buka Instagram ada sindiran politik. Masuk X atau Twitter malah isinya perang komentar yang tidak selesai-selesai. Anehnya, semakin sering politik muncul di media sosial, semakin banyak orang yang sebenarnya tidak benar-benar memahami apa yang sedang dibahas.
Fenomena ini paling terasa di kalangan anak muda, terutama mahasiswa. Banyak yang semangat membahas politik, tetapi pembahasannya sering berhenti di permukaan saja. Yang penting ikut ramai, ikut berkomentar, lalu merasa sudah menjadi generasi paling kritis. Padahal belum tentu memahami persoalan secara utuh.
Sekarang orang lebih cepat percaya potongan video dibanding membaca berita lengkap. Ada satu cuplikan pidato berdurasi satu menit langsung dijadikan bahan pertengkaran selama berhari-hari. Bahkan kadang isi komentarnya lebih emosional daripada masuk akal. Sedikit-sedikit disebut buzzer, sedikit-sedikit disebut penjilat, padahal belum tentu tahu fakta sebenarnya.
Hal seperti ini membuat politik berubah menjadi hiburan. Yang dicari bukan lagi solusi atau pembahasan kebijakan, melainkan konten yang paling viral. Tidak heran kalau banyak orang lebih hafal drama antarpolitikus dibanding isi program kerja mereka sendiri.
Sebagai mahasiswa, sebenarnya cukup sedih melihat kondisi seperti ini. Kampus yang dulu dikenal sebagai tempat lahirnya pemikiran kritis sekarang juga ikut terbawa suasana media sosial. Banyak diskusi politik yang akhirnya hanya menjadi ajang saling menyerang pendapat. Orang lebih suka menang debat daripada memahami sudut pandang orang lain.
Padahal politik bukan sekadar memilih siapa yang disukai dan siapa yang dibenci. Politik berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan, lapangan pekerjaan, bahkan kondisi jalan dan fasilitas umum semuanya dipengaruhi kebijakan politik. Sayangnya, topik-topik seperti itu justru kalah ramai dibanding drama yang dibuat di internet.
Baca juga: Dampak Polarisasi Politik terhadap Kehidupan Sosial Masyarakat
Anak muda sebenarnya punya pengaruh besar terhadap arah politik Indonesia. Jumlah pemilih muda terus meningkat dan suara mereka sangat diperhitungkan. Namun pengaruh itu akan sia-sia kalau hanya digunakan untuk ikut perang komentar di media sosial tanpa memahami masalah yang sebenarnya.
Menurut saya, media sosial memang membantu anak muda lebih peduli terhadap isu politik, tetapi di sisi lain juga membuat banyak orang terlalu mudah terprovokasi. Semua ingin terlihat paling benar, sementara kemampuan mendengar pendapat lain semakin berkurang. Akibatnya, politik terasa semakin panas, tetapi kualitas diskusinya justru menurun.
Mungkin sudah waktunya anak muda mulai mengubah cara melihat politik. Tidak semua hal harus dijadikan pertengkaran. Tidak semua perbedaan pendapat harus berakhir saling menghina. Politik seharusnya menjadi ruang untuk mencari solusi bersama, bukan tempat mencari musuh baru.
Kalau generasi muda terus terjebak dalam politik yang hanya mengejar viralitas, lama-lama kita akan lebih sibuk membahas sensasi dibanding memikirkan masa depan negara sendiri. Dan pada akhirnya, yang rugi bukan politisi, tetapi masyarakat juga.
Penulis: Richardo Reksi Ratag
Mahasiswa Pendidikan Komputer, Universitas Mulawarman
Dosen pengampu: Marwah Ulwatunnisa, M. Pd.
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














