Analisis Kasus Pencabulan Santriwati di Kabupaten Pati dalam Perspektif Komunikasi

Kasus Pencabulan Santriwati
Analisis Kasus Pencabulan Santriwati di Kabupaten Pati dalam Perspektif Komunikasi. Sumber: MMI.

Fenomena

Kasus kekerasan yang berlangsung di Kabupaten Pati menarik perhatian masyarakat dan memicu beragam tanggapan di platform media sosial.

Insiden ini tidak hanya dipahami sebagai masalah kriminal, tetapi juga sebagai sebuah fenomena sosial yang menunjukkan ketidaksetaraan dalam hubungan antara pihak yang berkuasa dan kelompok yang rentan.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Area pendidikan yang seharusnya berfungsi sebagai tempat yang aman, malah bertransformasi menjadi ruang yang menimbulkan ketakutan. Ini menimbulkan pertanyaan besar tentang bagaimana sistem pemantauan dan perlindungan dapat beroperasi dengan efektif.

Rumusan Masalah

  1. Mengapa sikap tidak peduli masih sering muncul dalam situasi kekerasan?
  2. Apa dampak dari hubungan kekuasaan terhadap keberanian para korban untuk mengungkapkan suara?
  3. Sejauh mana kontribusi media dalam mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap masalah ini?

Baca Juga: Kasus Pelecehan Seksual yang Tiada Hentinya, Dimanakah Letak Peran Pancasila?

Sudut pandang Teori

Kasus ini bisa dianalisis dari berbagai sudut pandang dalam ilmu komunikasi. Salah satunya adalah teori Spiral of Silence yang menunjukkan bahwa orang sering memilih untuk tetap diam ketika merasa pandangan atau pengalaman mereka bertentangan dengan kekuatan dominan di sekelilingnya.

Dalam situasi ini, kemungkinan besar korban merasa tertekan, cemas, atau kekurangan dukungan, sehingga memilih untuk tidak mengungkapkan suara mereka.

Selain itu, teori Agenda Setting pun relevan untuk menggambarkan bagaimana media berperan signifikan dalam menentukan isu-isu yang dianggap penting oleh masyarakat. Ketika media mengangkat kasus ini secara besar-besaran, perhatian publik pun meningkat, hingga menjadi perbincangan yang luas.

Tak hanya itu, teori Komunikasi Kekuasaan juga dapat digunakan untuk memahami adanya dinamika kekuasaan antara pelaku dan korban yang menempatkan korban dalam posisi yang sangat rentan.

Isi

Menurut pendapat saya, budaya tidak berbicara masih berlangsung akibat adanya ketakutan, tekanan masyarakat, dan minimnya perlindungan bagi mereka yang menjadi korban.

Banyak orang berpendapat bahwa menyuarakan pendapat justru bisa menambah risiko yang lebih tinggi, seperti stigma dari masyarakat atau ancaman dari individu tertentu.

Dalam hal ini, teori Spiral of Silence menguraikan bahwa seseorang lebih memilih untuk tidak berbicara ketika tidak merasakan dukungan dari orang-orang di sekitarnya.

Selain itu, hubungan kekuasaan memiliki dampak yang sangat besar terhadap keberanian korban. Ketika pelaku berada di posisi yang dihormati atau memiliki kekuasaan, sering kali korban merasa tidak memiliki kekuatan untuk melawan.

Komunikasi yang berlangsung juga tidak bersifat setara, melainkan menjadi sarana dominasi yang memperkuat posisi pelaku dan melemahkan korban.

Di sisi lain, media memegang peranan penting dalam membentuk pandangan masyarakat. Saya melihat bahwa saat kasus ini mulai diberitakan dengan luas, perhatian publik meningkat dan mendorong respon yang lebih cepat dari pihak berwenang.

Hal ini sejalan dengan teori Agenda Setting, di mana media dapat menentukan isu mana yang dianggap penting oleh masyarakat. Namun demikian, media juga harus menjaga etika agar tidak menambah beban psikologis bagi korban.

Baca Juga: Kasus Pelecehan Seksual yang Tiada Hentinya, Dimanakah Letak Peran Pancasila?

Penutup

Berdasarkan diskusi itu, bisa disimpulkan bahwa masalah kekerasan tidak hanya terkait dengan perilaku individu, melainkan juga dipengaruhi oleh budaya yang cenderung membisu, hubungan kekuasaan, serta fungsi media dalam membentuk pandangan masyarakat.

Oleh karena itu, penting untuk melakukan perubahan dalam struktur sosial dan cara komunikasi agar para korban merasa nyaman untuk berbicara. Selain itu, media beserta masyarakat harus mengambil peran secara aktif dan bijaksana dalam menangani kasus-kasus semacam ini agar keadilan bisa terwujud secara nyata.


Penulis: Eirin Syahirah
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945


Dosen Pengampu: Dheny Jatmiko, S.Hum., M.A.


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses