Generasi Refresh: Ketika Harga Diri Tergadai di Balik Jumlah Like

karakter generasi z
Generasi Refresh: Ketika Harga Diri Tergadai di Balik Jumlah Like. Sumber: MMI.

Pernahkah Anda merasa gelisah ketika unggahan foto di Instagram tidak kunjung mendapat ‘tanda suka’ dalam sepuluh menit pertama? Atau mungkin, Anda pernah menghapus sebuah cerita (story) hanya karena jumlah penontonnya terasa terlalu sedikit? Jika iya, Anda tidak sendirian.

Kita sedang hidup di era di mana ibu jari lebih sering bergerak melakukan refresh layar daripada membalik halaman buku. Media sosial bukan lagi sekadar platform berbagi kabar, melainkan telah menjelma menjadi panggung penilaian sosial yang sangat kejam.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Bagi banyak generasi muda saat ini, validasi digital bukan lagi sekadar bonus pergaulan, melainkan telah bergeser menjadi sebuah kebutuhan emosional yang mendesak.

Fenomena ‘Generasi Like‘ ini bukanlah isapan jempol belaka. Jika kita melihat realitas di sekitar kita, banyak rekan mahasiswa atau remaja yang merasa dunianya runtuh hanya karena komentar negatif atau sepinya interaksi di dunia maya.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa ruang digital secara perlahan namun pasti telah mengambil alih kendali atas perasaan dan kepercayaan diri penggunanya. Media sosial kini menjadi ruang penilaian sosial yang memengaruhi psikologis kita secara langsung.

Tingginya ketergantungan ini berbanding lurus dengan masifnya penggunaan internet di tanah air. Berdasarkan data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2024, jumlah pengguna internet di Indonesia telah menyentuh angka fantastis, yakni sekitar 221 juta orang.

Dari angka tersebut, kelompok Generasi Z dan Milenial menjadi pemain utamanya. Kita hidup dalam lingkungan yang sangat terhubung, di mana setiap napas kehidupan seolah harus terdokumentasi agar dianggap ‘ada’.

Namun, ada harga mahal yang harus dibayar dari konektivitas tanpa batas ini. Berbagai penelitian dalam tiga tahun terakhir menunjukkan adanya korelasi kuat antara intensitas penggunaan media sosial dengan kondisi kesehatan mental.

Sebuah studi mengenai perilaku digital Generasi Z menemukan bahwa media sosial berpengaruh besar pada cara seseorang menilai dirinya sendiri. Bahkan, riset lain menunjukkan bahwa sebagian besar remaja dan dewasa muda menghabiskan waktu lebih dari empat jam setiap hari di platform seperti TikTok dan Instagram.

Dampaknya? Munculnya tingkat kecemasan yang tinggi dan penurunan emosi positif. Kita menjadi cemas bukan karena masalah nyata, tapi karena merasa hidup kita tidak seindah feed orang lain.

Baca Juga: Generasi Z di Persimpangan Teknologi dan Moralitas: Relevansi Filsafat Pancasila dalam Pembentukan Karakter Sosial

Survei internasional dari Pew Research Center dalam beberapa tahun terakhir juga mempertegas kondisi ini. Hampir separuh remaja mengaku bahwa mereka menghabiskan waktu terlalu lama di media sosial, yang pada akhirnya merusak kualitas tidur, produktivitas, hingga stabilitas mental mereka.

Masalahnya sederhana namun sistemik: media sosial memaksa kita menampilkan ‘versi terbaik’ dari diri kita. Kita hanya membagikan momen-momen puncak, foto dengan filter terbaik, dan caption yang terlihat bijak. Kita menciptakan standar kesempurnaan palsu yang kemudian kita jadikan beban bagi diri kita sendiri.

Menurut saya, masalah paling krusial muncul ketika nilai diri (self-worth) seseorang mulai diukur dari angka-angka dingin di layar ponsel. Saat jumlah like atau komentar menjadi tolok ukur kebahagiaan, kita sebenarnya sedang menyerahkan kunci kebahagiaan kita kepada algoritma.

Padahal, kita semua tahu bahwa algoritma sering kali tidak adil. Sebuah unggahan bisa saja sepi respons hanya karena diunggah di jam yang salah atau karena sistem platform sedang berubah, bukan karena kualitas pribadi kita yang rendah.

Lantas, apakah kita harus menghapus semua akun media sosial kita? Tentu tidak. Sebagai mahasiswa, kita harus lebih cerdas dari sekadar menjadi budak klik. Penting bagi kita untuk mulai menyadari bahwa kehidupan nyata jauh lebih luas dan berwarna dibandingkan apa yang tertangkap oleh lensa kamera ponsel.

Menikmati momen tanpa perlu segera mengunggahnya adalah bentuk kemewahan emosional yang mulai langka. Kita butuh ‘detoksifikasi digital’ secara berkala agar tidak terus-menerus terjebak dalam perlombaan validasi yang tidak ada garis finisnya.

Selain itu, membangun hubungan yang sehat di dunia nyata adalah solusi mutlak. Dukungan dari sahabat yang bisa diajak mengobrol langsung, perhatian tulus dari keluarga, serta interaksi sosial yang nyata memberikan rasa dihargai yang jauh lebih mendalam dibandingkan ribuan like dari orang asing.

Validasi digital mungkin memberikan kepuasan instan layaknya junk food, namun validasi dari dunia nyata adalah nutrisi yang sebenarnya bagi jiwa kita.

Sebagai penutup, mari kita renungkan kembali: apakah kita ingin diingat sebagai generasi yang hanya mengejar angka, atau generasi yang benar-benar menjalani kehidupan?

Jumlah penonton di cerita Instagram kita tidak akan pernah menentukan seberapa berharganya kita sebagai manusia. Kebahagiaan sejati muncul ketika kita mampu menghargai diri sendiri tanpa perlu menunggu pengakuan dari dunia digital.

Baca Juga: Dampak Media Sosial terhadap Pola Komunikasi Generasi Z

Di tengah arus informasi yang begitu deras, mungkin hal paling berani yang bisa kita lakukan adalah menjadi diri sendiri secara jujur, tanpa filter, dan tanpa perlu selalu merasa perlu ‘disukai’ oleh semua orang.

Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa banyak orang yang menekan tombol hati, tapi tentang seberapa besar hati kita mencintai hidup yang sedang kita jalani.


Penulis: Fenda Realita Tarigan (2501026148)
Mahasiswa Manajemen Universitas Mulawarman (UNMUL)


Dosen Pengampu: Marwah Marwah Ulwatunnisa, S.Pd., M.Pd.


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Daftar Pustaka

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). (2024). Jumlah pengguna internet Indonesia tembus 221 juta orang. Diakses dari https://apjii.or.id/berita/d/apjiijumlahpenggunainternetindonesiatembus221jutaorang

GoodStats. (2024). Anak muda Indonesia habiskan 4–6 jam per hari di media sosial. Diakses dari https://data.goodstats.id/statistic/anakmudaindonesiahabiskan46jamperharidimediasosialUwbbp

Pew Research Center. (2025). Teens, social media and mental health. Diakses dari https://www.pewresearch.org/wp

content/uploads/sites/20/2025/04/PI_2025.04.22_teenssocialmediamentalhealth_REPORT.pdf

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses