Akses pejalan kaki menuju sekolah di Kabupaten Bandung masih belum memadai. Seperti yang diketahui, banyak jalur pedestrian yang dibuat tapi tidak memiliki acuan dan perencanaan yang matang.
Akibatnya, pelajar yang banyak berjumlah dalam sekolah yang sama terpaksa berjalan di trotoar atau bahkan sebagian badan jalan yang ramai dan rawan kecelakaan. Banyak sekolah di wilayah ini juga terletak di pinggiran jalan arteri, tetapi tidak memiliki koneksi yang baik dengan permukiman sekitar yang harus menjadi sumber pergerakan pelajar.
Hal ini menunjukkan bahwa keamanan pejalan kaki, terutama para siswa yang merupakan user jalan termuda, paling rentan, dan paling tidak bersalah, belum sama sekali menjadi prioritas karena ruang untuk pengguna jalan diberikan pada ruang kendaraan, tersebut terlihat dari dominasi drop-off area yang membuat desakan lalu lintas dan bahkan merampas ruang pejalan kaki. Namun, arsitektur dapat memberikan jawaban atas keterbatasan tersebut.
Sebab, infrastruktur pejalan kaki merupakan bagian dari pemenuhan hak keselamatan dan kenyamanan pelajar dalam mengakses pendidikan. Oleh karena itu arsitektur memiliki peran dalam hal ini. Desain lingkungan sekolah mesti mengacu pada ruang akses pejalan kaki yang aman, terhubung, dan inklusif, melalui desain universal dan prioritas ruang jalan bagi pedestrian.
Masalah utama soal akses pejalan kaki ke sekolah di Kabupaten Bandung adalah sambungan jalur pejalan kaki yang hampir tidak ada ke kawasan perumahan. Banyak sekolah ada di pinggir jalan besar yang penuh kendaraan, tapi tidak tersambung langsung ke pemukiman lewat jalur yang aman. Hasilnya, siswa dan guru terpaksa masuk ke tengah lalu lintas sebelum sampai ke area sekolah.
Seringnya, jalur yang dilalui pelajar terputus, terlalu sempit, atau bahkan tidak ada sama sekali. Banyak siswa mau tidak mau berjalan di tepian jalan, melangkahi drainase terbuka, atau menyeberang tanpa tanda yang jelas. Resiko kecelakaan pun naik.
Baca juga: Peran Infrastruktur dalam Mendorong Pertumbuhan Ekonomi di Negara Berkembang
Dari sisi arsitektur atau desain kota, masalah ini jelas menandakan perencanaan kawasan pendidikan masih jauh dari prinsip walkability. Seharusnya, jalur pejalan kaki jadi jaringan ruang publik yang tersambung mulus dari rumah sampai sekolah. Membuat konektor ruang publik, jalur yang teduh, jalur khusus pejalan kaki yang jelas, sampai ruang transisi dari kawasan pemukiman ke sekolah bakal bikin pelajar lebih aman dan nyaman.
Satu masalah lain yang membuat mobilitas pelajar jadi kesuliatan: sekolah-sekolah makin dikuasai kendaraan bermotor. Banyak sekolah justru memperbesar area drop-off, melebarkan bahu jalan buat mobil, atau buka lahan parkir yang harusnya bisa jadi ruang pejalan kaki.
Imbasnya, trotoar jadi sangat sempit bahkan kerap hilang. Saat jam datang dan pulang sekolah, siswa harus berjalan di antara deretan mobil yang berhenti, putar balik, atau keluar-masuk parkiran. Rasanya, berjalan saja sudah bikin waswas.
Dari kacamata arsitektur, dominasi kendaraan ini menunjukkan desain ruang jalan yang masih mementingkan mobil, bukan orang. Lewat konsep complete streets, desain sekolah bisa diubah dengan membuat jalur kendaraan dibuat lebih sempit, ditambah pembatas atau buffer hijau antara mobil dan pejalan kaki, dan zona drop-off dipindah ke bagian dalam area sekolah.
Complete Streets adalah pendekatan desain jalan yang memprioritaskan keamanan dan aksesibilitas semua pengguna, termasuk pejalan kaki dan pesepeda, melalui elemen-elemen seperti pelebaran trotoar, penataan ulang jalur kendaraan, dan fasilitas keselamatan tambahan (National Complete Streets Coalition, dikutip dalam ASLA, 2025). Cara seperti ini setidaknya membuat area sekitar sekolah lebih ramah dan aman buat pejalan kaki, terutama anak-anak.
Lalu, masih banyak sekolah yang minim elemen keselamatan di zona sekolah. Zebra cross, tanda “Zona Sekolah”, speed table, marka kecepatan, atau bollard pelindung trotoar hampir tidak ada. Padahal, anak-anak butuh perlindungan ekstra karena belum terbiasa dengan situasi lalu lintas.
Tanpa fasilitas seperti ini, siswa kadang harus menyeberang di tempat yang tak kelihatan oleh pengemudi akibatnya, risiko kecelakaan menjadi lebih tinggi. Marsh dkk. (2019) juga menyoroti zona sekolah yang idealnya didesain untuk membuat mobil melambat dan pengemudi lebih fokus pada pejalan kaki.
Dari sudut desain arsitektur, ada banyak langkah yang bisa diambil yaitu, zebra cross yang ditinggikan, trotoar dipapas lebih lebar, dipasang bollard, material jalan yang kontras, sampai pintu masuk sekolah didesain supaya kendaraan otomatis melambat.
Bukan hanya mengatur ruang, perubahan seperti ini juga langsung mempengaruhi cara pengguna jalan berkendara atau berjalan, dan akhirnya membuat lingkungan sekolah jauh lebih aman dan ramah buat pelajar.
Akses pejalan kaki menuju sekolah di Kabupaten Bandung memiliki 3 masalah utama, yaitu jalur pedestrian yang tidak terhubung dari pemukiman ke sekolah, dominasi kendaraan di sekitar sekolah terutama kendaraan motor, dan minimnya fasilitas keselamatan dasar.
Kombinasi dari ketiga tersebut membuat pelajar maupun pengajar bergerak dari dalam lingkungan yang tidak aman dan tidak nyaman, dan memperlihatkan bahwa perencanaan pendidikan masih belum menempatkan pejalan kaki sebagai prioritas utama.
Dari sudut pandang arsitektur, persoalan ini bukan hanya kekurangan infrastruktur, tetapi kegagalan membangun jaringan ruang publik yang tersambung dari pemukiman hingga sekolah. Perbaikannya memerlukan pendekatan desain yang menyeluruh melalui penguatan koneksi pedestrian, penataan ulang ruang jalan berbasis complete streets, dan penambahan elemen keselamatan yang mengatur perilaku pengguna jalan.
Dengan intervensi tersebut, arsitektur berperan bukan sekadar menyediakan ruang fisik, tetapi mendorong perubahan perilaku dan meningkatkan keselamatan pengguna jalan paling rentan.
Penulis: Nadira Alaya Iman Yatim
Mahasiswa Arsitektur, Universitas Katolik Parahyangan
Dosen Pengampu: Frisca Ayu Desi Widyaningrum, S.Pd., M.A.
Referensi
Long, E. (2021). Architects’ role in designing green, walkable communities. Construction21 International.
Shafa, L. S., Firdausiyah, N., & Hariyani, S. (2024). Kajian kebijakan infrastruktur jalur pejalan kaki kawasan pendidikan di perkotaan Pacitan. Planning for Urban Region and Environment, 13(4), 175.
Tandafatu, M. C., & Karmelius, Y. (Tahun Terbit). Fungsi dan peran jalur pedestrian bagi pejalan kaki, studi kasus Jalan Anggrek – Maumere. Jurnal Siartek, 4(1), 6.
https://purejournal.ub.ac.id/index.php/pure/article/download/746/604
https://jurnal.nusanipa.ac.id/index.php/siartek/article/download/475/423
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












