Pemerintah Indonesia mulai mengembangkan sistem penyaluran bantuan sosial (bansos) berbasis teknologi pengenalan wajah (Face ID atau face recognition). Teknologi ini dirancang untuk memastikan bantuan diterima oleh orang yang benar-benar berhak serta mengurangi berbagai penyimpangan dalam distribusi bansos. Pemerintah berpendapat bahwa penggunaan biometrik dapat membuat penyaluran bantuan menjadi lebih tepat sasaran, transparan, dan efisien.
Dari sudut pandang positif, penggunaan Face ID memang memiliki banyak manfaat. Selama ini, berbagai permasalahan seperti data penerima yang tidak akurat, penerima ganda, hingga penyalahgunaan identitas sering menjadi hambatan dalam program bansos.
Dengan teknologi pengenalan wajah, identitas penerima dapat diverifikasi secara langsung sehingga peluang terjadinya kesalahan atau kecurangan menjadi lebih kecil. Pemerintah bahkan menilai digitalisasi bansos dapat meningkatkan efisiensi anggaran dan memperkuat ketepatan sasaran bantuan.
Namun, penerapan Face ID juga menimbulkan sejumlah kekhawatiran. Data biometrik merupakan data yang sangat sensitif karena berbeda dengan kata sandi atau PIN yang dapat diganti sewaktu-waktu. Jika data wajah seseorang bocor atau disalahgunakan, dampaknya dapat berlangsung dalam jangka panjang. Beberapa pengamat juga mengingatkan bahwa perlindungan data pribadi harus menjadi prioritas utama sebelum sistem ini diterapkan secara luas.
Selain itu, tidak semua masyarakat memiliki tingkat literasi digital yang sama. Banyak penerima bansos berasal dari kelompok lanjut usia atau masyarakat yang belum terbiasa menggunakan teknologi digital.
Jika sistem Face ID tidak disertai pendampingan yang memadai, justru berpotensi menyulitkan sebagian penerima bantuan dalam mengakses hak mereka. Kemensos sendiri mengakui bahwa digitalisasi bansos masih menghadapi tantangan karena banyak penerima merupakan lansia yang kurang paham dengan teknologi.
Baca juga: Ketergantungan pada Teknologi Digital: Membantu atau Membahayakan?
Menurut saya, penggunaan Face ID dalam penyaluran bansos merupakan langkah yang patut diapresiasi karena dapat meningkatkan akurasi dan transparansi distribusi bantuan.
Namun, keberhasilan sistem ini tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi, melainkan juga pada keamanan data, kesiapan infrastruktur dan kemudahan akses bagi masyarakat. Pemerintah perlu memastikan adanya perlindungan data pribadi yang kuat, mekanisme pengaduan yang mudah, serta alternatif verifikasi bagi kelompok rentan.
Dengan ini, Face ID dapat menjadi solusi yang efektif untuk memperbaiki tata kelola bansos, asalkan diterapkan secara hati-hati, transparan, dan tetap menghormati hak privasi masyarakat. Teknologi seharusnya menjadi alat untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, bukan menambah kekhawatiran baru bagi masyarakat.
Penulis: Sheli Triya Amanda
Mahasiswa S1 Akuntansi, Universitas Pamulang
Dosen Pengampu: Dr. Vivi Iswanti Nursyirwan S.Sos., M.M.
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












