Ujaran Kebencian di Media Sosial Berdampak bagi Kesehatan Mental Mahasiswa

pengertian ujaran kebencian
Ujaran Kebencian di Media Sosial Berdampak bagi Kesehatan Mental Mahasiswa. Sumber: Penulis.

Hasil Survei Mahasiswa Menunjukkan Pentingnya Empati dalam Menghadapi Ujaran Kebencian di Media Sosial

Media sosial merupakan bagian kehidupan yang tidak dapat dipisahkan dari mahasiswa dalam kehidupan sehari hari. Perkembangan platform yang cukup pesat ini memiliki berbagai fungsional dalam penggunaannya seperti berkomunikasi, berpartisipasi dan membangun hubungan sosial dengan individu lain.

Meskipun banyak dampak positif yang dihasilkan dari media sosial, terdapat juga permasalahan yang utama di kalangan mahasiswa yakni ujaran kebencian.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Menurut hukum ujaran kebencian merupakan komunikasi baik bentuk verbal, perilaku maupun pertunjukan yang dapat menimbulkan tindakan kekerasan dari pihak pelaku maupun korban.

Adapun menurut Alexander Brown (dalam Royani, 2018) ujaran kebencian diartikan sebagai ujaran dengan kehendak ilegal atau ujaran dengan kehendak berdampak pada emosional. Maraknya ujaran kebencian dapat kita jumpai pada media sosial seperti Twitter, Youtube, Facebook, dan Instagram.

Berdasarkan Surat Edaran Kepala Polri Nomor 06/X/2015, ujaran kebencian termasuk dalam tindakan pidana yang diatur dalam KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) maupun ketentuan pidana luar KUHP.

Bentuk dari ujaran kebencian merupakan penghinaan, pencemaran nama baik, penistaan, tingkah laku yang tidak menyenangkan, memprovokasi, menghasut, dan menyebarkan berita palsu.

Permasalahan ini cukup mendapat perhatian yang khusus karena dampak yang diterima oleh korban tidak hanya menyerang verbal individu tersebut melainkan juga berdampak terhadap kesehatan mental korban.

Berdasarkan hasil kuisioner yang ditujukan kepada mahasiswa Universitas Andalas, mayoritas responden pada kuesioner menyadari bahwasannya ujaran kebencian dalam bentuk apapun akan memberikan dampak negatif terhadap psikologis korban ujaran kebencian.

Berbagai macam bentuk ujaran kebencian sering kita temui saat ini di media sosial seperti penghinaan, ejekan, body shaming, fitnah hingga ujaran provokasi yang termasuk di dalam kategori ujaran kebencian.

Bagi kita pengguna media sosial hal tersebut merupakan candaan biasa akan tetapi bagi korban ujaran kebencian sendiri menjadi tekanan emosional yang terjadi pada individu korban.

Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya ujaran kebencian seperti rendahnya rasa empati, rasa dendam, ketidak puasan diri, pengaruh teman yang mendorong norma negatif, serta kurangnya sosialisasi tentang etika digital.

Baca Juga: Etika Komunikasi di Media Sosial

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan menyatakan sebagian besar responden pernah melihat secara tidak langsung maupun secara langsung fenomena ujaran kebencian di media sosial. Dalam survei menunjukkan ujaran kebencian ini menjadi permasalahan yang cukup serius di lingkungan mahasiswa.

Walaupun permasalahan yang timbul cukup banyak mayoritas responden juga selalu berhati-hati dalam melakukan tindakan di media sosial serta mengetahui langkah dan tindakan yang mereka lakukan supaya tidak melakukan ujaran kebencian tersebut.

Di tengah fenomena ini pentingnya empati menjadi solusi dalam menengahi permasalahan ini dan penting untuk dibangun di lingkungan kampus.

Sikap empati sangat perlu dibangun di lingkungan kampus dengan menjadi pendengar, memberikan semangat serta membantu korban dapat memberikan ruang aman sehingga mengurangi permasalahan psikologis yang dihadapi oleh korban.

Selain dari itu tindakan nyata juga harus ditunjukan oleh mahasiswa dalam penanganan kasus tersebut seperti melaporkan akun penyebar ujaran kebencian serta memberikan edukasi terhadap seluruh elemen kampus agar tidak memberikan ruang sedikit pun terhadap ujaran kebencian ini sendiri.

Sebagai generasi muda yang aktif dalam menggunakan media sosial, mahasiswa harus memiliki kesadaran dalam menggunakan media sosial secara bijak dan bertanggung jawab. Kita dapat mengatasi hal ini dengan meningkatkan literasi digital, dan menghargai perbedaan pendapat di ruang digital.

Mahasiswa juga harus lebih berhati- hati dalam menyebarkan sebuah informasi, serta tidak mudah terprovokasi oleh konten yang mengandung kebencian.

Bukan hanya mahasiswa, kampus juga memiliki peran penting dalam mengatasi permasalahan ini. Memberikan edukasi mengenai beretika merupakan salah satu langkah yang harus diberikan sebagai bekal berkelanjutan bagi mahasiswa.

Tidak hanya itu memberikan konseling seperti peran Satgas dalam memberikan kampanye anti ujaran kebencian dan serta menindak tegas pelaku ujaran kebencian menjadi langkah untuk menekankan kasus ujaran kebencian di dalam lingkungan kampus.

Pada akhirnya, ujaran kebencian bukan hanya persoalan kata-kata yang terjadi di media sosial melainkan memberikan dampaknya terhadap kesehatan mental, kehidupan sosial, bahkan masa depan seseorang.

Baca Juga: Berani Bersikap Baik, Stop Hate Speech! Pancasila sebagai Tameng Moral Gen Z Menghadapi Racun Cyberbullying di Media Sosial

Oleh karena itu, peran mahasiswa sebagai generasi muda perlu lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan membangun budaya komunikasi yang saling menghargai.

Dengan peran dari mahasiswa dan kampus budaya positif dan memiliki empati saling terbangun secara baik untuk kedepannya sehingga media sosial menjadi ruang dalam berbagi informasi dan menciptakan hubungan baik, bukan menjadi tempat untuk mempengaruhi kesehatan mental orang lain.


Penulis:
1. Siti Zahra (2510533026)
2. Ananda Salsabila Mukhta (2510533042)
3. Nadia Sabrina Syarkani (2510533044)
4. Kirana Atsila Kahla (2510533060)
5. Muhammad Rizqi Farhan (2510533062)
6. Vioniska Triana Kamri (2510581001)
Mahasiswa Mata Kuliah Bahasa Indonesia Universitas Andalas (UNAND)


Dosen Pengampu: Prof. Dr. Dra Nadra, M.S.


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses