Desa Pekandangan – Kelompok KKM IPADHAKU Desa Pekandangan sambangi petani setempat yang sedang menerapkan metode tanam baru yakni IPHA (Irigasi Padi Hemat Air) di tanah pribadinya pada Senin (20/01/2025).
Bapak Purnomo yang merupakan ketua GAPOKTAN (Gabungan Kelompok Tani) Desa Pekandangan menerapkan metode IPHA tersebut di lahan pribadinya seluas kurang lebih 1 hektar.
Menurut penuturan Purnomo, metode ini terbilang baru karena sebelumnya ia menerapkan metode SRI (System of Rice Intensification). Dalam penerapannya, Purnomo bekerja sama dengan BPP (Balai Penyuluhan Pertanian) setempat.
Perbedaan yang sangat terlihat antara metode IPHA dengan metode lainnya terletak pada penggunaan air dan penggunaan bibit (benih) secara kuantitas. Menurut Purnomo penggunaan metode IPHA ini dapat menekan penggunaan air sehingga ini bisa menjadi solusi untuk daerah-daerah yang memang minim air.
Begitupun dengan penggunaan bibit (benih) yang hanya membutuhkan sekitar 10 kg bibit per hektar, dengan begitu ini dapat menekan cost (biaya).

Perbedaan lain yang juga menjadi kelebihan metode IPHA ini adalah waktu panen yang lebih cepat karena menggunakan bibit muda. Jika biasanya pada metode lain menggunakan bibit yang berusia lebih dari 20 hari, dalam metode IPHA ini hanya membutuhkan bibit yang berumur 12-15 hari.
Sejauh ini Purnomo baru menerapkan metode IPHA ini di sebagian lahannya, yakni seluas 1 hektar. Rencananya ia akan menerapkan metode ini di seluruh lahan pribadinya yang totalnya bias mencapai 3-4 hektar.
Harapan beliau adalah dengan diterapkannya metode ini bisa menghasilkan padi yang maksimal, baik dari segi kuantitas maupun kualitas.
Penulis: Haris Suryadi
Mahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah Institut Pangeran Dharma Kusuma
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













Mantap