Abstract
The workplace requires not only technical skills but also good time management and strong work discipline.
Many SMK graduates still face difficulties with punctuality, setting task priorities, self-control, and professional responsibility — a concern since SMK aims to produce graduates ready to work immediately.
This community service activity provided training in time management and work discipline to improve students’ competence.
It was held at Yayasan YMIK Joglo, West Jakarta, with 45 students from grades XI and XII.
Methods included interactive lectures, group discussions, question-and-answer sessions, work simulations, educational games, and evaluation using questionnaires.
The results showed a significant improvement: the average score rose from 62.4 in the pre-test to 84.7 in the post-test, an increase of 35.7%.
Participant satisfaction was rated “Very Good” across all aspects: materials (4.72), trainers (4.78), delivery method (4.69), facilities (4.65), and benefits (4.74).
The program successfully strengthened students’ self-discipline, time planning, and professional attitude.
It proves this training is effective in preparing SMK students for employment, and similar activities should be continued through cooperation between schools, universities, and industry.
Keywords: time management, work discipline, vocational students, human resources, employability skills
Abstrak
Dunia kerja membutuhkan kompetensi teknis serta kemampuan manajemen waktu dan disiplin kerja yang baik.
Banyak lulusan SMK masih menghadapi kendala dalam ketepatan waktu, penetapan prioritas, pengendalian diri, dan tanggung jawab profesional, padahal SMK bertujuan mencetak lulusan siap kerja.
Oleh karena itu, diadakan pelatihan ini untuk meningkatkan kualitas siswa, dilaksanakan di Yayasan YMIK Joglo, Jakarta Barat, dan diikuti 45 siswa kelas XI–XII.
Metode yang digunakan meliputi ceramah interaktif, diskusi, tanya jawab, simulasi kerja, permainan edukatif, serta evaluasi melalui kuesioner.
Hasilnya menunjukkan peningkatan pemahaman siswa dari nilai rata-rata 62,4 menjadi 84,7 atau naik sebesar 35,7%, dengan tingkat kepuasan peserta berkategori “Sangat Baik” pada semua aspek penilaian.
Kegiatan ini berhasil meningkatkan disiplin diri, perencanaan waktu, dan sikap kerja profesional siswa.
Pelatihan terbukti efektif mempersiapkan siswa menghadapi dunia kerja, sehingga program serupa perlu dilanjutkan secara berkelanjutan melalui kerja sama sekolah, perguruan tinggi, dan dunia industry
Keywords: manajemen waktu, disiplin kerja, siswa SMK, sumber daya manusia, employability skills
Latar Belakang Pelaksanaan
Perkembangan revolusi industri 4.0 telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, terutama pada bidang ekonomi, pendidikan, dan ketenagakerjaan.
Kemajuan teknologi informasi, internet, kecerdasan buatan, serta sistem digital telah menciptakan pola kerja baru yang menuntut efisiensi, ketepatan waktu, dan konsistensi yang tinggi.
Transformasi digital tidak hanya mempermudah akses informasi, tetapi juga menghadirkan tuntutan baru bagi tenaga kerja, khususnya dalam hal kemampuan manajemen waktu dan disiplin kerja yang menjadi fondasi produktivitas di era modern ini.
Di sektor ketenagakerjaan, persaingan global dan otomatisasi proses kerja telah mengubah persyaratan yang diperlukan oleh dunia industri.
World Economic Forum (2023) dalam laporan Future of Jobs Report menyatakan bahwa 50% dari seluruh pekerja akan memerlukan reskilling pada tahun 2025, dengan kompetensi manajemen diri, ketepatan waktu, dan disiplin menjadi komponen penting yang paling diminati oleh dunia kerja.
Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (2024) mencatat bahwa angka pengangguran terbuka lulusan SMK mencapai 10,67%, lebih tinggi dibandingkan lulusan SMA sebesar 9,84% dan lulusan D1/D2/D3 sebesar 7,28%. Data ini menunjukkan bahwa keterampilan teknis saja tidak cukup untuk memenuhi persyaratan dunia kerja saat ini.
Kesenjangan antara kompetensi lulusan SMK dan kebutuhan dunia industri telah menjadi isu yang mendapatkan perhatian serius dari berbagai pemangku kepentingan pendidikan.
Susanto dan Wulandari (2022) dalam penelitiannya mengidentifikasi bahwa meskipun lulusan SMK memiliki kemampuan teknis yang memadai, aspek non-teknis seperti kedisiplinan, kemampuan manajemen waktu, etika kerja, dan komunikasi profesional masih berada di bawah standar yang diharapkan oleh industri.
Hal ini mengindikasikan perlunya penguatan kurikulum pendidikan kejuruan yang tidak hanya berorientasi pada kompetensi teknis, tetapi juga mencakup pengembangan karakter dan soft skills secara menyeluruh.
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan lembaga pendidikan vokasi yang dirancang untuk menghasilkan lulusan siap kerja sesuai kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.
Berdasarkan data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (2024), terdapat 14.281 sekolah SMK di Indonesia dengan jumlah siswa mencapai 4,6 juta orang.
Namun demikian, pada era ekonomi digital saat ini, lulusan SMK tidak cukup hanya berorientasi sebagai pencari kerja (job seeker), melainkan juga harus memiliki kesiapan menghadapi tantangan dunia kerja yang semakin kompleks, termasuk kemampuan mengelola waktu secara efektif dan menjaga disiplin kerja yang konsisten.
Manajemen waktu merupakan kemampuan seseorang dalam merencanakan, mengorganisir, dan mengendalikan penggunaan waktu secara efektif untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Menurut Noe (2023), manajemen waktu yang baik merupakan faktor kunci dalam meningkatkan produktivitas individu di tempat kerja karena memungkinkan seseorang untuk bekerja secara lebih terstruktur dan efisien.
Lebih jauh, penelitian Pratama dan Sari (2023) menunjukkan bahwa individu yang memiliki kemampuan manajemen waktu yang baik cenderung memiliki tingkat stres kerja yang lebih rendah, tingkat kepuasan kerja yang lebih tinggi, dan kinerja yang lebih optimal dibandingkan mereka yang tidak terampil dalam mengelola waktu.
Disiplin kerja, di sisi lain, merupakan sikap dan perilaku taat terhadap aturan, prosedur, dan nilai-nilai profesional yang berlaku dalam suatu organisasi.
Velasquez (2022) menegaskan bahwa disiplin kerja bukan sekadar kepatuhan formal terhadap peraturan, melainkan suatu internalisasi nilai-nilai etis yang mendorong individu untuk bertanggung jawab, konsisten, dan berkomitmen terhadap kualitas hasil kerja.
Disiplin kerja yang tinggi juga berkorelasi positif dengan budaya organisasi yang produktif dan iklim kerja yang kondusif.
Berdasarkan hasil observasi awal di Yayasan YMIK Joglo, Jakarta Barat, ditemukan beberapa permasalahan yang dihadapi oleh siswa SMK, antara lain:
- rendahnya kemampuan manajemen waktu, di mana sebagian besar siswa masih kesulitan dalam membuat jadwal harian dan memprioritaskan tugas;
- kurangnya disiplin diri, siswa cenderung menunda pekerjaan dan kurang memiliki komitmen terhadap ketepatan waktu;
- rendahnya kesadaran terhadap tanggung jawab profesional;
- pemahaman etika kerja yang terbatas; dan
- kesiapan menghadapi dunia kerja yang masih rendah secara mental dan sosial.
Permasalahan-permasalahan tersebut apabila tidak segera ditangani dapat berdampak negatif terhadap prospek karier siswa di masa mendatang.
Berdasarkan kondisi tersebut, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan sebagai upaya meningkatkan kualitas SDM siswa SMK melalui pelatihan manajemen waktu dan disiplin kerja.
Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan pemahaman, motivasi, dan kesiapan siswa dalam menghadapi tantangan dunia kerja sehingga dapat menjadi generasi muda yang mandiri, produktif, dan berdaya saing tinggi.
Sejalan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, kegiatan ini juga merefleksikan komitmen akademisi dalam memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat, khususnya dalam bidang pengembangan sumber daya manusia.
Metode
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan selama satu hari penuh dengan melibatkan 45 siswa SMK Yayasan YMIK Joglo sebagai peserta.
Pemilihan peserta dari kelas XI dan XII didasarkan pada pertimbangan bahwa siswa pada jenjang tersebut akan segera memasuki dunia kerja atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, sehingga pelatihan manajemen waktu dan disiplin kerja memiliki relevansi langsung dengan kebutuhan mereka.
Metode utama yang digunakan adalah pelatihan interaktif yang disampaikan secara terstruktur dan sistematis oleh tim pelaksana yang terdiri dari dosen dan mahasiswa Universitas Pamulang.
Materi pelatihan mencakup dua tema pokok, yaitu manajemen waktu dan disiplin kerja profesional.
Setiap sesi dirancang secara bertahap agar peserta dapat memahami dan menginternalisasi setiap materi secara menyeluruh sebelum beralih ke sesi berikutnya.
Pendekatan andragogi diterapkan dalam penyampaian materi untuk memastikan bahwa peserta tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi juga dapat merefleksikan pengalaman dan pengetahuan yang telah dimiliki.
Proses pelatihan dilakukan dengan pendekatan komunikatif dan interaktif, di mana pemateri tidak hanya menyampaikan materi secara satu arah, tetapi juga membuka ruang tanya jawab dan diskusi ringan di setiap akhir sesi.
Hal ini bertujuan untuk mendorong keterlibatan aktif peserta serta memastikan pemahaman yang merata di antara seluruh siswa.
Evaluasi pemahaman peserta dilakukan melalui pre-test sebelum kegiatan dimulai dan post-test setelah seluruh materi disampaikan, serta angket kepuasan peserta yang diberikan pada akhir kegiatan untuk mengukur tingkat kepuasan terhadap berbagai aspek pelaksanaan.
Tabel 1. Susunan Acara Pelatihan
| No | Waktu | Kegiatan | Metode |
| 1 | 13.00 WIB | Briefing panitia dan foto bersama | Persiapan |
| 2 | 13.15 – 13.30 WIB | Pembukaan dan doa | Formal |
| 3 | 13.30 – 13.45 WIB | Sambutan dosen dan guru | Ceramah |
| 4 | 13.45 – 14.00 WIB | Ice Breaking | Games |
| 5 | 14.00 – 14.45 WIB | Penyampaian materi manajemen waktu dan disiplin kerja | Ceramah interaktif |
| 6 | 14.45 – 15.00 WIB | Tanya jawab | Diskusi |
| 7 | 15.00 – 15.15 WIB | Games dan simulasi manajemen waktu | Simulasi |
| 8 | 15.30 WIB | Penutupan | Refleksi |

Hasil dan Pembahasan
Hasil
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat berlangsung dengan lancar sesuai rencana yang telah disusun dan diikuti oleh seluruh peserta sebanyak 45 siswa kelas XI dan XII SMK Yayasan YMIK Joglo.
Sejak awal hingga akhir kegiatan, peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap seluruh rangkaian acara.
Hal tersebut terlihat dari kehadiran peserta yang penuh, keterlibatan aktif dalam sesi diskusi, serta respon positif selama penyampaian materi berlangsung.
Dukungan dari pihak sekolah juga turut menunjang kelancaran kegiatan sehingga proses pelaksanaan dapat berjalan secara efektif dan kondusif.
Pada sesi penyampaian materi, siswa aktif mengajukan pertanyaan mengenai berbagai topik yang relevan dengan kebutuhan mereka, seperti teknik menyusun jadwal harian, strategi menghadapi tenggat waktu pekerjaan, cara membangun kebiasaan disiplin, serta langkah menyesuaikan diri dengan budaya kerja profesional.
Tingginya partisipasi peserta menunjukkan bahwa materi yang disampaikan sesuai dengan kebutuhan dan minat siswa dalam menghadapi tantangan dunia kerja.
Hal ini juga mengindikasikan bahwa terdapat kebutuhan nyata di kalangan siswa SMK terhadap pengetahuan dan keterampilan non-teknis yang selama ini kurang mendapatkan porsi yang memadai dalam pembelajaran di sekolah.
Berdasarkan hasil evaluasi melalui pre-test dan post-test, terjadi peningkatan pemahaman siswa secara signifikan pada seluruh indikator yang diukur.
Nilai rata-rata pre-test keseluruhan adalah 62,4, sedangkan nilai rata-rata post-test meningkat menjadi 84,7, menunjukkan peningkatan sebesar 35,7%.
Peningkatan tertinggi terlihat pada aspek pemahaman disiplin kerja dan kesiapan menghadapi lingkungan kerja profesional, yang mengindikasikan bahwa metode pelatihan yang digunakan berhasil memberikan pemahaman yang mendalam pada aspek-aspek tersebut.
Tabel 2. Hasil Evaluasi Pre-test dan Post-test
| Indikator | Pre-test | Post-test | Peningkatan |
| Pemahaman manajemen waktu | 58% | 84% | 26% |
| Kemampuan perencanaan tugas | 55% | 82% | 27% |
| Disiplin dan ketepatan waktu | 60% | 85% | 25% |
| Kepercayaan diri profesional | 62% | 86% | 24% |
| Disiplin kerja profesional | 54% | 87% | 33% |
| Kesiapan memasuki dunia kerja | 61% | 89% | 28% |
Selain data kuantitatif, kegiatan ini juga menghasilkan perubahan perilaku positif pada peserta.
Banyak siswa menunjukkan sikap lebih disiplin, lebih termotivasi, dan lebih mampu menyusun prioritas dalam kegiatan sehari-hari.
Sebagian siswa mulai memiliki pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya ketepatan waktu, tanggung jawab, dan profesionalisme dalam dunia kerja.
Beberapa peserta juga menyampaikan minat untuk mengembangkan diri lebih lanjut melalui pelatihan serupa di masa mendatang, yang menunjukkan adanya dampak jangka panjang dari kegiatan ini dalam memotivasi siswa untuk terus belajar dan berkembang.
Tabel 3. Penilaian Peserta Terhadap Pelaksanaan Pelatihan
| No | Aspek Penilaian | Rata-rata Skor | Kategori |
| 1 | Materi Pelatihan | 4,72 | Sangat Baik |
| 2 | Narasumber | 4,78 | Sangat Baik |
| 3 | Metode Penyampaian | 4,69 | Sangat Baik |
| 4 | Fasilitas Kegiatan | 4,65 | Sangat Baik |
| 5 | Manfaat Kegiatan | 4,74 | Sangat Baik |
| Rata-rata Total | 4,72 | Sangat Baik |
Pembahasan
Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pendidikan manajemen waktu dan disiplin kerja perlu diberikan sejak dini kepada siswa SMK sebagai bagian dari pembentukan kompetensi lulusan yang adaptif terhadap tuntutan dunia kerja.
Manajemen waktu tidak hanya berkaitan dengan pembuatan jadwal, tetapi juga mencakup kemampuan menetapkan prioritas, menghindari prokrastinasi, serta mengelola energi dan fokus secara efektif.
Kemampuan-kemampuan tersebut merupakan fondasi bagi individu untuk dapat bekerja secara produktif, bertanggung jawab, dan mampu menghadapi tekanan dalam lingkungan kerja yang dinamis.
Peningkatan pemahaman siswa mengenai manajemen waktu menunjukkan bahwa materi yang diberikan relevan dengan kebutuhan generasi muda saat ini.
Sebagian besar siswa mulai mengenal pentingnya perencanaan waktu, penetapan prioritas, dan komitmen terhadap jadwal dalam konteks profesional.
Hal ini sejalan dengan pendapat Becker (2023) yang menyatakan bahwa manajemen diri, termasuk manajemen waktu, merupakan komponen penting dalam teori Human Capital karena meningkatkan produktivitas dan nilai tambah individu dalam konteks organisasi.
Teori ini menegaskan bahwa investasi dalam pengembangan kapasitas diri seseorang, termasuk kemampuan mengelola waktu, akan memberikan imbal hasil yang signifikan baik bagi individu maupun bagi institusi tempat mereka bekerja.
Pelatihan disiplin kerja juga terbukti memberikan pengaruh positif terhadap perubahan sikap siswa. Sebelum kegiatan berlangsung, sebagian siswa masih menunjukkan pemahaman terbatas tentang norma dan nilai profesional di tempat kerja.
