Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) bekerja sama dengan mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (UNTAR) melaksanakan intervensi self-control atau kontrol diri bagi Anak Binaan selama dua minggu melalui program STOP-RJ, Rabu (15/4/2026).
Program ini bertujuan membantu Anak Binaan mengenali emosi, mengelola respons, serta meningkatkan kemampuan pengendalian diri dalam kehidupan sehari-hari. Secara teoritis, kontrol diri merupakan kapasitas individu untuk mengubah atau mengatasi respons impulsif serta menyelaraskan perilaku mereka dengan standar moral dan sosial (Arifin & Milla, 2020).
Penahanan di lingkungan lembaga pemasyarakatan sering kali membatasi ruang gerak anak, sehingga intervensi terstruktur seperti STOP-RJ sangat krusial untuk melatih fungsi eksekutif mereka agar mampu beradaptasi secara positif (Megawati dkk., 2025).
Intervensi dilakukan melalui penggunaan buku jurnal yang dihias secara kreatif oleh masing-masing Anak Binaan. Mereka diberikan kebebasan menambahkan stiker, menggambarkan diri yang ideal, serta menuliskan kelebihan, kekurangan, dan cita-cita mereka. Dalam jurnal tersebut, Anak Binaan juga diminta mencatat perasaan harian serta membuat skenario “jika–maka” sebagai latihan pengendalian diri dalam berbagai situasi.
Penggunaan jurnal ini sejalan dengan dimensi kontrol diri yang dikemukakan oleh Arifin dan Milla (2020), di mana proses menulis harian dan menyusun skenario “jika-maka” dapat menstimulasi kemampuan inisiasi (memulai tindakan yang adaptif) dan penghambatan (menahan dorongan impulsif).
Melalui pencatatan perasaan harian dan latihan skenario tersebut, Anak Binaan secara tidak langsung dilatih untuk melakukan refleksi diri secara mendalam. Pendekatan jurnal reflektif ini terbukti efektif dalam memfasilitasi regulasi emosi mandiri pada remaja yang berada di dalam pemaslahatan hukum (Megawati dkk., 2025).
“Kontrol diri itu memang penting, karena mereka berada dalam lingkungan baru dan saling belum terlalu mengenal satu sama lain. Kadang ada yang mudah emosi, ada juga yang bercanda tanpa melihat situasi, jadi kemampuan mengendalikan diri itu sangat diperlukan agar tidak terjadi kesalahpahaman atau konflik,” ujar Fatimah Fitri selaku staf pembinaan LPKA.
Kondisi empiris di lapangan menunjukkan bahwa remaja di lembaga pembinaan umumnya memiliki tingkat kontrol diri yang berada pada kategori rendah hingga moderat, yang apabila tidak diintervensi, akan memicu tindakan agresif yang merugikan diri sendiri maupun orang lain (Megawati dkk., 2025). Ketika kontrol diri individu rendah, mereka cenderung gagal dalam memenuhi fungsi sehari-hari secara teratur dan lebih rentan terlibat dalam konflik interpersonal akibat ketidakmampuan menghambat dorongan impulsif (Arifin & Milla, 2020).
Secara umum, Anak Binaan diketahui memiliki tingkat kontrol diri yang masih rendah sehingga berpotensi menimbulkan konflik yang dapat merugikan diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Oleh karena itu, mahasiswa Fakultas Psikologi UNTAR menilai pendekatan STOP-RJ sebagai metode yang efektif untuk membantu meningkatkan self-control. Melalui pendekatan ini, Anak Binaan diajak memahami bahwa setiap orang pernah melakukan kesalahan sehingga diharapkan dapat lebih menerima diri dan belajar mengelola emosi dengan lebih baik.
Dalam pelaksanaannya, Anak Binaan diberi kebebasan menghias sampul jurnal agar kegiatan terasa lebih menyenangkan dan tidak bersifat memaksa. Pada minggu pertama, mereka difokuskan untuk lebih jujur terhadap perasaan harian mereka. Dengan bantuan emoji, mereka belajar mengenali berbagai emosi seperti kebahagiaan, kesedihan, ketakutan, jijik, kemarahan, dan terkejut.
Proses identifikasi perasaan harian dalam jurnal ini didasarkan pada teori emosi oleh Paul Ekman, yang menyatakan bahwa manusia memiliki 6 emosi dasar yang bersifat universal, yaitu marah, sedih, takut, senang, jijik, dan terkejut (Ekman, 1992). Bagi sebagian Anak Binaan, mengungkapkan perasaan bukanlah perkara mudah. Namun, intervensi melalui aktivitas menulis jurnal membantu mereka menjadi lebih terbuka.
Sebelum memasuki minggu terakhir, Anak Binaan mendapatkan psikoedukasi mengenai pentingnya membedakan antara pikiran, emosi, dan perilaku. Anak Binaan diberikan pemahaman bahwa pikiran merupakan aspek yang dapat dikelola untuk memengaruhi perasaan yang muncul. Meskipun emosi seperti marah atau kesal adalah hal yang wajar dan boleh dirasakan sebagai manusia, Anak Binaan ditekankan untuk menyadari bahwa mereka memiliki kendali penuh atas pikiran yang mereka pilih agar tidak bertindak secara impulsif. Dengan mengelola pikiran secara sehat dan memberikan waktu untuk berpikir sebelum bereaksi, Anak Binaan diharapkan dapat mengontrol perilaku mereka sehingga tidak berkembang menjadi tindakan agresif yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Pada minggu terakhir, Anak Binaan diajak membayangkan situasi yang berpotensi memicu emosi mereka dan menyusun respons yang tepat. Misalnya, “Jika aku merasa sedih karena kangen rumah, maka aku akan mencoba mengatur napas dan mengobrol dengan teman di sebelahku.” Strategi ini melatih mereka untuk merencanakan respons sebelum masalah terjadi sehingga reaksi impulsif dapat berubah menjadi tindakan yang lebih terkontrol. Secara psikologis, teknik pengkondisian kognitif ini memperkuat dimensi penghambatan (inhibition) pada kontrol diri, sehingga anak mampu mengerem distorsi emosional sebelum berkembang menjadi tindakan agresif yang destruktif (Arifin & Milla, 2020). Megawati dkk. (2025) juga menegaskan bahwa perencanaan respons antisipatif sebelum masalah terjadi dapat mengubah reaksi impulsif menjadi tindakan yang lebih terkontrol.
“Semoga melalui pendekatan ini, kami dapat membantu Anak Binaan mengatasi masalah self-control dan lebih memikirkan masa depan mereka,” ujar salah satu mahasiswa pendamping.
Setelah mengikuti intervensi, Anak Binaan melaporkan adanya perubahan dalam cara mereka memahami dan mengelola emosi. Salah satu Anak Binaan mengungkapkan, “Berhasil sih… tarik napas dulu, tenangin diri dulu, baru mikirin kayak, ‘oh yaudah, nih anak bercanda doang, bukan mengejek atau ngajak berantem.’” Ungkapan ini membuktikan bahwa intervensi jurnal reflektif mampu melatih individu untuk menguji rasionalitas stimulus sebelum memberikan respons perilaku, yang merupakan manifestasi dari fungsi kontrol diri yang adaptif (Arifin & Milla, 2020).
Perubahan juga terlihat dari kondisi lingkungan pembinaan. Fatimah menjelaskan bahwa setelah intervensi pada periode 14–28 April, kasus yang masuk ke ruang Pengawasan dan Penegakan Disiplin (Wasgakin) mengalami penurunan signifikan. Bahkan, pada bulan terakhir hampir tidak ditemukan laporan kasus.
“Beberapa anak juga sudah mulai bisa mengontrol emosi dan mulai berani mengajak teman-temannya berkomunikasi dengan lebih baik,” tutup Fatimah selaku staf pembinaan. Penurunan tingkat pelanggaran disiplin ini membuktikan secara empiris bahwa peningkatan kontrol diri melalui jurnal reflektif secara linier berkontribusi pada penurunan perilaku antisosial dan agresi di dalam lingkungan LPKA (Megawati dkk., 2025).
Daftar Pustaka
Arifin, H. H., & Milla, M. N. (2020). Validasi dan adaptasi skala kontrol diri ringkas versi Indonesia. Jurnal Psikologi Sosial, 18(2), 147–158. https://doi.org/10.7454/jps.v18i2.1030
Ekman, P. (1992). An argument for basic emotions. Cognition & Emotion, 6(3-4), 169–200. https://doi.org/10.1080/02699939208411068
Megawati, M., dkk. (2025). Efektivitas intervensi Self-Control for Pupils Reflective Journaling (STOP-RJ) untuk meningkatkan kontrol diri anak binaan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Jakarta. Jurnal Intervensi Psikologi, 17(1), 1–15. https://doi.org/10.20885/jip.vol17.iss1.art1
Penulis:
1. Elvin (705230008)
2. Fersuswanti Hitiyahubessy (705230435)
3. Eka Wulandari (70523456)
Penulis Psikologi Universitas Tarumanagara (UNTAR)
Dosen Pengampu:
1. Naomi Soetikno, Dr., M.Pd., Psikolog.
2. Azka Ghaisani Nabila, M.Psi., Psikolog
Editor: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












