Indonesia merupakan negara yang dikenal dengan kekayaan alam melimpah. Namun, dibalik itu Indonesia juga sering dilanda bencana alam seperti banjir, tanah longsor, dan pencemaran lingkungan. Faktor penyebab terjadinya bencana alam di Indonesia salah satunya adalah manusia penghuni negara atau disebut sebagai masyarakat Indonesia.
Lancarnya aktivitas masyarakat menghasilkan sampah tanpa adanya kesadaran untuk membersihkan. Saat ini masih banyak masyarakat Indonesia yang lalai dan membiarkan sampah berserakan di lingkungan sekitar.
Membuang sampah sembarangan di jalan, sungai, selokan atau tempat umum lainnya, malas memilah sampah, membiarkan sampah menumpuk hingga menjadi gunung adalah fenomena yang biasa terjadi di negara berkembang ini.
Selain negara dengan kekayaan melimpah, Indonesia juga termasuk urutan kedua di tingkat global yang menjadi negara penyumbang sampah terbesar.
Menurut Menteri Lingkungan Hidup Bapak Faisol Nurofiq dalam kegiatan asta sekolah dan kampus mengatakan bahwa 39,87% atau mungkin hampir 20 juta ton sampah di Indonesia merupakan sampah sisa makanan. Satu tahunnya ada 300kg sampah yang dihasilkan dari setiap individu masyarakat Indonesia.
Kondisi ini diperburuk dengan rendahnya pengelolaan sampah sehingga banyak sampah yang akhirnya menumpuk. Pola pikir masyarakat yang acuh semakin mengakibatkan sampah tidak dapat dikendalikan dengan baik.
Secara umum, jenis sampah dibagi menjadi tiga yaitu, sampah organik, sampah anorganik, dan sampah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Sampah organik merupakan sampah yang berasal dari makhluk hidup seperti hewan dan tumbuhan yang dapat terurai secara alami. Sampah anorganik merupakan sampah yang tidak dapat terurai secara alami dalam waktu singkat.
Sampah B3 merupakan sampah yang mengandung zat beracun, korosif, reaktif, dan mudah meledak sehingga tidak dapat dijadikan satu dengan jenis sampah yang lain. Ketiga jenis sampah tersebut memiliki karakteristik yang berbeda sehingga proses pengolahannya pun tidak sama.
Sampah hasil dari kegiatan rumah tangga seperti kulit buah, sisa sayuran, dan sisa makanan merupakan jenis sampah organik yang dianggap sebagai masalah sepele dan sering dibuang begitu saja. Jika dibiarkan sampah tersebut mengakibatkan timbulnya bau yang tidak sedap, mengundang perhatian lalat, dan merusak pemandangan.
Selain itu, lalat yang hinggap di sampah nantinya juga akan berpindah di makanan lalu dikonsumsi manusia dan bisa menimbulkan penyakit. Sampah yang membusuk juga akan berpengaruh pada kualitas air di sekitarnya. Sikap ketidakpedulian terhadap hal seperti ini tentunya dapat menimbulkan pengaruh lain yang lebih mengkhawatirkan.
Oleh karena itu, rasa peduli terhadap lingkungan sangat penting untuk ditanamkan agar bisa hidup dengan lebih sehat, nyaman, dan terbebas dari masalah yang ditimbulkan oleh kerusakan lingkungan.
Salah satu solusi untuk menanangi sampah organik adalah dengan mengolahnya menjadi eco-enzym. Eco-enzym adalah cairan hasil fermentasi sampah organik yang dicampurkan dengan gula dan air. Cairan ini memiliki banyak manfaat seperti pengganti pembersih kimia, penghilang bau, hingga pupuk cair tanaman.
Mengolah sampah organik secara sederhana tentunya akan mengubah hal yang awalnya tidak berguna menjadi lebih bermanfaat serta dapat dinikmati oleh orang banyak. Proses pembuatannya pun sangat mudah dan tidak memerlukan alat khusus.
Sebelum membuat eco-enzym, siapkan alat dan bahan seperti botol plastik bersih dengan tutup, wadah untuk menampung sampah organik, pisau untuk memotong sampah organik, serta bahan utama berupa sampah organik, air bersih, dan gula pasir atau gula merah.
Setelah semua siap, langkah yang pertama potong sampah organik menjadi ukuran kecil. Kedua, masukkan air bersih ke dalam botol plastik lalu campurkan dengan gula. Terakhir masukkan potongan sampah organik ke botol berisi campuran air dan gula.
Tutup botol dengan rapat dan goyangkan pelan agar gula tercampur rata. Simpan fermentasi di tempat yang teduh dan lakukan pengecekan untuk mengeluarkan gas dengan membuka tutup botol sebentar setiap hari selama tiga bulan.
Pembuatan eco-enzym ini bertujuan untuk mendorong masyarakat agar lebih peduli terhadap sampah di lingkungan. Selain itu, kegiataan ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa sampah bukanlah masalah ketika diolah dengan baik sehingga nantinya akan menghasilkan produk bernilai dan dapat dijual dipasaran.
Saat ini sudah banyak eco-enzym yang dijual secara offline maupun online dengan pembelinya semakin meningkat dikarenakan ramah lingkungan serta lebih hemat. Pada platform belanja online biasanya yang dijual hanya pupuk cair tanaman.
Namun, dalam penggunaan pupuk cair eco-enzym sebaiknya ditambahkan air agar tidak membuat akar tanaman terbakar karena kandungan asam yang pekat. Selain digunakan sebagai pupuk cair, eco-enzym juga bisa digunakan untuk membersihkan rumah seperti bagian kamar mandi, lantai rumah, dan sebagai cairan penghilang bau.
Dengan demikian, pengolahan sampah organik menjadi eco-enzym merupakan langkah praktis yang bisa dilakukan guna mengurangi masalah sampah di sekitar. Melalui proses fermentasi sederhana, sampah dapat menjadi barang berguna mulai dari pembersih rumah tangga, pupuk cair tanaman, dan penghilang bau.
Pembuatan eco-enzym tidak hanya memberikan manfaat untuk sekitar tetapi juga memberikan edukasi untuk orang banyak tentang pentingnya mengolah sampah lingkungan. Masyarakat akan mulai memahami bahwa sampah bisa berubah menjadi bernilai ketika mengolahnya dengan benar dan tidak menganggap sampah sebagai masalah.
Oleh karena itu, mari jaga lingkungan sekitar dengan bijak mengolah sampah demi hidup yang sehat, nyaman, dan tentram.
Penulis: Dwi Regita Rizain
Mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia, UIN KH. Abdurrahman Wahid
Dosen Pengampu: Rissa Shofiani M.Pd
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












