Dukung SDG3 dan 4, KKN Penyetaraan Unair Adakan Global MedAction2026: Wujudkan Pedesaan Bali dengan Kesehatan dan Pendidikan Merata

Pengabdian Masyarakat Kesehatan
Edukasi kesehatan medis oleh dr. Johannes Tanaka (memegang microphone) di depan warga Desa Pemuteran. Edukasi ini adalah bagian dari kegiatan program KKN Penyetaraan mahasiswa Unair bertajuk Global MedAction 2026. (Foto: Dok. Penulis)

Karangasem, MMI – Di balik keindahan alam Dusun Pemuteran, Desa Pempatan, Kabupaten Karangasem, Bali, tersembunyi realitas pahit. Di sana, warga masih berjuang mendapatkan air bersih dan akses kesehatan yang layak. Mereka masih mengandalkan tampungan air hujan untuk penuhi kebutuhan sehari-hari. Puskesmas terdekat? Letaknya hampir sebelas kilometer di desa tetangga, Desa Menanga. Sementara anak-anak di sana, terpaksa belum punya akses belajar yang memadai.

Realitas keras ini, menginspirasi peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) Penyetaraan Universitas Airlangga (Unair) melaksanakan program Global MedAction 2026. Program ini berisi kegiatan pemeriksaan sekaligus penyuluhan kesehatan medis yang menyasar warga, mulai anak-anak hingga dewasa.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Dari Halaman Sekolah Jadi Klinik Dadakan

Selasa (31/01/26) kemarin, halaman dan ruang kelas Sekolah Dasar Negeri 5 Pempatan yang terletak di dusun itu mendadak ramai. Warga setempat terlihat berbaris untuk periksa gula darah, kolesterol, asam urat, dan lainnya. Pemeriksaan kesehatan itu semuanya gratis. Dr. Johannes Tanaka, akrab disapa dokter Jota, juga berbagi ilmu soal cara pakai antibiotik yang benar dan cara menjaga kesehatan kulit.

Kegiatan ini disambut hangat oleh para warga. Mereka merasa dimudahkan untuk mengakses pelayanan kesehatan yang ada.

“Jarang sekali ada pemeriksaan kesehatan di sini. Kalau mau ke Puskesmas harus turun dulu. Jauh,” kata Wayan Buana, salah seorang warga dusun.

Baca juga: Saatnya Membuka Mata: Kesehatan Jiwa Butuh Akses Nyata

Setelah itu, tim menyebar ke gang-gang desa untuk kunjungan rumah. Mereka menanyakan apa saja keluhan warga, memeriksa kondisi fisik, dan bagikan multivitamin. Untuk keluarga yang kurang mampu, sembilan bahan pokok pun ikut diantarkan langsung ke depan pintu mereka. 

Ruang Kelas Darurat di Rumah Made

Keesokan harinya, gilliran anak-anak yang jadi target penyuluhan. Namun, metodenya dibuat lebih atraktif agar mereka tak jenuh. Tempatnya pun bukan di sekolah lagi, tapi di rumah salah seorang warga yang akrab disapa oleh warga sekitar dengan sebutan Made—penulis lupa menanyakan nama lengkapnya.

Rumah Made telah kerap dijadikan sebagai ruang belajar informal anak-anak di desa itu. Hanya ketika mereka libur di akhir pekan.

Pengabdian Masyarakat Kesehatan
Intervensi pendidikan informal di rumah Made dari program Global MedAction 2026. (Foto: Dok. Penulis)

Hari itu, mereka berkumpul dengan semangat, belajar membaca, berhitung, dan belajar bahasa Inggris. Tapi, yang paling berkesan adalah rumah itu berubah jadi panggung inspiratif yang di dalamnya digelar drama singkat. Drama itu meninggalkan pesan pembakar semangat bagi mereka, bahwa punya cita-cita besar bukan hanya hak anak-anak kota tapi juga mereka yang berasal dari desa.

Di antara berbagai kegiatan itu, para peserta KKN Penyetaraan Unair pun menyelipkan berbagai edukasi kesehatan di dalamnya. Tak lain, agar upaya menjaga kesehatan tertanam sejak dini pada diri mereka masing-masing.

Baca juga: Pengaruh Kurangnya Pemahaman Pola Hidup Sehat terhadap Kesehatan Anak Remaja

Belajar dari Rumah Sakit Kelas Dunia

Sehari setelah membersamai anak-anak di desa itu, Kamis (02/02/26), peserta KKN Penyetaraan Unair mengunjungi Bali International Hospital. Di sana, mereka melihat langsung peralatan medis canggih yang lahir dari kerja sama internasional–dengan Jepang di bidang jantung dan Australia di bidang kanker.

Pengabdian Masyarakat Kesehatan
Kunjungan peserta KKN Penyetaraan ke Bali International Hospital, Kamis (02/02/26). (Foto: Dok. Penulis)

Lebih dari Sekadar Pengabdian Masyarakat

Secara keseluruhan, Global MedAction 2026 membuka mata tentang ketimpangan yang masih nyata. Serta betapa besar dampak yang bisa dibuat oleh satu orang yang mau bergerak. Kegiatan ini menunjukkan, kampus bisa jadi jembatan antara ilmu dan kehidupan nyata, antara mahasiswa dan masyarakat, antara mimpi dan kenyataan.

 


Penulis: Michael Purnama
Mahasiswa Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga


Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses