Penyakit mulut dan kuku (PMK) adalah penyakit dari virus akut yang menyerang hewan-hewan berkuku belah. Contoh hewan seperti sapi, kambing, domba, dan babi. Penyebab dari penyakit ini adalah virus asam ribonukleat (RNA) dari genus Aphthovirus, famili Picornaviridae.
Penyakit ini termasuk penyakit yang sangat menular dengan tingkat morbiditas tinggi, tetapi umumnya tingkat mortalitasnya rendah. Penularan ini bisa melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, cairan tubuh, udara, serta kontaminasi pada pakan dan peralatan.
Gejala klinis ada beberapa yaitu demam tinggi, lesi vesikular di mulut, lidah, kuku, dan ambing, serta hipersalivasi (World Organisation for Animal Health, n.d.). Pada sapi, gejala umum yang dapat terlihat antara lain pincang dan penurunan produksi susu.
Kementrian Pertanian memberi data yang mencatat bahwa antara 28 Desember 2024 hingga 20 Januari 2025, tercatat 27.241 kasus PMK di 2.907 desa, dengan 832 ternak mati dan 387 ekor dipotong paksa. Sejak Desember 2024 hingga 20 Januari 2025, PMK telah menyebar ke 17 provinsi dan 121 kabupaten/kota (Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan, 2025). Prediksi jumlah ternak yang terdampak akan terus bertambah.
Penyakit mulut dan kuku bukan merupakan penyakit zoonosis sehingga daging dan susu asal ternak terinfeksi PMK aman untuk dikonsumsi oleh manusia. Namun, Lonjakan PMK tetap perlu diwaspadai karena dapat berpengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan kita.
Pada aspek produksi, Menurut Hussain et al (2018), penyakit mulut dan kuku menyebabkan penurunan produksi susu, penurunan berat badan, hilangnya efisiensi kerja pada hewan dan perubahan struktur kawanan. Ansari-Lari et al. (2017), melaporkan bahwa sapi perah yang terkena penyakit PMK 19 Rohma et al. National Conference of Applied Animal Science 2022 mengalami penurunan produksi susu sebesar 5-8%.
Penurunan produksi susu dapat disebabkan oleh kematian ternak, perpanjangan calving interval dan pertumbuhan yang rendah pada sapi dara akibat adanya penurunan bobot badan (Hussain et al., 2018).
Tingkat pertumbuhan yang rendah pada sapi dara dapat mempengaruhi penundaan umur kawin pertama. Pernyataan tersebut sejalan dengan penelitian Atabany et al. (2011), melaporkan bahwa penundaan umur kawin pertama disebabkan oleh penurunan bobot badan pada sapi.
Akibat terganggunya proses berkembang biak atau kawin pada sapi, Ketahanan pangan nasional turut terganggu karena PMK menyebabkan penurunan produksi protein hewani secara luas, gangguan rantai pasok daging dan susu yang memicu kenaikan harga pasar hingga mengancam akses pangan masyarakat miskin, serta peningkatan kerentanan sosial-ekonomi peternak skala kecil yang bergantung pada ternak sebagai sumber utama penghidupan.
Strategi Pencegahan Kasus PMK
Lonjakan kasus PMK merupakan ancaman serius bagi dunia peternakan. Untuk itu perlu dilakukan pencegahan, karena pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan. Beberapa langkah pencegahan yang dapat diterapkan sebagai berikut:
1. Biosekuriti Ketat dan Berkelanjutan
Biosekuriti harus dilakukan setiap hari, bukan hanya saat ada wabah.
Semakin baik biosekuriti diterapkan, semakin kecil risiko wabah yang bisa merugikan peternak. Langkah biosekuriti efektif meliputi:
- Tempatkan footbath (bak rendam kaki) berisi disinfektan di pintu masuk kandang.
- Membatasi aktivitas keluar-masuk orang dan kendaraan.
- Gunakan pakaian khusus kandang, seperti sepatu bot dan baju kerja.
- Buang sisa pakan dan limbah dengan benar dan tepat.
- Pisahkan ternak berdasarkan usia dan jenis, karena anak sapi lebih rentan terkena penyakit.
2. Karantina Ternak Baru
Ternak baru harus diisolasi selama 10–14 hari sebelum digabungkan dengan kelompok yang sudah ada. Karantina dapat mengantisipasi serta meminimalkan risiko masuknya virus dari luar.
3. Vaksinasi Rutin
Vaksin adalah alat paling efektif dalam mencegah wabah. Prinsip vaksinasi PMK:
- Diberikan pada ternak sehat.
- Booster vaksin sesuai jadwal (biasanya 4–6 bulan sekali).
- Dilakukan secara massal agar terbentuk kekebalan kelompok.
4. Manajemen Kebersihan Kandang
Kebersihan kandang menentukan tingkat kestabilan kesehatan ternak. Hal yang harus diperhatikan:
- Lantai kandang tidak boleh terlalu lembap.
- Air minum wajib diganti setiap hari.
- Pakan harus disimpan di tempat tertutup agar tidak terkontaminasi.
5. Edukasi dan Pelatihan Peternak
Peternak yang paham gejala PMK dapat melakukan pelaporan cepat sehingga penyebaran berhenti lebih dini. Pelatihan rutin mengenai vaksinasi, biosekuriti, dan manajemen kesehatan ternak sangat diperlukan.
Strategi Pengendalian Kasus PMK
Beberapa tindakan yang telah dilakukan oleh pemerintah dan petani-peternak dalam penangan dan pengendalian penyakit PMK diantaranya adalah:
1. Isolasi dan Karantina Ternak
Ternak yang diketahui menderita gejala klinis PMK harus dilakukan isolasi sebagai upaya meminimalisir penyebaran penularan penyakit PMK antar ternak. Beberapa daerah bahkan memberlakukan kebijakan lockdown dan menutup lalu lintas perdagangan ternak baik dari dalam maupun dari luar daerah sebagai bentuk antisipasi dan upaya tindakan preventif.
Hal ini sesuai hasil analisa Sudarsono (2022) bahwa identifikasi penularan dan penyebaran PMK dapat diduga dari faktor resiko potensial diantaranya adalah pemasukan hewan ternak yaitu sapi dari luar daerah, pembelian sapi di pasar hewan dari suatu daerah, peternak maupun pengunjung yang mendatangi kandang ternak sakit, biosecurity yang buruk dan transportasi.
2. Pengobatan Simptomatik
Berbagai contoh pengobatan simptomatik yang dilakukan oleh petani-peternak diantaranya adalah penggunaan antiseptik di daerah mulut, pengobatan secara tradisional melalui pembuatan ramuan jamu dari tanaman herbal, cairan cukup untuk dehidrasi yang disebabkan sulit minum dan karena demam, pengobatan suportif lainnya (Basuki et al., 2019).
3. Vaksinasi
Program vaksinasi menjadi rujukan utama dalam pemberantasan dan penanganan penyakit PMK. Keberlangsungan program vaksinasi sebagai pengendalian terhadap penyakit PMK bertujuan mencapai harapan terbentuknya herd immunity.
Tenaga veteriner memiliki peran yang cukup vital dalam keberhasilan program vaksinasi ini. Pemberian vaksin pada sapi merupakan langkah efektif dalam pemberantasan penyakit PMK.
Pada dasarnya, vaksin dibuat melalui tahapan isolasi dan duplikasi gen yang mengkode pembentukan kulit protein virus. Gen tersebut kemudian akan dimasukan pada plasmid bakteri E.Coli dan selanjutnya E.Coli akan membentuk protein yang nantinya akan direkayasa untuk bekerja terhadap virus PMK (Abdurahman, 2008).
Penyakit mulut dan kuku (PMK) merupakan ancaman yang serius bagi sektor peternakan. Wabah ini menyebar dengan cepat melalui kontak langsung dan kontaminasi lingkungan, sehingga terjadi penurunan produksi susu, berat badan, dan gangguan pada reproduksi yang signifikan.
Dampak pada bidang ekonomi yang ditimbulkan cukup besar, terutama bagi peternak kecil yang bergantung pada ternak sebagai sumber penghidupan utama. Upaya pencegahan dan pengendalian PMK sangatlah penting, termasuk penerapan biosekuriti ketat, karantina ternak baru, vaksinasi rutin, manajemen kebersihan kandang, serta edukasi peternak agar dapat mendeteksi dan melaporkan gejala dengan cepat.
Pemerintah dan para pemangku kepentingan perlu bekerja sama untuk memastikan keberhasilan vaksinasi massal dan pengendalian lalu lintas ternak demi menghambat penyebaran penyakit, agar kesejahteraan peternak dan kestabilan produksi pangan nasional juga terjaga. Pendekatan strategis yang terintegrasi ini diharapkan dapat meminimalkan dampak wabah PMK dan mendukung tercapainya swasembada pangan hewani yang berkelanjutan.
Penulis:
- Anita Fany Hasibuan
- Dita Aulya Artikasari
- Ni Luh Anggita Aprilia Putri
- Priscilla Kannitha Saputri
- Sarah Athirah
Mahasiswa Kedokteran Hewan, Universitas Udayana
Dosen Pengampu: Eirenne Pridari Sinsya Dewi, S.S., M.Ed.
Referensi
Abdurahman, D. (2008). Biologi Kelompok Pertanian. PT Grafindo Media Pratama.
Adhiem, M. A. (2025). Wabah penyakit mulut dan kuku (PMK): Evaluasi dampak dan alternatif kebijakan. Info Singkat Komisi IV, Vol. XVII, No. 2/II/PUSAKA. Pusat Analisis Keparlemenan, Badan Keahlian DPR RI.
https://berkas.dpr.go.id/pusaka/files/info_singkat/Info%20Singkat-XVII-2-II-P3DI-Januari-2025-1904.pdf.
Ansari-Lari, M., Mohebbi-Fani, M., Lyons, N. A., & Azizi, N. (2017). Impact of FMD outbreak on milk production and heifers’ growth on a dairy herd in southern Iran. Preventive veterinary medicine, 144, 117-122. https://doi.org/10.1016/j.prevetmed.2017.05.022
Atabany, A., Purwanto, B. P., Toharmat, T., & Anggraeni, A. (2011). Hubungan masa kosong dengan produktivitas pada sapi perah Friesian Holstein di Baturraden, Indonesia. Media peternakan, 34(2), 77-77. https://doi.org/10.5398/medpet.2011.34.2.77
Basuki, R. S., Isnaini, M. F., & Poermadjaja, B. (2020). Penyidikan Kasus Penyakit pada Sapi Suspect PMK di Kabupaten Pamekasan Tahun 2019. Prosiding Surveilans dan Penyidikan (Outbreak Investigation) Penyakit Hewan. http://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/1509
Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. (2022). Pedoman pengendalian dan penanggulangan penyakit mulut dan kuku (PMK). Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
Hussain, A., Abubakar, M., Shah, H., Arshed, M. J., Hussain, M., & Afzal, M. (2017). Socioeconomic impact of foot and mouth disease vaccination in Pakistan. Pak. J. Life Soc. Sci, 15(3), 183-191.
Soeharsono, H., & Wiyono, A. (2019). Manajemen kesehatan ternak dan pengendalian penyakit hewan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Sudarsono, R. P. E. (2022). Kajian Epidemiologi Kejadian Diduga Penyakit Mulut dan Kuku di Kabupaten Lamongan Epidemiological Study of Suspected Occurrence of Foot and Mouth Disease in Lamongan Regency. Journal of Basic Medical Veterinary, 11(1), 56-63. https://ejournal.unair.ac.id/JBMV
World Organisation for Animal Health. (2021). Foot and mouth disease (FMD): Prevention, control and biosecurity measures. Paris: OIE.
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












