Ringkasan Hasil Analisa
Kebijakan tanggap darurat Semeru diubah menggunakan nilai Pancasila agar lebih humanis, sehingga bisa mengatasi penolakan warga, melindungi ekonomi mereka, serta membangun desa yang mandiri dan tangguh bencana.
Latar Belakang
Rentetan erupsi dan aliran lahar dingin Gunung Semeru pada periode April hingga Mei 2026 menunjukkan bahwa tantangan terbesar dalam mitigasi bencana di Indonesia saat ini tidak lagi sekadar berpusat pada aspek geologis atau logistik, melainkan pada dinamika sosiokultural masyarakat.
Di lapangan, implementasi kebijakan tanggap darurat yang dijalankan oleh pemerintah daerah, khususnya Dinas Sosial Kabupaten Lumajang, masih menghadapi kendala besar berupa resistensi dari warga yang menolak dipindahkan dari zona bahaya.
Fenomena penolakan ini berakar kuat pada alasan ekonomi, di mana masyarakat khawatir akan kehilangan mata pencaharian utama mereka di sektor pertanian dan pertambangan pasir.
Pendekatan mitigasi yang bersifat reaktif dan berfokus pada evakuasi fisik terbukti kurang efektif karena belum menyentuh akar permasalahan sosial-ekonomi tersebut.
Oleh karena itu, diperlukan perubahan paradigma menuju pendekatan yang lebih komprehensif, partisipatif, dan preventif dengan menjadikan nilai-nilai luhur Pancasila sebagai landasan utama kebijakan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi celah dalam kebijakan tanggap darurat yang ada, menganalisis faktor sosiokultural yang mendasari penolakan warga, serta merumuskan usulan kebijakan alternatif yang dapat diterima secara kultural oleh Masyarakat (Krismiyaningsih et al., 2024).
Integrasi nilai kemanusiaan, persatuan, dan kerakyatan dinilai sangat relevan untuk membangun sistem kewaspadaan yang berkelanjutan (Badrudin et al., 2024).
Selain itu, dalam era digital saat ini, pemanfaatan pendekatan berbasis data dan literasi informasi menjadi krusial untuk mendukung pengambilan keputusan yang tepat sasaran.
Kajian ini memiliki urgensi yang sangat tinggi mengingat ancaman susulan lahar dingin di hulu sungai Gunung Semeru masih terus berlangsung.
Tanpa adanya evaluasi kebijakan dan pembangunan infrastruktur pemberdayaan seperti lumbung pangan dan program Desa Tangguh Bencana (Destana) masyarakat di kawasan rawan vulkanik akan tetap berada dalam kondisi rentan terhadap risiko korban jiwa dan keterputusan jalur logistik akibat cuaca ekstrem.
Metode Pengambilan Data
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif analitis, di mana peneliti bertindak sebagai instrumen utama untuk memahami makna, konteks, dan proses sosial secara mendalam (Priatna et al., 2025).
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian lapangan ini adalah wawancara mendalam (in-depth interview) melalui model semi-terstruktur.
Dalam penerapannya, pertanyaan pokok yang telah disusun dapat dikembangkan secara fleksibel di lapangan guna memberikan ruang bagi informan untuk merespons secara bebas sesuai dengan ciri unik narasumber.
Fokus informan dalam penelitian ini adalah pihak Dinas Sosial yang memiliki otoritas dan tanggung jawab langsung dalam manajemen perlindungan sosial serta penanganan korban bencana Gunung Semeru pada periode April sampai Mei 2026.
Panduan wawancara dirancang mencakup lima fokus utama pertanyaan untuk menggali data secara komprehensif.
Pertama, aspek profil narasumber yang meliputi nama, jabatan, masa kerja, serta pembagian tugas dalam penanganan bencana.
Kedua, evaluasi kondisi dan kebijakan saat ini, yang mendalami respons instansi, data pengungsi, penyaluran bantuan, kendala evakuasi, hingga pola koordinasi lintas sektoral.
Ketiga, penilaian terhadap efektivitas sistem peringatan dini serta kelemahan kebijakan tanggap darurat yang berjalan.
Keempat, perumusan usulan kebijakan alternatif yang mendesak, seperti rencana relokasi permanen di zona merah, implementasi program Desa Tangguh Bencana (Destana), dan urgensi sistem jaminan sosial bencana.
Kelima, integrasi nilai-nilai Pancasila dalam penanggulangan bencana, yang mengeksplorasi dukungan spiritual, keadilan distribusi bantuan, budaya gotong royong, proses musyawarah pengambilan keputusan, hingga pemenuhan hak-hak kelompok rentan
Analisa
Implementasi kebijakan tanggap darurat oleh Dinas Sosial Kabupaten Lumajang dalam merespons aktivitas vulkanik Gunung Semeru periode April–Mei 2026 berfokus pada evakuasi warga Candipuro dan Pronojiwo ke zona aman serta pemenuhan logistik dasar.
Namun, di lapangan ditemukan tantangan sosiokultural berupa resistensi warga yang menolak dievakuasi karena kekhawatiran kehilangan mata pencaharian di sektor pertanian dan tambang pasir.
Pendekatan pemerintah yang masih bersifat reaktif dan persuasif sesaat dinilai belum mampu menyentuh akar masalah ekonomi ini.
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya Pancasila bukan sekadar sebagai simbol, melainkan sebagai living ideology (ideologi yang hidup) dan orientasi tindakan dalam manajemen bencana di Indonesia (Kamal, 2025).
Sebagai dasar negara, Pancasila memberikan kerangka etis bagi kebijakan alternatif yang lebih humanis dan partisipatif guna mengatasi resistensi kultural tersebut.
Manifestasi kelima sila Pancasila dalam penanggulangan bencana ini meliputi:
- Sila I: Diwujudkan melalui pendampingan spiritual oleh tokoh agama di pengungsian untuk memperkuat resiliensi psikologis korban.
- Sila II: Tercermin pada distribusi bantuan logistik yang objektif, nondiskriminatif, dan menjaga martabat manusia.
- Sila III: Diaktualisasikan melalui penguatan gotong royong komunal dalam wadah Kampung Siaga Bencana (KSB) guna meminimalkan risiko jatuhnya korban jiwa.
- Sila IV: Diterapkan dengan melibatkan tokoh masyarakat lokal dalam proses musyawarah, mulai dari asesmen risiko hingga inisiasi evakuasi mandiri.
- Sila V: Diimplementasikan melalui pelayanan inklusif yang memberikan prioritas khusus bagi kelompok rentan (lansia, anak-anak, dan penyandang disabilitas).
Untuk memperkuat implementasi ideologis tersebut di tingkat operasional, dirumuskan tiga usulan kebijakan alternatif yang diselaraskan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs).
Pertama, Pembangunan Lumbung Pangan Sementara Terintegrasi (SDGs 9) untuk menjaga stabilitas logistik mandiri di pengungsian saat jalur utama terputus lahar dingin.
Kedua, Integrasi Literasi Kesiapsiagaan Bencana dalam Kurikulum Pendidikan (SDGs 13) guna mengubah paradigma kesadaran bencana masyarakat sejak usia dini.
Ketiga, Optimalisasi Program Desa Tangguh Bencana/Destana (SDGs 17) yang mengedepankan kemitraan multi-pihak guna membangun ketahanan komunal yang mandiri tanpa mencerabut akar sosial-ekonomi masyarakat setempat.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis, penanganan bencana erupsi dan lahar dingin Gunung Semeru pada periode April–Mei 2026 menunjukkan bahwa kendala utama mitigasi di lapangan bukan lagi sekadar masalah logistik, melainkan adanya resistensi sosiokultural warga yang khawatir kehilangan mata pencaharian di sektor pertanian dan pertambangan pasir.
Melalui pendekatan kualitatif deskriptif analitis dengan teknik wawancara mendalam terhadap pihak Dinas Sosial Kabupaten Lumajang, penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan penanggulangan bencana yang bersifat reaktif dan berfokus pada evakuasi fisik semata terbukti tidak efektif.
Sebagai solusinya, Pancasila harus diaktualisasikan sebagai living ideology yang melandasi kebijakan mitigasi secara humanis, partisipatif, dan inklusif, seperti pendampingan spiritual, keadilan distribusi bantuan, penguatan gotong royong, musyawarah lokal, hingga pemenuhan hak kelompok rentan.
Guna membangun ketahanan komunal yang berkelanjutan tanpa mencerabut akar ekonomi masyarakat, diperlukan transformasi kebijakan konkret yang diselaraskan dengan target SDGs, yaitu pembangunan lumbung pangan sementara terintegrasi, edukasi kesiapsiagaan bencana dalam kurikulum pendidikan, serta optimalisasi program Desa Tangguh Bencana (Destana).
Penulis:
1. Alya Fazaristi
2. Muhammad Ilham Arrifan
3. Mutiara Adzika Islami
4. Masyta Gita Faradilla
5. Ghazi Rayshafiq Elfandi
6. Vincent Imanuel Putra
7. Azzah Sumaiyah
8. Shinta Devi Arsy Zelika
9. Aldi
10. Mas Moh Abdulloh Al Wahabi
11. Agus Permana
12. Kurnia Qurrotul A’yun
Mahasiswa Prodi Sistem Informasi, Telkom University Direktorat Kampus Surabaya
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Daftar Pustaka
- Badrudin, A., Kusumawardani, B., Indriana, T., Setyari, A. D., Nurtjahjaningtyas, I., Siddiq, A. M., Berlianti, N. A., & Dewi, N. (2024). Penguatan Budaya Sadar Bencana Bagi Generasi Muda Desa Terdampak Erupsi Gunung Semeru di Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang. Journal of Community Development, 5(3), 535–547. https://doi.org/10.47134/comdev.v5i3.676
- Kamal, F. (2025). AKOMODASI TRADISI DAN KEARIFAN LOKAL NUSANTARA DALAM MEMITIGASI BENCANA ALAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN. TAJDID: Jurnal Pemikiran Keislaman Dan Kemanusiaan, 9(1), 89–112. https://doi.org/10.52266/tadjid.v9i1.2641
- Krismiyaningsih, E., Sagala, S., Fitrinitia, I. S., Zahra, R. A., & Darmawan, A. B. (2024). Integrasi Program Bantuan dan Jaminan Sosial dalam Kerangka Perlindungan Sosial Adaptif. Salus Cultura: Jurnal Pembangunan Manusia Dan Kebudayaan, 4(1). https://doi.org/10.55480/saluscultura.v4i1.180
- Priatna, T., Nurfauji, B. B., Nuraeni, D., Sari, E. S. M., Agasha, P. S., & Ulum, R. R. (2025). TEKNIK PENGUMPULAN DATA DALAM PENDEKATAN KUALITATIF. Merdeka Indonesia Journal International (MIJI), (2), 707–713.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












