Dakwah di Atas Awan: Saat Doa Islam dan Mantra Tengger Larut dalam Satu Sarung

Dakwah di Atas Awan
Ilustrasi Gunung Semeru (MMI Art)

Di pegunungan Tengger yang sering diselimuti oleh kabut, hiduplah sebuah harmoni spiritual yang khas. Harmoni itu bukan hanya berdampingan antara Islam dan tradisi adat, tetapi juga perpaduan yang dalam, karena diwariskan dari generasi ke generasi. Karena tradisi Tengger sangat kuat, maka dari itu penyampaian ajaran dilakukan dengan hati-hati dan penuh rasa hormat terhadap adat setempat.

Cara penyelarasan ini sering disebut dengan Dakwah di Atas Awan, hal ini menjadi gambaran bagaimana dakwah berusaha menjembatani nilai agama dan kebiasaan lokal. Dalam praktiknya, doa-doa Islam dan mantra-mantra Tengger kadang terlihat berdekatan dalam kegiatan sosial, nah hal ini menunjukkan bahwa masyarakat mampu menjaga budaya sekaligus menerima ajaran agama baru.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Baca juga: Perayaan Unik di Kaki Gunung Semeru: Dari Festival Budaya hingga Upacara Adat

Dakwah yang Merangkul Tradisi

Dakwah di Atas Awan merupakan cara menyebarkan ajaran Islam yang terbuka dan fleksibel. Daripada mengesampingkan atau melawan tradisi lokal, pendekatan ini menerima dan memakai tradisi itu sebagai jalan.

Di Tengger, dakwah jenis ini memaknai dan mengisi upacara adat dengan nilai-nilai spiritual Islam sehingga orang-orang yang melakukan adat dapat memahami dan merasakan ajaran Islam tanpa harus meninggalkan kebiasaan budaya mereka.

Pendekatan ini sejalan dengan prinsip pribumisasi Islam, di mana ajaran agama disesuaikan dengan konteks budaya setempat tanpa kehilangan esensinya.[1] Harmonisasi ini sangat penting mengingat masyarakat Tengger terdiri dari pemeluk berbagai agama, termasuk Hindu, Buddha, dan Islam, yang hidup berdampingan dalam komunitas multicultural.[2]

Di kehidupan sehari-hari, harmonisasi itu tampak jelas dalam upacara-upacara adat. Pemimpin agama baik dari Islam maupun pemimpin adat turut aktif menjaga dialog dan kerja sama antaragama. Karena itu, orang-orang saling menghormati dan lebih mudah saling mengerti.[3] Akibatnya, masyarakat Tengger hidup dalam suasana persatuan dan solidaritas yang kuat. 

Baca juga: Manuskrip Doa dan Mantra dalam Manuskrip Arab Koleksi Makrifat Iman di Cirebon, Jawa Barat

Doa dan Mantra dalam Satu Tarikan Nafas

Sinkretisme antara doa Islam dan mantra Tengger menjadi inti dari “Dakwah di Atas Awan”. Dalam beberapa ritual adat, seperti Unanunan (ritual lima tahunan untuk pembersihan desa dan alam semesta) atau Entas-entas (ritual penyucian arwah), seringkali ditemukan perpaduan unik ini.

Mantra-mantra Tengger kuno, yang sarat akan makna filosofis dan spiritual, dapat diawali atau diakhiri dengan kalimat-kalimat thayyibah seperti Basmalah atau Hamdalah bagi warga Muslim.[4]

Modifikasi ini bukan berarti menghilangkan mantra, melainkan memberikan dimensi baru yang memperkaya praktik spiritual. Sesaji yang merupakan bagian tak terpisahkan dari ritual adat, dimaknai ulang sebagai bentuk sedekah dalam perspektif Islam, menunjukkan bagaimana nilai-nilai agama dapat menyatu dengan tradisi tanpa menimbulkan konflik.[5]

Perpaduan ini menciptakan sebuah ruang di mana keyakinan yang berbeda dapat bertemu dan saling melengkapi, membentuk identitas spiritual yang khas bagi masyarakat Tengger.

