Jepang adalah negara yang berlokasi di sebelah timur Asia dan berada di posisi rawan dari sisi geografis karena masuk di dalam kawasan the Pasific Ring of Fire, atau bisa disebut sebagai cincin api yang mengelilingi Samudra Pasifik. Di kawasan Ring of Fire ini, banyak tersebar gunung berapi aktif juga tidak aktif. Selain itu, posisi geografis Jepang juga terletak di pertemuan empat lempeng tektonik utama, yaitu Lempeng Pasifik, Eurasia, Filipina, dan Amerika Utara.
Kondisi geografis jepang yang berada di Ring of Fire dan menjadi lokasi tempat pertemuan empat lempeng utama ini menjadikan Jepang sebagai negara rawan gempa bumi. Hal ini juga menjadi salah satu alasan mengapa Gempa Bumi dan Tsunami Tohoku 2011 terjadi.
Baca juga: Fakta Sejarah Rekayasa Bushido di Jepang yang Mengejutkan
Peristiwa Gempa Bumi dan Tsunami Tohoku yang terjadi pada tahun 2011 silam merupakan salah satu gempa bumi dengan kekuatan terbesar yang pernah dideteksi oleh alat pendeteksi gempa pada zaman modern. Gempa bumi ini terjadi karena adanya thrust fault antara lempeng Pasifik dan lempeng Amerika Utara di sisi Sendai, Honshu, Jepang. Selain itu, Gempa ini juga memicu Tsunami hingga mencapai tinggi 40 meter dan mampu membanjiri kota pesisir dengan air laut yang masuk hanya dalam hitungan menit saja.
Gempa ini menjadi gempa terbesar yang pernah terjadi di Jepang setelah gempa Jogan di tahun 869 M. Bencana alam ini kemudian berdampak ke penyintas gempa bumi Tohoku baik dalam sisi fisik maupun sisi psikologis mereka.
Untuk bencana gempa bumi itu sendiri dapat memberikan dampak yang memengaruhi psikologis pada individu yang menjadi korban. Menurut Gökkaya et al. (2025), beberapa individu yang menjadi korban menunjukkan tanda-tanda terkena gangguan kesehatan mental, seperti mengalami post-traumatic stress disorder (PTSD), depresi, kecemasan terhadap gempa bumi susulan, hingga stress. Namun Jepang sebagai negara berada diatas pertemuan empat lempeng dan dilewati oleh ring of fire, mentalitas dari warga negara Jepang perlahan terbentuk lebih kuat untuk menghadapi gempa bumi.
Survei kesehatan mental yang dilakukan secara nasional di Jepang, mendapat kesimpulan bahwa tingkat terjadinya PTSD di Jepang akibat gempa yang terjadi dapat dikatakan relatif rendah, yaitu sekitar 1,3% untuk seumur hidup dan 0,7% untuk tahunan (Kessler et al., 2014). Jika melihat dari kacamata budaya yang telah dilakukan oleh orang Jepang sejak dulu, hal ini bisa dihubungkan dengan dua filosofi hidup Jepang yang sudah melekat dengan kehidupan orang Jepang itu sendiri gaman (我慢) dan shikata ga nai (仕方がない).
Baca juga: Danjo Kankei, Sebuah Fenomena Sosial Hubungan Pria dan Wanita di Jepang
Dalam filosofi kehidupan di Jepang, Gaman (我慢) memiliki makna ”menahan diri” atau “kontrol diri”. Istilah gaman (我慢) ini diambil dari ajaran buddha yang berarti kesabaran. Filosofi hidup ini dapat diartikan sebagai bentuk seseorang yang tetap merasa tabah dan tenang dalam keadaan mental ketika dihadapkan dengan situasi yang sulit. Karena hal tersebut, gaman (我慢) juga dapat dikaitkan dengan wa (和), yaitu sikap Jepang untuk menjaga keharmonisan dalam masyarakat sosial dan untuk menghindari hal-hal buruk yang dapat berdampak negatif terhadap diri sendiri.
Di Jepang, filosofi ini berperan penting untuk melatih kedisiplinan diri, mengontrol mental dan emosi mereka, tetap merasa rendah hati, juga memiliki rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri.
Pada filosofi ini, seseorang perlu menahan diri dan menoleransi setiap kesulitan yang mereka hadapi dengan rasa sabar, tanpa mengeluh dan menunjukkan betapa tidak berdayanya seseorang itu ketika dihadapkan dengan musibah yang menimpanya.
Musibah yang menimpa ini bisa saja rasa sakit seperti terkena penyakit ataupun musibah yang terjadi karena keadaan disekitarnya. Misalnya ketika masyarakat Jepang dihadapkan dengan musibah seperti gempa bumi, mereka akan menghadapinya dengan kondisi yang tetap tenang dan dapat mengikuti mitigasi yang telah dipersiapkan dengan baik tanpa perasaan panik. Masyarakat Jepang bisa lebih mengatur mental dan emosi mereka karena berpegang pada gaman (我慢).
Shikata ga nai (仕方がない) merupakan filosofi kehidupan yang telah menjadi bagian dari Jepang, memiliki makna “mau bagaimana lagi” atau ”memang tidak bisa dihindari”. Shikata ga nai (仕方がない) seringkali digunakan ketika seseorang berada di situasi dimana ia merasa tidak berdaya dan hanya bisa menunggu keadaan. Dalam Sejarah Jepang, konsep ini cenderung memprioritaskan keharmonisan (wa, 和) kelompok dan tidak harus merelakan rasa ketidaknyamanan pribadi dalam keharmonisan (wa, 和) kelompok. Shikata ga nai (仕方がない) juga merupakan filosofi kehidupan yang mendorong seseorang untuk tidak terus berlarut dalam hal yang telah terjadi dan melakukan upaya yang dapat berguna untuk masa depan kelak, agar terhindar dari perasaan tidak berdaya dalam menghadapi situasi sulit.
Baca juga: Aspek Problematik Sistem Senioritas dalam Masyarakat Jepang
Sikap Shikata ga nai (仕方がない) ini berdampingan dengan gaman (我慢), walau masyarakat Jepang dihadapkan dengan situasi yang menjadikan mereka merasa tidak berdaya, mereka akan tetap menghadapinya dengan perasaan tenang dan tidak mengeluh. Ketika Gempa Bumi Tohoku 2011 terjadi, para penyintas memilih untuk berpikir Shikata ga nai (仕方がない) dan fokus pada langkah yang dapat dilakukan setelahnya.
Walaupun dari luar terlihat tenang dan baik-baik saja, bukan berarti mereka tidak merasakan sedih atas kehilangan. Para penyintas tidak mempertanyakan keadaan yang telah dialami, karena tidak ingin terjebak terlalu lama dalam perasaan tidak berdaya setelah mendapatkan musibah Gempa Bumi.
Geografis Jepang yang berada dalam di titik bertemunya empat lempengan utama bumi dan berada dalam lingkup Ring of Fire menjadikan Jepang sejak dulu menjadi negara yang rawan terjadi Gempa dan mau tidak mau masyarakat Jepang perlu membangun kondisi psikologis yang dapat bertahan dengan keadaan.
Baca juga: Seni Beladiri Judo sebagai Instrumen Diplomasi Budaya Jepang
Filosofi gaman (我慢) dan shikata ga nai (仕方がない) menjadi fondasi masyarakat Jepang agar mental mereka tetaplah terjaga walau tahu gempa bumi bisa terjadi kapanpun tanpa mengenal waktu. Dapat dilihat dalam sikap penyintas Gempa Bumi Tohoku 2011 terjadi, masyarakat Jepang masih bisa menghadapinya dengan tenang dan menerima kenyataan tanpa terjebak dalam keputusasaan yang terus menerus berlanjut. Membuktikan bahwa kedua filosofi itu menjadikan seperti mekanisme psikologis dan sosial agar masyarakat Jepang bisa terus melanjutkan hidupnya tanpa terbebani oleh beban mental dan rasa takut akan terjadinya gempa bumi lainnya.
Penulis: Nabila Khoirunnisa Rizali
Mahasiswa Prodi Bahasa dan Sastra Jepang Universitas Airlangga
Editor: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













