Akhir-akhir ini Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Berbagai masalah lahir dan menghiasi roda pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Di bidang ekonomi terjadi penurunan daya beli, krisis utang dan fiskal, dan tantangan inflasi.
Di samping itu, berbagai isu dan masalah juga terjadi di bidang sosial, politik dan keamanan yang diwarnai dengan tingginya tingkat kriminalitas, ancaman terhadap proses demokrasi, dan penyelewengan hukum.
Tidak ketinggalan di bidang kesehatan dan lingkungan juga terjadi banyak masalah yang ditandai dengan krisis kelaparan dan bencana, ancaman bencana global, darurat kesehatan, dan krisis ekologi yang tampak dalam pengeksploitasian hutan untuk proyek-proyek pembangunan.
Di tengah masalah di berbagai bidang, krisis ekologi perlu mendapatkan perhatian yang serius.
Sebab, saat ini terjadi banyak praktik kerusakan ekologi baik dalam skala kecil maupun dalam skala besar.
Dalam skala kecil perilaku perusakan ekologi tercermin melalui pembuangan sampah dan limbah industri di sembarang tempat, penangkapan ikan dengan bahan peledak dan pukat harimau, penggunaan pestisida yang berlebihan, dan pertanian tradisional yang berpindah-pindah.
Dalam skala besar, praktik perusakan ekologi ditandai dengan proyek pembangkit listrik tenaga uap yang tidak memiliki analisis dampak lingkungan (AMDAL) yang baik, proyek pertambangan, pembakaran hutan, dan pengeksploitasian hutan untuk program monokultur.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) mencatat bahwa angka deforestasi hutan di Indonesia pada tahun 2025 mencapai 200.000 hektar yang diprediksi dapat mengalami lonjakan hingga 500.000-600.000 hektar.
Di awal tahun 2026, WALHI menunjukkan bahwa sebanyak 26 juta hektar hutan di Indonesia mengalami deforestasi.
Sebagian besar hutan yang dideforestasi dialihfungsikan untuk proyek berkedok penguatan pertumbuhan ekonomi dan ketahanan pangan.
Kerusakan- kerusakan ekologi ini berdampak pada stabilitas dan keharmonisan masyarakat Indonesia.
Dengan demikian, persoalan kerusakan ekologi merupakan persoalan yang kompleks sehingga membutuhkan penyelesaian yang holistik.
Lantas, mengapa kerusakan ekologis terjadi? Pertanyaan ini adalah pertanyaan fundamental untuk menemukan penyebab utama terjadi kerusakan ekologi.
Menjawab pertanyaan ini dibutuhkan kajian filosofis tentang manusia dan alam.
Kajian filosofis menunjukkan bahwasanya akar terdalam kerusakan ekologi adalah cara pandang yang salah manusia terhadap alam.
Manusia cenderung mereduksi alam sebagai alat untuk kepentingan manusia.
Cara pandang inilah yang mendorong manusia hanya berusaha untuk memanfaatkan alam bahkan mengeksploitasi alam untuk kepentingan dan kebahagiaannya.
Dengan kata lain, manusia tidak menyadari hakikat hubungannya dengan alam.
Arne Naes seorang filsuf berkebangsaan Norwegia menunjukkan bahwa manusia dan alam adalah dua entitas yang tidak dapat dipisahkan dan saling bergantungan.
Oleh karena itu, manusia mesti melihat dan menyadari alam sebagai bagian dari hidupnya yang mesti dijaga dan dirawat.
Kesadaran ekologis manusia akan keterikatannya dengan alam menjadi sangat penting agar manusia dapat memahami bagaimana aktivitas manusia memengaruhi lingkungan dan bagaimana lingkungan memengaruhi manusia.
Dengan demikian, manusia mampu menjaga, merawat, mengelola dan memanfaatkan alam secara bertanggung jawab.
Kesadaran ekologis juga memungkinkan komunikasi manusia dengan alam.
Komunikasi manusia dengan alam berbeda dengan komunikasi antamanusia melalui percakapan.
Komunikasi manusia dengan alam dilakukan melalui sikap peduli manusia terhadap alam.
Pemahaman komprehensif mengenai komunikasi manusia dengan alam dapat ditelisik melalui tiga teori komunikasi.
Pertama, teori naturalisasi budaya. Teori ini digagas oleh Donal Carabaugh yang menekankan bahwa bukan hanya tentang alam ketika berbicara mengenai komunikasi manusia dengan alam, tetapi juga bagaimana peran bahasa dalam membentuk makna ruang alam.
Carabaugh menegaskan bahwa manusia perlu mempunyai kemampuan untuk mendengarkan alam melalui kepekaan terhadap perubahan alam, keterlibatan penuh dalam menjaga dan merawat alam, dan bertanggung jawab atas setiap aktivitas yang melibatkan alam.
Kedua, teori material alam oleh Richard Rogers. Gagasan utama teori ini menegaskan bahwa alam tidak dapat konstruksi oleh manusia sebagai sesuatu yang pasif.
Namun, sebaliknya alam mesti memiliki kekuatan aktif dan diberi ruang.
Teori ini juga menekankan bahwa manusia mesti membuka ruang dan mendengarkan alam.
Ketiga, teori keterampilan bahasa. Teori ini menegaskan bahwa sejatinya hanya manusia yang memahami alam dengan rasio.
Melalui rasio, manusia mampu memahami simbol-simbol yang diberikan oleh alam.
Dengan demikian, teori ini menekankan bahwa manusia mesti menggunakan kemampuannya itu untuk mendengar dan memahami alam.
Keempat, teori alam sebagai yang lain. Teori ini menjelaskan bahasa manusia dan alam bukanlah satu kesatuan.
Alam dilihat sebagai yang lain dan berada di luar manusia. Cara pandang inilah yang menjadi akar penyebab terjadinya kerusakan lingkungan.
Empat teori di atas dapat menjadi pisau analisis untuk melihat untuk melihat kerusakan ekologi saat ini.
Masifnya kerusakan ekologi saat ini disebabkan oleh manusia yang kurang peka untuk mendengarkan alam, manusia tidak peduli dengan tanda- tanda yang disampaikan oleh alam.
Selain itu, manusia saat ini cenderung berpikir antroposentris dan melihat alam sebagai yang lain untuk dimanfaatkan secara bebas.
Kerusakan ekologi saat ini juga menuntut tindakan praktis dari berbagai pihak baik yang bersifat preventif maupun kuratif.
Generasi muda menjadi garda terdepan untuk mengatasi kerusakan ekologi saat ini dengan menguatkan nalar kritis untuk melihat berbagai kebijakan pemerintah yang berpotensi merusak alam.
Sementara itu, pemerintah mesti bijak dalam membuat kebijakan pemanfaatan alam dengan analisis dan pak lingkungan yang baik dan jelas.
Akhirnya, semua orang perlu membangun kesadaran ekologis melalui tindakan merawat dan menjaga alam.
Penulis: Kasimirus Rape Baluk
Mahasiswa Prodi Ilmu Filsafat, IFTK Ledalero
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












