Diplomasi Ekonomi dan Keamanan Tiongkok di Asia Timur: Strategi Perluasan Pengaruh dan Batasan Geopolitiknya

politik tiongkok
Diplomasi Ekonomi dan Keamanan Tiongkok di Asia Timur: Strategi Perluasan Pengaruh dan Batasan Geopolitiknya. Sumber: MMI.

Asia Timur merupakan sebuah sub-wilayah Asia yang terletak di antara Rusia di bagian utara dan di selatan terdapat Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Asia Timur merupakan wilayah yang mencakup negara-negara dengan kekuatan ekonomi besar dan warisan budaya yang kaya, terletak di sebelah timur benua Asia dan berbatasan langsung dengan Samudra Pasifik.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Wilayah Asia Timur mencakup beberapa negara maju yang memiliki keunggulan besar di sektor ekonomi dan bidang-bidang strategis lainnya. Di antaranya adalah Tiongkok, yang dikenal sebagai salah satu negara dengan kemajuan paling pesat di Asia.

Tiongkok merupakan negara terluas di Asia Timur dengan ibu kota di Beijing. Negara ini dipimpin dengan sistem Republik Sosialis Satu Partai. Saat ini, Tiongkok berdiri sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia.

Kemajuan pesat ini ditopang oleh sektor manufaktur massal, inovasi teknologi modern, dan jaringan perdagangan global yang sangat kuat. Sementara di bidang keamanan, Tiongkok memiliki tentara aktif terbesar di dunia yang didukung oleh teknologi militer modern.

Negara ini terus meningkatkan anggaran pertahanannya untuk memperbarui pesawat tempur, kapal perang, dan sistem pertahanan siber. Tiongkok juga memperkuat pengaruh keamanannya di Asia Timur dengan membangun pangkalan di wilayah strategis dan aktif melakukan latihan militer.

Perluasan pengaruh Tiongkok di Asia Timur pada dasarnya didorong oleh faktor sentralitas geografisnya sebagai negara dengan wilayah yang luas secara alami menjadi pusat interaksi regional.

Dalam memanfaatkan posisi strategis ini, Beijing menerapkan strategi yang dikenal sebagai pendekatan Glove and Fist (Sarung Tangan dan Tinju).

Strategi ini mengombinasikan kekuatan diplomasi secara halus atau bersifat low politic yang berbasis insentif ekonomi sebagai sarung tangan pembuka jalan untuk membangun kepercayaan awal dengan negara-negara tetangga.

Setelah ketergantungan ekonomi terbentuk, Tiongkok kemudian perlahan memperkuat pengaruhnya melalui instrumen yang bersifat High Politic yaitu posisi dengan posisi politik dan keamanan tiongkok yang merupakan tinju untuk mengamankan kepentingan nasionalnya.

Pola diplomasi dua arah yang kemudian menjadi dasar dari seluruh pergerakan strategis Tiongkok untuk memperkuat dan memperluas posisinya di kawasan Asia Timur.

Tiongkok mengintegrasikan instrumen ekonomi dan keamanan secara paralel sebagai strategi ganda untuk memperluas pengaruhnya di Asia Timur.

Baca Juga: Jalur Sutra di Kepulauan Cincin Api: Strategi Pragmatis Vanuatu dalam Mengelola Pinjaman dan Pengaruh Tiongkok

Di sektor ekonomi, Beijing memanfaatkan megaproyek infrastruktur Belt and Road Initiative (BRI) dan perjanjian dagang Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) untuk menciptakan ketergantungan pasar yang asimetris, hingga secara efektif mengikat negara-negara tetangga ke dalam orbit perekonomian.

Keterikatan ekonomi yang kuat ini kemudian digunakan Tiongkok sebagai landasan untuk menanamkan pengaruh keamanannya melalui inisiasi dialog pertahanan multilateral, latihan militer bersama, serta patroli maritim terpadu di wilayah-wilayah strategis.

Namun meskipun negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan memiliki tingkat ketergantungan perdagangan yang sangat tinggi terhadap Tiongkok, keterikatan ekonomi tersebut terbukti tidak membuat mereka tunduk di bawah pengaruh keamanan.

Isu tersebut diperkuat dengan adanya kekuatan dari barat atau pengaruh dari Amerika Serikat khususnya bagi Korea Selatan dan Jepang yang kerap melakukan kerja sama dalam bidang keamanan.

Tiongkok merespons isu tersebut dengan memperluas pengaruh High Politic melalui kemitraan strategis lain di Asia Timur, melalui intensifikasi latihan militer bersama dengan Rusia di laut Jepang, serta dukungan logistik dan ekonomi terhadap Korea Utara.

Melalui kemitraan tersebut Tiongkok berhasil menciptakan keseimbangan kekuatan (balance of power) guna mengimbangi dominasi militer Barat di kawasan tersebut.

Melalui kombinasi diplomasi uang dan proyeksi kekuatan militer yang terarah ini, Beijing tidak hanya mendominasi jalur perdagangan regional, tetapi juga berhasil menetapkan standar stabilitas baru yang berpusat pada kepentingannya di Asia Timur.

Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa bentuk kerja sama Tiongkok di Asia Timur merupakan strategi diplomasi yang terintegrasi untuk memperluas pengaruh ekonomi dan keamanannya di kawasan.

Sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia dengan kapasitas militer yang masif, Beijing tidak lagi menjadi aktor pasif.

Melalui pendekatan diplomasi ekonomi yang persuasif seperti proyek Belt and Road Initiative (BRI) dan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), Tiongkok berhasil membangun ketergantungan pasar asimetris yang mengikat negara-negara tetangga ke dalam orbit perekonomian.

Lalu pada sektor keamanan, strategi perluasan pengaruh ini berhasil diwujudkan melalui penguatan poros militer dengan mitra strategis seperti Rusia dan dukungan logistik pertahanan ke Korea Utara.

Namun, proyeksi kekuatan tersebut menemui batasan geopolitik yang ketat ketika berhadapan dengan Jepang dan Korea Selatan.

Baca Juga: Dilema Kedaulatan Laut Kepulauan Solomon: Investasi Tiongkok dan Ancaman IUU Fishing

Meskipun kedua negara tersebut memiliki ketergantungan ekonomi yang tinggi pada Tiongkok, mereka secara tegas menolak dominasi pertahanan Tiongkok.

Pada akhirnya, diplomasi Tiongkok di Asia Timur sukses memperluas dominasi ekonominya, tetapi di sektor keamanan, strategi ini justru memperkuat polarisasi kawasan Asia Timur antara Tiongkok dan Amerika Serikat.


Penulis: Cristin R. Trapen (NIM: 2023031054030)
Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Cenderawasih (UNCEN)


Dosen Pengampu: Melpayanty Sinaga, S.IP., M.A.


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses