Deep Blue Scars: Kerusakan Ekosistem Laut Cina Selatan akibat Reklamasi dan Sianida 2025-2026

Laut Cina Selatan
Foto: Dok. MMI

Laut Cina Selatan merupakan salah satu kawasan laut paling strategis di dunia.

Wilayah ini memiliki nilai ekonomi, politik, dan ekologis yang sangat besar karena menjadi jalur pelayaran internasional, sumber perikanan, serta habitat bagi berbagai spesies laut.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Namun, di balik pentingnya peran tersebut, kawasan ini menghadapi tekanan serius akibat reklamasi dan penggunaan sianida dalam aktivitas penangkapan ikan.

Dua praktik tersebut telah menimbulkan kerusakan yang tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga kehidupan masyarakat yang bergantung pada laut.

Istilah “Deep Blue Scars” merujuk pada luka mendalam yang ditinggalkan oleh eksploitasi berlebihan di wilayah laut.

Luka ini tidak mudah hilang karena menyangkut struktur ekosistem yang sangat kompleks dan saling bergantung.

Ketika laut mengalami kerusakan, dampaknya tidak berhenti pada satu sektor saja, melainkan menjalar ke lingkungan, ekonomi, dan kehidupan sosial.

Reklamasi menjadi salah satu penyebab utama kerusakan ekosistem laut.

Proses ini dilakukan dengan menimbun pasir laut untuk membentuk daratan baru, biasanya untuk kepentingan pembangunan atau penguasaan wilayah.

Meskipun sering dianggap sebagai langkah strategis, reklamasi dapat merusak dasar laut, menghancurkan terumbu karang, dan mengubah keseimbangan alami habitat laut.

Sementara itu, penggunaan sianida dalam penangkapan ikan juga sangat berbahaya.

Zat beracun ini memang dapat membuat ikan lebih mudah ditangkap, tetapi sekaligus membunuh organisme laut lain dan merusak terumbu karang yang menjadi rumah bagi banyak spesies.

Dampak dari kerusakan tersebut sangat luas.

Terumbu karang yang hancur menyebabkan banyak biota laut kehilangan tempat hidup.

Populasi ikan menurun, dan kondisi ini langsung memengaruhi nelayan yang menggantungkan hidup pada hasil laut.

Ketika hasil tangkapan menurun, pendapatan masyarakat pesisir ikut berkurang, sehingga muncul persoalan ekonomi yang lebih besar.

Selain itu, kerusakan terumbu karang juga mengurangi keanekaragaman hayati laut dan melemahkan kemampuan ekosistem untuk pulih secara alami.

Perubahan arus dan sedimentasi juga menjadi akibat penting dari reklamasi.

Penimbunan laut dapat mengubah aliran air dan menimbulkan penumpukan sedimen yang berbahaya bagi organisme laut.

Sedimen yang berlebihan dapat menutup permukaan karang dan menghambat pertumbuhan makhluk hidup di laut.

Jika kondisi ini terus berlangsung, maka laut akan semakin sulit untuk kembali sehat seperti semula.

Masalah ini menjadi semakin penting karena Laut Cina Selatan bukan sekadar ruang laut biasa.

Wilayah ini memiliki hubungan erat dengan kepentingan banyak negara, sehingga kerusakan lingkungan di dalamnya juga berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan.

Karena itu, persoalan ini tidak bisa dipandang hanya sebagai isu lingkungan, tetapi juga sebagai bagian dari tata kelola wilayah, hukum internasional, dan hubungan antarnegara.

Upaya penyelesaian yang diperlukan harus dilakukan secara menyeluruh.

Dari sisi diplomasi, perlu ada moratorium pembangunan di wilayah yang rentan serta penegakan hukum internasional yang tegas.

Dari sisi lingkungan, restorasi terumbu karang dan pembentukan kawasan konservasi harus dijalankan secara serius.

Namun, semua langkah tersebut hanya akan berhasil jika ada komitmen bersama dari negara-negara yang memiliki kepentingan di Laut Cina Selatan, yaitu Tiongkok, Filipina, Vietnam, Malaysia, Brunei Darussalam.

Pada akhirnya, kerusakan ekosistem Laut Cina Selatan adalah peringatan penting bahwa eksploitasi laut tanpa batas akan menimbulkan akibat jangka panjang yang sangat serius.

Laut bukan hanya sumber daya ekonomi, tetapi juga penopang kehidupan.

Menjaga laut berarti menjaga masa depan.

Karena itu, kerja sama regional, penegakan aturan, dan perlindungan ekosistem harus ditempatkan sebagai prioritas utama.


Penulis: Selsiana Nita Bonay
Mahasiswa Prodi Hubungan Internasional, Universitas Cenderawasih


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses