Menurut World Economic Forum (2025), sekitar 22% pekerjaan di dunia diperkirakan bakal mengalami perubahan dikarenakan akibat perkembangan teknologi sampai tahun 2030.
Salah satu teknologi yang berkembang pesat saat ini kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Teknologi ini mampu melakukan berbagai tugas yang sebelumnya dikerjakan oleh manusia, seperti mengolah data, memberikan layanan pelanggan, sampai membantu proses produksi.
Di Indonesia, penggunaan AI ini sendiri juga semakin meluas pada berbagai sektor karena dinilai dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja.
Meskipun memberikan banyak manfaat, perkembangan AI juga menimbulkan kekhawatiran terhadap masa depan lapangan kerja.
Karena itu, kecerdasan buatan dan otomatisasi menjadi tantangan yang perlu diperhatikan karena berpotensi mempengaruhi kesempatan kerja masyarakat Indonesia.
Salah satu alasan utama perusahaan menerapkan AI adalah untuk meningkatkan efisiensi operasional.
Teknologi ini mampu bekerja lebih cepat, mengurangi kesalahan manusia, dan membantu perusahaan menghemat biaya produksi.
Menurut Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (2024), transformasi digital menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing perusahaan di era modern.
Oleh karena itu, penggunaan AI diperkirakan akan terus berkembang dan menjadi bagian penting dalam berbagai aktivitas bisnis di Indonesia.
Di sisi lain, penggunaan AI ini juga dapat mengurangi kebutuhan tenaga kerja pada pekerjaan yang bersifat rutin dan berulang.
Beberapa pekerjaan seperti kasir, operator data, staf administrasi, dan operator produksi berisiko digantikan sama sistem otomatis yang lebih efisien.
Menurut International Labour Organization (2023), otomatisasi dapat mengubah struktur ketenagakerjaan dan mengurangi kebutuhan tenaga kerja pada beberapa jenis pekerjaan tertentu.
Kondisi ini juga menjadi tantangan besar bagi Indonesia yang memiliki jumlah tenaga kerja yang sangat besar dan terus bertambah setiap tahunnya.
Selain itu juga mengurangi kebutuhan tenaga kerja pada sektor tertentu, kemajuan teknologi AI ini juga dapat memperdalam kesenjangan keterampilan di masyarakat.
Bagi pekerja yang memiliki kemampuan digital dan penguasaan teknologi bakal lebih mudah untuk beradaptasi dengan perubahan di dunia kerja.
Sebaliknya, pekerja yang tidak memiliki keterampilan atau skill tersebut berisiko mengalami kesulitan dalam memperoleh pekerjaan.
Kondisi ini juga perlu mendapat perhatian serius mengingat masih banyak juga tenaga kerja di Indonesia yang belum memiliki akses memadai terhadap pendidikan dan pelatihan berbasis teknologi.
Namun meskipun begitu, perkembangan AI tidak selalu memberikan dampak negatif.
Kehadiran teknologi ini juga dapat menciptakan berbagai peluang kerja baru yang membutuhkan keterampilan khusus, seperti analis data, pengembang perangkat lunak, ahli kecerdasan buatan, dan spesialis keamanan siber.
World Economic Forum (2025) menjelaskan bahwa perkembangan teknologi tidak hanya menghilangkan pekerjaan tertentu, tetapi juga menciptakan jenis pekerjaan baru yang sesuai sama kebutuhan industri di masa depan.
Oleh karena itu, masyarakat perlu mempersiapkan diri dengan keterampilan yang relevan agar mampu memanfaatkan peluang tersebut.
Untuk menghadapi tantangan yang ditimbulkan oleh otomatisasi, pemerintah dan juga lembaga pendidikan perlu mengambil langkah yang tepat.
Kurikulum pendidikan harus disesuaikan sama kebutuhan industri digital supaya lulusan memiliki kompetensi yang relevan dengan perkembangan zaman sekarang.
Selain itu juga pelatihan keterampilan digital buat tenaga kerja juga perlu diperluas agar masyarakat mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi.
Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (2024) menegaskan bahwa peningkatan literasi digital merupakan salah satu kunci keberhasilan transformasi digital nasional.
Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa kecerdasan buatan dan otomatisasi memberikan manfaat sekaligus tantangan bagi lapangan kerja di Indonesia.
AI mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas, tetapi juga berpotensi mengurangi lowongan atau kebutuhan tenaga kerja pada beberapa sektor pekerjaan.
Oleh karena itu, diperlukannya kolaborasi antara pemerintah, dunia industri, dan lembaga pendidikan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan juga memperluas akses pelatihan digital.
Dengan langkah yang tepat, dengan begitu masyarakat Indonesia dapat menghadapi perubahan di dalam dunia kerja dan menjadikan AI sebagai peluang nyata untuk mencapai kemajuan ekonomi yang berkelanjutan.
Penulis: Agung Hafiz Alfajri
Mahasiswa Prodi Administrasi Bisnis, Universitas Katolik Parahyangan
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Daftar Pustaka
- Badan Pusat Statistik. (2024). Statistik Ketenagakerjaan Indonesia.
- International Labour Organization. (2023). Artificial Intelligence and Work.
- Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia. (2024). Transformasi Digital Indonesia.
- World Economic Forum. (2025). The Future of Jobs Report.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












