Jalur Sutra di Kepulauan Cincin Api: Strategi Pragmatis Vanuatu dalam Mengelola Pinjaman dan Pengaruh Tiongkok

Vanuatu dan Tiongkok
Ilustrasi Negara Vanuatu (Foto: Dok. MMI)

Kawasan Pasifik Selatan saat ini telah menjadi arena strategis perebutan kekuasaan dan adu kekuatan oleh negara-negara besar, terutama Amerika Serikat dan Tiongkok bersaing memperebutkan pengaruh.

Di tengah gejolak geopolitik yang memaksa negara-negara kecil harus mempertahankan kedaulatan nya, salah satunya Vanuatu.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Vanuatu dituntut untuk cerdas dalam memilih strategi dan menyampaikan kepentingan nasionalnya.

Judul ini telah menggambarkan bahwa Vanuatu, berhasil menjalankan strategi tersebut, alih-alih menjadi korban, ia justru menggunakan strategi pragmatis untuk memaksimalkan kepentingan nasionalnya dalam persaingan ini, walaupun harus menghadapi resiko utang.

Vanuatu awalnya merupakan negara “anti-Tiongkok”, mereka mengatakan bahwa tidak akan menerima atau bekerja sama dengan Taiwan.

Namun dalam hal ini Vanuatu menerima masuknya Program Infrastruktur Tiongkok yaitu BRI masuk ke negaranya.

Mengapa demikian? Berangkat dari kebutuhan infrastruktur mendesak. Kemudian, Tiongkok hadir dengan Mega Projects dengan penanganan yang cepat, dengan adanya pinjaman ini terjadi peningkatan pelabuhan Luganville, memberikan Vanuatu akses intan untuk pembangunan yang dibutuhkan.

Vanuatu sangat membutuhkan infrastruktur yang kuat, oleh karena wilayah ini sangat rentan dengan perubahan iklim, namun sering kali untuk mendapat donor dari negara lain, proses dan syarat-syarat yang harus dipenuhi memakan waktu yang cukup lama dan rumit.

Sikap pro terhadap Tiongkok bukanlah sesuatu yang permanen. Vanuatu tetap memikirkan strategi untuk tidak bergantung pada Tiongkok dengan menjalankan Strategi Hedging, dimana ini adalah strategi dalam menyeimbangkan resiko perangkap utang Tiongkok den potensi penggunaan fasilitas sipil untuk militer.

Strategi ini dilakukan dengan Vanuatu tetap menjalin kerjasama keamanan dan regional dengan Australia, Selandia Baru dan terlibat dalam Pacific Island Forum (PIF).

Vanuatu menggunakan strategi ini agar tetap dapat menerima manfaat ekonomi dari program Tiongkok namun tetap berlandaskan pada prinsip memaksimalkan manfaat dari semua pihak.

Meskipun strategi ini kedengarannya sangat membantu, namun strategi ini hanya mengurangi resiko dan tidak dipungkiri Vanuatu tetap memiliki utang yang cukup signifikan kepada Tiongkok yang menimbulkan kerentanan ekonomi jangka panjang.

Jika gagal melunasi pinjaman maka, Vanuatu harus melakukan konsesi aset yang diarahkan pada pelabuhan Luganville.

Hal ini tentu menjadi ancaman kedaulatan ekonomi bagi Vanuatu. Pemerintah dan masyarakat Vanuatu perlu mengawasi transparansi dan keberlanjutan proyek tersebut benar-benar menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang mampu menutupi beban utang.

Vanuatu telah menjadi contoh bahwa negara- negara kecil di pasifik bukan sekedar menjadi pion, namun ia menunjukkan bahwa integrasi suatu negara adalah sesuatu yang sangat penting.

Dengan kemampuan negosiasi kelangsungan strategi ini bergantung pada kapasitas kelembagaan Vanuatu sendiri.

 

Penulis: Claudia Marcia Anastasia Santioso
Mahasiswa Prodi Hubungan Internasional, Universitas Cenderawasih

Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses