Membeli secangkir kopi, membayar ongkos transportasi, atau berbelanja kebutuhan harian kini hanya membutuhkan beberapa detik. Cukup memindai kode QR atau menekan tombol di aplikasi, transaksi pun selesai. Kemudahan ini menjadi salah satu bukti pesatnya transformasi digital di Indonesia. Namun, dibalik segala kepraktisannya, muncul kebiasaan yang mulai dirasakan banyak orang: uang terasa lebih cepat habis tanpa benar-benar disadari.
Fenomena tersebut bukan sekadar anggapan. Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa penggunaan pembayaran digital terus mengalami peningkatan. Hingga semester I 2025, jumlah pengguna QRIS telah mencapai sekitar 57 juta orang, dengan lebih dari 39 juta merchant yang menerima metode pembayaran tersebut.
Sebagian besar merchant itu merupakan pelaku UMKM. Angka tersebut menunjukkan bahwa pembayaran digital bukan lagi sekadar alternatif, melainkan telah menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat sehari-hari.
Kemudahan bertransaksi tentu membawa banyak manfaat. Waktu menjadi lebih efisien, transaksi lebih praktis, dan masyarakat tidak lagi bergantung pada uang tunai. Namun, kemudahan tersebut juga memiliki konsekuensi yang sering kali luput dari perhatian.
Ketika proses pembayaran hanya membutuhkan beberapa sentuhan pada layar ponsel, rasa “kehilangan uang” tidak lagi terasa sejelas saat menyerahkan uang tunai. Akibatnya, pengeluaran kecil yang dilakukan berkali-kali sering dianggap sepele, padahal jika dijumlahkan nilainya tidak sedikit.
Kebiasaan tersebut semakin diperkuat oleh berbagai promo yang ditawarkan penyedia layanan pembayaran digital. Cashback, potongan harga, hingga gratis ongkos kirim memang memberikan keuntungan bagi konsumen. Namun, strategi pemasaran semacam ini juga dapat mempengaruhi keputusan seseorang dalam berbelanja.
Tidak sedikit transaksi yang terjadi bukan karena kebutuhan yang mendesak, melainkan karena dorongan untuk memanfaatkan promo yang dianggap sayang jika dilewatkan. Pada akhirnya, diskon tetap berarti mengeluarkan uang, bukan menghematnya.
Perkembangan teknologi memang tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, yang perlu dipersiapkan bukan hanya infrastruktur digital, tetapi juga kemampuan masyarakat dalam mengelola keuangan.
Bank Indonesia pun terus mendorong peningkatan literasi keuangan dan literasi sistem pembayaran agar masyarakat mampu memanfaatkan layanan digital secara bijak. Kemudahan teknologi akan memberikan manfaat yang optimal apabila diiringi dengan kemampuan mengendalikan pola konsumsi.
Di tengah semakin pesatnya digitalisasi, kebiasaan sederhana seperti menyusun anggaran, mencatat pengeluaran, dan membedakan kebutuhan dengan keinginan justru menjadi semakin penting. Langkah-langkah tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi dapat membantu seseorang lebih sadar terhadap kondisi keuangannya, sekaligus menghindari kebiasaan berbelanja secara impulsif.
Pada akhirnya, pembayaran digital bukanlah penyebab seseorang menjadi boros. Teknologi hanyalah alat yang mempermudah cara bertransaksi. Yang menentukan tetaplah cara setiap individu mengambil keputusan dalam menggunakan uangnya.
Kemudahan seharusnya membuat hidup lebih efisien, bukan membuat pengeluaran semakin sulit dikendalikan. Di era ketika membayar menjadi semakin mudah, kemampuan mengendalikan diri justru menjadi keterampilan yang semakin berharga.
Penulis: Naila Varadina Zahra
Mahasiswa Akuntansi, Universitas Pamulang
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