Setelah pelatihan, siswa mulai memahami pentingnya disiplin, tanggung jawab, integritas, dan profesionalisme sebagai nilai-nilai yang tidak dapat dipisahkan dari kinerja yang optimal.
Temuan ini sejalan dengan teori Velasquez (2022) yang menekankan bahwa etika dan disiplin kerja profesional merupakan fondasi penting dalam membangun budaya organisasi yang produktif dan berkelanjutan.
Disiplin yang berlandaskan pada nilai-nilai etis akan mendorong terciptanya lingkungan kerja yang saling menghargai dan mendukung pertumbuhan individu maupun organisasi.
Pada aspek kesiapan menghadapi dunia kerja, hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kesadaran siswa terhadap pentingnya mempersiapkan diri secara mental dan sosial.
Sebelumnya, banyak siswa belum memiliki gambaran jelas tentang proses rekrutmen, ekspektasi dunia industri terkait kedisiplinan, dan konsekuensi dari ketidaktepatan waktu di lingkungan kerja.
Setelah mengikuti kegiatan, siswa mulai mampu mengenali kebutuhan diri serta merencanakan langkah strategis untuk memasuki dunia kerja.
Menurut Harvey (2023), konsep Employability Skills mencakup serangkaian keterampilan, pengetahuan, dan sikap yang memungkinkan individu untuk mendapatkan dan mempertahankan pekerjaan secara berkelanjutan di berbagai kondisi dan lingkungan kerja.
Kesiapan siswa dalam menghadapi simulasi situasi kerja juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan.
Simulasi kerja merupakan sarana penting bagi siswa SMK untuk mengenal tuntutan profesional secara langsung dalam lingkungan yang aman dan terkontrol.
Melalui kegiatan ini, siswa diberikan pengalaman praktis mengenai pengelolaan waktu saat mengerjakan tugas, komunikasi efektif dalam tim, dan pemeliharaan disiplin selama proses kerja berlangsung.
Bekal tersebut penting karena banyak siswa memiliki kemampuan teknis yang mumpuni, tetapi belum memahami cara mengelola diri secara profesional di lingkungan kerja nyata.
Rahmawati dan Hidayat (2025) dalam penelitiannya juga menemukan bahwa integrasi simulasi dan pelatihan soft skills dalam pendidikan kejuruan berkontribusi signifikan terhadap peningkatan kepercayaan diri dan kemampuan komunikasi siswa dalam konteks profesional.
Selain peningkatan pengetahuan dan keterampilan, kegiatan ini juga memberikan dampak psikologis yang positif bagi peserta.
Siswa terlihat lebih percaya diri, lebih aktif bertanya, serta lebih berani menyampaikan gagasan dan pendapat dalam forum diskusi.
Robles (2021) menegaskan bahwa kepercayaan diri dan kemampuan komunikasi merupakan dua dari sepuluh soft skills yang paling dibutuhkan di dunia kerja modern.
Perubahan sikap ini menunjukkan bahwa kegiatan pengabdian masyarakat tidak hanya berfungsi sebagai transfer ilmu, tetapi juga sebagai media pemberdayaan siswa yang mendorong mereka untuk keluar dari zona nyaman dan berani mengeksplorasi potensi diri.
Keberhasilan kegiatan ini juga tidak terlepas dari dukungan penuh pihak sekolah dan koordinasi yang baik antara tim pelaksana dengan pengelola Yayasan YMIK Joglo.
Kolaborasi antara perguruan tinggi dan institusi pendidikan menengah merupakan model kemitraan yang perlu terus dikembangkan sebagai salah satu strategi peningkatan mutu pendidikan di Indonesia.
Secara umum, hasil kegiatan membuktikan bahwa sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah menengah memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Oleh karena itu, program serupa perlu dilaksanakan secara berkelanjutan dengan cakupan materi yang lebih luas, seperti literasi digital, pengembangan personal branding, dan simulasi kerja profesional agar siswa semakin siap menjadi generasi yang mandiri dan berdaya saing tinggi.
Simpulan
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Yayasan YMIK Joglo, Jakarta Barat, memberikan hasil positif yang signifikan dalam meningkatkan pemahaman dan kesiapan siswa SMK menghadapi tantangan dunia kerja.
Program ini berhasil menambah wawasan siswa mengenai manajemen waktu, disiplin kerja, serta kesiapan menghadapi proses rekrutmen sebagai bekal memasuki dunia kerja.
Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan yang bermakna pada berbagai indikator, terutama disiplin kerja profesional yang meningkat sebesar 33%, kesiapan memasuki dunia kerja yang meningkat 28%, dan pemahaman manajemen waktu yang meningkat 26%.
Selain itu, siswa mulai memahami bahwa kompetensi manajemen diri merupakan pembeda kompetitif yang krusial dalam persaingan memasuki dunia kerja.
Pelatihan yang diberikan juga berdampak pada perubahan sikap siswa, seperti meningkatnya kedisiplinan, tanggung jawab, kemampuan perencanaan waktu, dan kepercayaan diri.
Siswa menjadi lebih mampu mengenali potensi diri serta merencanakan langkah masa depan secara lebih terarah.
Nilai kepuasan peserta yang secara keseluruhan berada pada kategori Sangat Baik dengan rata-rata 4,72 dari skala 5 mengindikasikan bahwa program ini dirasakan manfaatnya secara langsung oleh para peserta.
Secara keseluruhan, kegiatan ini menunjukkan pentingnya sinergi antara sekolah, perguruan tinggi, dan dunia industri dalam membentuk generasi muda yang unggul, adaptif, serta berdaya saing tinggi di era digital.
Keberlanjutan program serupa dengan cakupan yang lebih luas dan sasaran yang lebih beragam sangat direkomendasikan untuk mendukung pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas.
Penulis:
1. Nurul Komaria
2. Aufa Salimah
3. Syah Alim
Mahasiswa Prodi Manajemen, Universitas Pamulang
Dosen Pengampu: Bulan Oktrima, S.Si., M.M.
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Daftar Pustaka
- Badan Pusat Statistik. (2024). Statistik penduduk Indonesia 2024. BPS. https://www.bps.go.id
- Becker, G. S. (2023). Human capital: A theoretical and empirical analysis, with special reference to education (4th ed.). University of Chicago Press.
- Harvey, L. (2023). Defining and measuring employability. Quality in Higher Education, 17(2), 97-109. https://doi.org/10.1080/13538322.2023.2198476
- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2023). Laporan kinerja Kemendikbudristek 2023. Kemendikbudristek.
- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2024). Data pokok pendidikan 2024. Kemendikbudristek.
- Kurniawan, A., Pratama, B., & Sari, D. (2024). Pembekalan etika kerja profesional dan dampaknya terhadap kesiapan kerja siswa SMK. Jurnal Pendidikan Vokasi, 14(1), 45-58. https://doi.org/10.21831/jpv.v14i1.51234
- Noe, R. A. (2023). Employee training and development (9th ed.). McGraw-Hill Education.
- Pratama, B., & Sari, D. (2023). Pelatihan soft skills berbasis experiential learning untuk meningkatkan kompetensi employability mahasiswa vokasi. Jurnal Abdimas Ilmu Teknologi Sistem Informasi, 3(2), 112-125. https://doi.org/10.47000/jaitis.v3i2.9876
- Rahmawati, S., & Hidayat, R. (2025). Integrasi pelatihan soft skills dalam kurikulum SMK: Dampak terhadap kepercayaan diri dan kemampuan komunikasi siswa. Jurnal Pendidikan Teknologi dan Kejuruan, 23(1), 78-92. https://doi.org/10.21831/jptk.v23i1.62345
- Robles, M. M. (2021). Executive perceptions of the top 10 soft skills needed in today’s workplace. Business and Professional Communication Quarterly, 75(4), 453-465. https://doi.org/10.1177/1080569912460400
- Susanto, A., & Wulandari, R. (2022). Analisis kesenjangan kompetensi lulusan SMK dengan kebutuhan dunia kerja. Jurnal Pendidikan Kejuruan, 12(2), 134-148. https://doi.org/10.21831/jpk.v12i2.45678
- Velasquez, M. G. (2022). Business ethics: Concepts and cases (9th ed.). Pearson Education.
- World Economic Forum. (2023). Future of jobs report 2023. WEF. https://www.weforum.org/reports/future-of-jobs-report-2023/
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI











