KKM Institut Padhaku Kelompok 14 Desa Pekandangan Sambangi Penerapan Metode Tanam Padi IPHA oleh Petani Desa Pekandangan

KKM
Dokumentasi Sindiyana Saputra Senin 20 Januari 2025, wawancara dengan bapak Purnomo (Ketua GAPOKTAN Desa Pekandangan).

Desa Pekandangan – Kelompok KKM IPADHAKU Desa Pekandangan sambangi petani setempat yang sedang menerapkan metode tanam baru yakni IPHA (Irigasi Padi Hemat Air) di tanah pribadinya pada Senin (20/01/2025).

Bapak Purnomo yang merupakan ketua GAPOKTAN (Gabungan Kelompok Tani) Desa Pekandangan menerapkan metode IPHA tersebut di lahan pribadinya seluas kurang lebih 1 hektar.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Menurut penuturan Purnomo, metode ini terbilang baru karena sebelumnya ia menerapkan metode SRI (System of Rice Intensification). Dalam penerapannya, Purnomo bekerja sama dengan BPP (Balai Penyuluhan Pertanian) setempat.

Perbedaan yang sangat terlihat antara metode IPHA dengan metode lainnya terletak pada penggunaan air dan penggunaan bibit (benih) secara kuantitas. Menurut Purnomo penggunaan metode IPHA ini dapat menekan penggunaan air sehingga ini bisa menjadi solusi untuk daerah-daerah yang memang minim air.

Begitupun dengan penggunaan bibit (benih) yang hanya membutuhkan sekitar 10 kg bibit per hektar, dengan begitu ini dapat menekan cost (biaya).

Baca Juga: Bantu Petani Usir Hama Keong di Sawah, Mahasiswa Kelompok 11 KKM Uniba Ciptakan Teknologi Tepat Guna dari Ramuan Singkong

Dokumentasi Haris Suryadi Senin 20 Januari 2025, Penanaman Padi menggunakan metode IPHA.

Perbedaan lain yang juga menjadi kelebihan metode IPHA ini adalah waktu panen yang lebih cepat karena menggunakan bibit muda. Jika biasanya pada metode lain menggunakan bibit yang berusia lebih dari 20 hari, dalam metode IPHA ini hanya membutuhkan bibit yang berumur 12-15 hari.

Baca Juga: Kelompok 11 KKM Uniba Lakukan Pendekatan Personal tentang Pentingnya Penggunaan Air Bersih untuk Mandi Cuci Kakus bagi Ibu-Ibu di Margaluyu

Sejauh ini Purnomo baru menerapkan metode IPHA ini di sebagian lahannya, yakni seluas 1 hektar. Rencananya ia akan menerapkan metode ini di seluruh lahan pribadinya yang totalnya bias mencapai 3-4 hektar.

Harapan beliau adalah dengan diterapkannya metode ini bisa menghasilkan padi yang maksimal, baik dari segi kuantitas maupun kualitas.

Penulis: Haris Suryadi
Mahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah Institut Pangeran Dharma Kusuma

Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

Ikuti berita terbaru di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

1 Komentar