Baca juga: Di Antara Doa dan Data: Zakat Sebagai Jalan Indonesia Menuju Kemakmuran

Sarung Merupakan Simbol Identitas dan Harmoni

Dalam konteks ini, “sarung” menjadi metafora yang kuat untuk menggambarkan harmoni dan kebersamaan. Sarung bukan hanya sekadar pakaian tradisional yang melindungi dari dinginnya udara pegunungan, tetapi juga simbol identitas komunal yang mendalam. [6]

Sarung dikenakan oleh berbagai kalangan, baik Dukun Pandita (pemimpin adat Hindu) maupun warga Muslim, saat beribadah atau menghadiri ritual adat. Ini menunjukkan bahwa sarung melampaui batas-batas agama, menjadi wadah pemersatu yang mengikat seluruh elemen masyarakat Tengger.

Filosofi di balik penggunaan sarung juga mencerminkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan. Setiap simpul dan motif pada sarung dapat memiliki makna tersendiri, merepresentasikan cerita dan adat istiadat yang dipegang teguh.[7]

Dalam bingkai “Dakwah di Atas Awan”, sarung menjadi simbol nyata di mana doa-doa Islam dan mantra-mantra Tengger dapat “larut” bersama, menciptakan tapestry spiritual yang indah dan saling menghargai.

Kesimpulan

Dakwah di Atas Awan: Saat Doa Islam dan Mantra Tengger Larut dalam Satu Sarung merupakan sebuah narasi tentang kearifan lokal dalam menghadapi pluralitas. Ini adalah kisah tentang bagaimana dakwah Islam di Tengger tidak hanya berhasil beradaptasi, tetapi juga memperkaya tradisi yang sudah ada, menciptakan sebuah harmoni yang langka dan patut dicontoh.

Di atas awan-awan Bromo, di tengah hembusan angin pegunungan, doa dan mantra bersatu dalam satu sarung, menjadi bukti nyata bahwa perbedaan dapat menjadi kekuatan yang mempersatukan.


Penulis: Hanayang Nur Fatimah
Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an Tafsir Universitas Islam Negeri Salatiga


Dosen Pengampu: Dr. M. Nuryansah, M. Hum dan Farid Hasan, M. Hum


Editor: Fery Haryanto
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Daftar Pustaka

Adinda Livia Azzahra, FILOSOFI PENGGUNAAN SARUNG SUKU TENGGER: EKSPLORASI IDENTITAS BUDAYA DI DESA NGADAS, KABUPATEN MALANG, n.d.

  Ali Murtadlo and Ali Nurdin, The Harmonization of Dakwah in the Local Traditions of the Tengger Tribe, 8, no. 2 (2025).

Hasnia Imroatis Syarifah, MENENGOK KEARIFAN LOKAL : UPACARA UNAN-UNAN DAN NILAI MODERASI BERAGAMA SUKU TENGGER, n.d.

Ubaidillah, Pendidikan Islam Multikulturalisme Masyarakat Tengger, CV. Scientifik Corner Publishing (2022)

———–

[1] Ubaidillah, Pendidikan Islam Multikulturalisme Masyarakat Tengger, CV. Scientifik Corner Publishing (2022)

[2] Ali Murtadlo and Ali Nurdin, The Harmonization of Dakwah in the Local Traditions of the Tengger Tribe, 8, no. 2 (2025).

[3] Murtadlo and Nurdin, The Harmonization of Dakwah in the Local Traditions of the Tengger Tribe.

[4] Hasnia Imroatis Syarifah, MENENGOK KEARIFAN LOKAL : UPACARA UNAN-UNAN DAN NILAI MODERASI BERAGAMA SUKU TENGGER, n.d.

[5] Syarifah, MENENGOK KEARIFAN LOKAL : UPACARA UNAN-UNAN DAN NILAI MODERASI BERAGAMA SUKU TENGGER.

[6] Adinda Livia Azzahra, FILOSOFI PENGGUNAAN SARUNG SUKU TENGGER: EKSPLORASI IDENTITAS BUDAYA DI DESA NGADAS, KABUPATEN MALANG, n.d.

[7] Azzahra, FILOSOFI PENGGUNAAN SARUNG SUKU TENGGER: EKSPLORASI IDENTITAS BUDAYA DI DESA NGADAS, KABUPATEN MALANG.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses