BI Rate Naik Lagi: Efeknya terhadap Berbagai Instrumen Investasi

efek kenaikan suku bunga
enaikan BI Rate kali ini memiliki kelemahan yang efeknya sangat terasa pada sektor properti—khususnya cicilan Kredit Perumahan Rakyat—serta naiknya suku bunga kredit kendaraan dan pinjaman perusahaan. Akibatnya, perputaran ekonomi akan melambat. (Ilustrasi: Pixabay)

Secara jangka pendek dan menengah, rupiah berpotensi menjadi lebih stabil dan menguat karena bunga deposito serta obligasi negara yang lebih tinggi.

Pada dasarnya, fungsi kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) adalah untuk menguatkan kembali nilai tukar rupiah, sehingga investor asing lebih tertarik menanamkan modal di Indonesia.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Baca juga: Dilema Bank Sentral di Tengah Ketidakpastian Global Kebijakan Suku Bunga Bank Indonesia 2025–2026

Namun, kenaikan suku bunga ini memiliki kelemahan yang efeknya sangat terasa pada sektor properti—khususnya cicilan Kredit Perumahan Rakyat—serta naiknya suku bunga kredit kendaraan dan pinjaman perusahaan. Akibatnya, perputaran ekonomi akan melambat.

Perusahaan yang ingin melakukan ekspansi menjadi terhambat oleh suku bunga yang melambung tinggi. Dampak serupa juga dirasakan oleh masyarakat; minat berbelanja, membeli kendaraan, atau membeli properti menurun akibat bunga cicilan yang cukup tinggi.

Baca juga: Menimbang Dominasi Suku Bunga: Saatnya Bagi Hasil Menjadi Arus Utama?

Hal tersebut mengakibatkan daya konsumsi masyarakat turun dan akhirnya pertumbuhan ekonomi di Indonesia melambat. Dampak ini sangat dirasakan oleh pemilik aset properti, seperti rumah atau apartemen, yang menjadi lebih sulit untuk diperjualbelikan.

Selain itu, pasar saham juga berpotensi mengalami penurunan dalam jangka pendek karena investor mulai beralih ke deposito, obligasi, dan instrumen aset lain yang lebih aman (safe haven).

Baca juga: Safe Haven di Tengah Badai: Mengapa Perbankan Syariah Menjadi Jawaban Krisis Geopolitik Global?

Sisi baiknya, sektor perbankan tidak terlalu terpukul oleh dampak ini. Ketika suku bunga naik, margin bunga bersih perbankan terkadang justru menjadi lebih besar.

Kesimpulannya, situasi ini menunjukkan bahwa pihak yang diuntungkan maupun dirugikan sangat bergantung pada posisi dan instrumen keuangan yang mereka miliki dalam kondisi ekonomi tersebut.


Penulis:
Salsabila Az-Zahra
Mahasiswa Program Studi Akuntansi, Universitas Pamulang 
Salvania Rindiani
Mahasiswa Program Studi Akuntansi, Universitas Pamulang


Dosen Pengampu: Irenne Putren, S.Pd. , M.Pd.


Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses