Sering Doomscrolling? Hati-Hati, Bisa Memicu Kecanduan Belanja Online

Sering doomscrolling
Foto: Freepik

Semakin lama tenggelam dalam konten negatif di media sosial, semakin besar kemungkinan kamu tiba-tiba checkout barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

Kamu pasti pernah ngalamin ini. Niatnya buka TikTok atau Instagram cuma sebentar, tapi ujung-ujungnya malah sejam lebih scroll tanpa sadar.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Yang lebih parah, konten yang kamu konsumsi kebanyakan bikin gelisah, berita buruk, drama, hal-hal yang bikin overthinking.

Dan entah kenapa, setelah itu tangan kamu malah nyasar ke aplikasi belanja online.

Ternyata itu bukan kebetulan loh!

Fenomena scroll konten negatif tanpa bisa berhenti ini punya namanya sendiri dalam dunia psikologi, yaitu doomscrolling.

Empat mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA), yang terdiri dari Halimatus Sa’diyah, Fauziah Afriza Zahra, Nadhifah Zahidah, dan Salva Rabanni Putri, bahkan sudah meneliti fenomena ini secara ilmiah.

Hasilnya cukup mengejutkan, kebiasaan doomscrolling ternyata punya hubungan langsung dengan kecanduan belanja online, atau yang dikenal sebagai Online Shopping Addiction (OSA)

Emang Ada Hubungannya?

Sekilas, doomscrolling dan belanja online kelihatan kayak dua hal yang nggak nyambung.

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, ada benang merahnya.

Saat kamu scroll konten negatif terlalu lama, otak kamu merespons dengan kecemasan dan stres yang menumpuk.

Kondisi emosi yang nggak nyaman ini butuh “pelarian”.

Dan belanja online adalah pelarian yang paling mudah dijangkau, tinggal buka aplikasi, tap beberapa kali, dan ada sensasi puas yang langsung terasa saat checkout.

Sensasi inilah yang oleh para peneliti disebut sebagai euphoria, salah satu komponen utama kecanduan belanja online (Rose & Dhandayudham, 2014).

Masalahnya, kepuasan itu cuma sementara. Dan siklusnya terus berulang.

Ini sejalan dengan teori regulasi emosi yang menjelaskan bahwa ketika seseorang tidak punya cara yang sehat untuk mengelola emosi negatif, mereka cenderung mencari pelarian instan yang bersifat maladaptif, termasuk belanja online kompulsif (Elisabeth, 2025).

Jadi bukan berarti kamu lemah atau boros, tapi otak kamu memang sedang mencari cara tercepat untuk merasa lebih baik, dan belanja online kebetulan selalu ada di genggaman.

Siapa yang Paling Rentan?

Dalam penelitian ini, sebanyak 55 mahasiswa aktif berusia 18–25 tahun yang aktif menggunakan media sosial dan pernah belanja online dilibatkan sebagai responden.

Hasilnya? Mayoritas menggunakan Instagram (85,5%) dan TikTok (74,5%), dua platform yang algoritmanya memang dirancang untuk membuat kamu terus scroll.

Yang bikin situasinya makin tricky, kedua platform ini sekarang punya fitur belanja langsung. Instagram punya fitur Shop, TikTok punya TikTok Shop.

Jadi jarak antara “scroll konten bikin cemas” dan “checkout barang” itu tinggal beberapa tap saja.

Dari hasil analisis statistik, ditemukan hubungan yang kuat antara doomscrolling dan kecanduan belanja online, semakin intens seseorang melakukan doomscrolling, semakin tinggi pula kecenderungan mereka untuk belanja secara kompulsif.

Ini bukan kebetulan, ini pola yang terbukti secara ilmiah.

Kelompok usia mahasiswa juga berada di fase yang cukup rentan.

Penelitian sebelumnya menemukan bahwa kondisi psikologis yang rendah, termasuk kecemasan akibat paparan konten negatif, berkaitan erat dengan tingginya kecenderungan OSA pada dewasa awal (Malik & Palupi, 2024).

Di usia ini, kendali diri terhadap impuls belanja masih terus berkembang, sementara akses ke uang sudah mulai ada.

Kombinasi inilah yang bikin kelompok ini jadi sasaran paling empuk dari jebakan doomscrolling dan belanja impulsif.

Lalu Harus Gimana?

Artikel ini bukan untuk menghakimi kebiasaan scroll atau belanja online.

Tapi kalau kamu mulai sadar ada pola yang nggak sehat, beberapa hal ini bisa dicoba.

Pertama, kenali pemicunya. Kalau kamu ngerasa ingin belanja setelah lama scroll berita atau konten yang bikin gelisah, itu bisa jadi sinyal bahwa kamu sedang mencari pelarian dari emosi yang nggak nyaman, bukan karena kamu benar-benar butuh barang itu.

Sadar akan trigger ini adalah langkah pertama yang paling penting sebelum polanya makin susah diputus.

Kedua, jeda sebelum checkout. Tunggu 24 jam sebelum membeli sesuatu yang nggak direncanakan.

Sering kali, keinginan itu hilang sendiri setelah emosi mereda.

Kalau setelah 24 jam kamu masih mau beli, baru pertimbangkan lagi.

Ketiga, kurasi feed-mu. Unfollow atau mute akun yang sering bikin kamu cemas atau overthinking.

Apa yang kamu konsumsi secara digital berpengaruh langsung pada kondisi emosi kamu, dan kamu punya kendali penuh atas itu.

Keempat, cari pelarian yang lebih sehat. Olahraga, ngobrol sama teman, atau journaling bisa jadi alternatif yang jauh lebih adaptif dibanding belanja online.

Nggak harus sempurna, yang penting kamu punya opsi lain selain buka aplikasi belanja setiap kali emosi lagi nggak stabil.

Penutup

Konsumsi konten digital kita punya dampak nyata terhadap cara kita berperilaku, termasuk cara kita mengelola uang.

Di era di mana media sosial dan marketplace sudah menyatu dalam satu genggaman, kesadaran terhadap pola-pola ini bukan sekadar literasi digital, ini soal kesehatan mental dan finansial kita sehari-hari.

Jadi lain kali tangan kamu tiba-tiba gatal buka Shopee setelah sejam scroll berita negatif, mungkin bukan barangnya yang kamu butuhkan. Mungkin itu emosimu yang lagi minta dikelola.


Penulis:
1. Halimatus Sa’diyah
2. Fauziah Afriza Zahra
3. Nadhifah Zahidah
4. Salva Rabanni Putri
Mahasiswa Prodi Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka


Dosen Pengampu: Desi Ariyani, S.Psi., M.Si.


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Daftar Pustaka

  1. Malik, N. S. A. N., & Palupi, L. S. (2024). Hubungan psychological well-being dan online shopping addiction pada usia dewasa awal [Artikel ilmiah, Universitas Airlangga]. Repository Universitas Airlangga.
  2. Rose, S., & Dhandayudham, A. (2014). Towards an understanding of Internet-based problem shopping behaviour: The concept of online shopping addiction and its proposed predictors. Journal of Behavioral Addictions, 3(2), 83–89.
  3. Elisabeth, M. P. (2025). Reading the world through crisis: Doomscrolling narratives as a survival strategy. International Conference on Digital Social and Science, 02, 1186–1194.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses