Topeng Candu Agama

Jusuf Kalla
Ilustrasi Agama sebagai Topeng Kepentingan (Gambar: Dok. MMI)

Kerukunan beragama kembali mengalami guncangan dengan adanya pernyataan yang disampaikan oleh Jusuf Kalla.

Wakil Presiden ke-9 dan ke-11 ini, dalam sebuah ceramah di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, mengatakan bahwa konsep mati demi mempertahankan agama ada di dua agama yang sering terlibat konflik di Indonesia.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Agama Islam memang mengenal mati syahid yang dalam pemahaman dangkal sebagai kerelaan mati demi menegakkan syariat Islam bahkan bila harus membunuh banyak orang.

Sedangkan dalam Agama Kristen, JK menerjemahkan konsep yang sama dengan mati martir.

Pandangan inilah yang kemudian memicu beragam penolakan dari umat Kristiani.

Mati martir dalam bingkai kekristenan dipandang sebagai kematian demi mempertahankan iman.

Kematian ini merupakan pilihan terakhir bagi orang percaya yang imannya sedang ditawar.

Tidak pernah ada ajaran dalam kekristenan yang meminta para umat Kristen untuk mencari kematian secara martir.

Baca Juga:

Lalu bagian mana yang diterjemahkan oleh JK sebagai mati syahid ala kekristenan?

Pada beberapa konflik agama yang terjadi, diantaranya di Ambon, Poso, Halmahera, dan beberapa tempat lainnya, sering kali para keluarga korban secara sadar mengatakan bahwa anaknya telah mati martir.

Padahal, dalam pandangan JK, mereka mati bukan untuk mempertahankan iman, melainkan untuk membalaskan dendam satu dengan yang lainnya.

Namun, pernyataan tersebut sering digunakan sebagai bahasa pemulihan agar tidak larut dalam kesedihan.

Para korban konflik dan kerusuhan sesungguhnya tidak dapat digolongkan sebagai mati martir.

Namun, di balik polemik yang timbul karena pernyataan JK ini, terdapat hal yang harus dipahami.

Agama merupakan cara termudah untuk memecah persatuan di Indonesia.

Kehidupan beragama di Indonesia tergolong dangkal dan sumbu pendek atau mudah diadu domba.

Salah satu contohnya adalah melalui pernyataan JK yang memicu reaksi yang mengecam pernyataan JK tanpa menelisik terlebih dahulu makna ucapan dari JK tersebut.

Ceramah JK, secara penuh, ingin mengatakan bahwa kehidupan beragama di Indonesia sangat rentan dan mudah diprovokasi.

Bahkan ada anggapan mati dalam perang atau konflik beragama akan diganjar dengan surga.

JK menolak pandangan ini karena tidak ada orang yang membunuh kemudian akan dapat surga. 

Untuk memahami pernyataan JK ini mari kita telusuri lebih jauh kehidupan beragama di Indonesia.

Konflik berdarah di Ambon, misalnya, bermula karena adanya perselisihan antara dua orang yang ketepatan tidak seagama.

Perasaan tidak dihargai memicu konflik yang kemudian bermuara pada masalah agama.

Indonesia, pada beberapa survei, memang digolongkan sebagai negara yang religius dengan tingkat religiusitas yang tinggi.

Selain karena sistem negara yang mewajibkan warganya untuk memeluk salah satu agama yang diakui, kehidupan beragama di Indonesia juga masih tergolong baik.

Pelaksanaan kewajiban beragama masih dijalani dengan baik.

Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan beragama memang masih memiliki nilai yang sangat tinggi di tengah masyarakat.

Selain itu, tingkat religiusitas ini dapat terlihat pada banyak aspek.

Salah satunya adalah politik identitas yang banyak terjadi.

Politik identitas seakan telah menjadi realitas kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Terlebih adanya pandangan atau frasa “saudara seiman” yang hampir terjadi di seluruh agama di Indonesia.

Hal ini tidak hanya terjadi pada agama tertentu saja.

Pengkotakan berdasarkan agama bukan lagi hal yang sulit ditemukan, meskipun terdapat banyak gerakan-gerakan yang mendukung kesatuan dan keutuhan suatu bangsa.

Namun, sikap militan terhadap agama ini tidak dapat dihindarkan.

Hampir semua konflik agama di Indonesia tidak dimulai dengan adu mengenai agama, melainkan masalah sosial yang menjadi besar karena digeser ke dalam masalah agama.

Contohnya adalah konflik di Ambon yang sama sekali tidak bermotif agama di awal konflik.

Namun, konflik tak terhindarkan ketika agama ikut ditarik ke dalam konflik.

Akhirnya, kota yang awalnya damai dalam keragaman menjadi terbelah.

Pertunjukan kebanggan terhadap agama juga banyak ditemukan di dunia maya.

Tak jarang bahkan terjadi perdebatan yang dapat digolongkan sebagai ujaran kebencian pada komentar setiap postingan berbau keagamaan.

Kecintaan terhadap agama menjadi prinsip utama, sehingga kepedulian terhadap sesama seakan sirna.

Pengkotakan yang terjadi seakan menjadi batas logis manusia, sehingga manusia lain yang berada di kotak berbeda bukanlah manusia.

Puncaknya adalah konflik yang menimpa Ahok.

Berjilid-jilid gerakan terjadi hanya untuk menuntut Ahok yang didakwa menista agama.

Konflik seakan tak berujung karena dari agama lain, Agama Kristen, memberikan pembelaan yang militan.

Tujuannya hanyalah membela Ahok tanpa peduli akan adanya perpecahan yang membahayakan.

Konflik ini menjadi puncak pertemuan politik identitas dengan agama, karena politik identitas ini menjadi strategi politik yang efektif.

Dengan demikian, pernyataan Jusuf Kalla tidak boleh sepenuhnya dipandang sebagai kesalahan secara mutlak.

Meskipun muatan dari pernyataan mengandung banyak persepsi yang tidak sesuai.

Pernyataan yang terlontar dalam ceramah tersebut seharusnya menjadi refleksi setiap orang beragama.

Apakah kehidupan beragama yang kita jalani hanya bersifat ritual saja?

Agama tidak hanya mengenai ritual dan kebanggan, tetapi panduan untuk hidup bersama komunitas atau manusia lain.

Kebanggan akan agama yang berpotensi menimbulkan konflik harus dikesampingkan karena pada dasarnya agama ada bukan untuk memeroleh keselamatan.

Agama tidak hadir sebagai tolok ukur kebenaran, melainkan untuk memastikan bahwa kehidupan dapat saling menjaga dengan rukun.


Penulis: Novian Satrio Simarmata
Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses