Di sebuah bangunan sederhana namun sarat teknologi di Jalan Gatot Subroto, Ambarawa, sebuah eksperimen pendidikan yang menarik sedang berlangsung. Whitecyber Data Science Lab, perusahaan yang dikenal dengan riset forensik digitalnya, kini menjadi “kawah candradimuka” bagi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) dalam program Magang Berdampak 2026.
Yang menarik, peserta magang kali ini bukanlah mahasiswa Teknik Informatika, melainkan Rias Septiyaningrum (NIM F2A023043), seorang mahasiswa Semester 5 dari Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Pendidikan dan Humaniora.
Kehadiran Rias di laboratorium sains data ini mematahkan stereotip lama bahwa teknologi hanya milik anak teknik. Lebih dari itu, kisahnya menyingkap sebuah model pendidikan vokasi yang holistik: memadukan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dengan kecerdasan spiritual.
Sinergi Dua Dunia: Sastra dan Algoritma
Di era Generative AI seperti sekarang, batas antar disiplin ilmu semakin kabur. Faris Dedi Setiawan, Founder & Lead Scientist Whitecyber, menjelaskan bahwa mesin kecerdasan buatan membutuhkan “sentuhan manusia” agar tetap etis dan akurat.
“Banyak orang bertanya, apa hubungannya Sastra Inggris dengan Data Science? Jawabannya sangat erat. Dalam pengembangan Large Language Models (LLM), koding hanyalah satu sisi mata uang. Sisi lainnya adalah pemahaman semantik, struktur bahasa, dan konteks budaya. Di sinilah Rias berperan sebagai Junior AI Linguistic Analyst,” papar Faris.
Rias ditantang untuk melakukan validasi terhadap “halusinasi AI”—sebuah fenomena di mana AI mengarang data palsu. Dengan bekal ilmu bahasanya, Rias belajar mendeteksi pola kalimat yang tidak wajar dalam naskah akademik menggunakan standar Whitecyber Research Framework (WRF).
Membangun Adab Sebelum Ilmu
Namun, Whitecyber bukan sekadar tempat belajar teknis. Di bawah bimbingan Rosa Dewi Kinanti selaku HRD – Human Resource Development Whitecyber, perusahaan ini menerapkan disiplin ketat yang berakar pada nilai-nilai spiritual.
Menurut Rosa Dewi Kinanti, keseimbangan ini vital. “Kami ingin mencetak talenta digital yang memiliki ‘God-Consciousness’. Kecerdasan buatan yang hebat harus dikendalikan oleh manusia yang jiwanya tenang dan beretika,” tegasnya.
Bagi Rias, kejutan budaya (culture shock) yang ia alami bukan hanya soal teknologi, tapi soal adab.
Setiap pagi, setelah menempuh perjalanan 20 menit dari rumahnya, Rias tidak langsung duduk di depan komputer. Tepat pukul 08.00 WIB, ia memulai hari dengan menyapu dan membersihkan ruangan kantor. Sebuah rutinitas sederhana yang dirancang manajemen untuk menanamkan nilai kerendahan hati (humility) kepada para calon intelektual muda.
“Awalnya mungkin terlihat sepele, tapi ini mengajarkan saya bahwa setinggi apapun teknologi yang kita pelajari, kita harus tetap membumi,” ungkap Rias.

Jeda Spiritual di Tengah Derasnya Arus Data
Satu hal yang membuat program magang ini selaras dengan visi UNIMUS sebagai kampus Islam adalah rutinitas spiritualnya. Di tengah kesibukan tenggat waktu proyek dan analisis data, kantor memiliki aturan tak tertulis namun wajib: Jeda Dzikir.
Rutinitas dzikir bersama dilakukan sebanyak tiga kali sehari. Salah satu momen yang paling berkesan bagi Rias adalah sesi dzikir pasca-istirahat siang (pukul 13.00 WIB) yang berdurasi 15-20 menit.
“Pengalaman yang saya dapatkan di sini sangat luar biasa. Tidak hanya mendapatkan ilmu pendidikan teknis, namun juga ilmu spiritual dengan Tuhan yang tidak semua perusahaan mengimplementasikannya. Rasanya menyejukkan bisa bekerja keras tanpa melupakan Sang Pencipta,” tutur Rias dengan antusias.
Testimoni: Tantangan yang Membuka Wawasan
Meski berlatar belakang Sastra, Rias mengaku lingkungan kerja yang suportif di Whitecyber membuatnya cepat beradaptasi. Rasa canggung di awal magang perlahan berubah menjadi rasa ingin tahu yang besar.
“Kesan magang di CV Whitecyber sangat menyenangkan. Latar belakang perusahaan yang berbeda dengan pendidikan saya justru membuat saya tertantang. Saya berharap ke depannya bisa mengimplementasikan integrasi ilmu bahasa dan teknologi ini,” pungkas Rias.
Kisah Rias Septiyaningrum adalah bukti nyata bahwa literasi digital di abad ke-21 tidak mengenal sekat jurusan. Kolaborasi antara UNIMUS dan Whitecyber Data Science Lab ini memberikan harapan baru bagi dunia pendidikan Indonesia: lahirnya generasi yang tidak hanya cerdas secara nalar (Sains), fasih secara lisan (Sastra), tetapi juga teguh secara iman (Spiritual).
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












