Mahasiswa KKN PPM UMBY Kelompok 107 Dorong Peningkatan UMKM Melalui Branding Kreatif di Dusun Jatirejo

upaya umkm mampu bersaing dalam pasar bebas
Mahasiswa KKN UMBY Kelompok 107 bersama salah satu pemilik UMKM anyaman bambu “Singanyam”  - Dok. KKN UMBY Kelompok 107

Jatirejo-Wukirsari, MMI – Mahasiswa KKN PPM Universitas Mercu Buana Yogyakarta Kelompok 107 melaksanakan pendampingan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Dusun Jatirejo berlangsung selama satu pekan dengan fokus pada branding kreatif. (17/8/2025)

Melalui kegiatan ini, mahasiswa berupaya membantu UMKM membangun identitas merek yang kuat, menarik, dan mudah diingat sehingga mampu meningkatkan daya tarik produk serta memperluas jangkauan pasar. Pendampingan ini menjadi salah satu strategi untuk mengoptimalkan potensi lokal agar dapat bersaing di era persaingan usaha yang semakin ketat.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Kegiatan ini lahir dari keprihatinan mahasiswa melihat potensi besar produk lokal yang belum sepenuhnya terekspos secara optimal di pasar modern.

Di tengah persaingan usaha yang semakin ketat, kehadiran branding dan pemasaran digital menjadi kunci penting untuk bertahan dan berkembang. Dengan menggabungkan kreativitas, teknologi, dan pendampingan langsung, Kelompok 107 berharap UMKM di Jatirejo dapat meningkatkan daya saing sekaligus mempertahankan kekhasan produk mereka.

Baca Juga: KKN UMBY Edukasi Peternak Bantul Ubah Jerami Jadi Pakan Ternak Bergizi

Kelompok 107 hadir dengan misi khusus memberdayakan UMKM lokal melalui inovasi branding dan strategi pemasaran berbasis digital. Tim yang terdiri dari mahasiswa lintas disiplin ini merancang program kerja yang berfokus pada pengembangan identitas visual, digitalisasi pemasaran, dan peningkatan kapasitas produksi.

“Kami melihat potensi besar UMKM di Dusun Jatirejo, namun mereka membutuhkan dukungan dalam hal branding dan pemasaran modern untuk dapat bersaing di era digital,” ungkap Andikha, salah satu anggota Kelompok 107.

Tidak hanya sebatas teori, program pendampingan ini langsung menyasar empat UMKM yang menjadi percontohan. Masing-masing memiliki cerita unik, tantangan yang berbeda, dan potensi yang sangat menjanjikan jika dikemas dengan strategi yang tepat. Empat UMKM tersebut adalah:

Rumah Produksi Anyaman Bambu “Singanyam”

upaya umkm mampu bersaing dalam pasar bebas
Produk-produk hasil tangan kreatif pengrajin bambu di UMKM “Singanyam” – Dok. KKN UMBY Kelompok 107

Rumah Produksi Anyaman Bambu “Singanyam” merupakan usaha kerajinan tangan yang dikelola oleh pasangan suami istri, Pak Sudar dan istrinya. Meski baru berdiri selama satu tahun, Singanyam telah menunjukkan potensi besar dengan menghadirkan berbagai produk anyaman tradisional seperti nampah, tudung saji, dan caping, semuanya dibuat dari bambu pilihan yang dikerjakan dengan penuh ketelitian.

Namun, perjalanan usaha ini tidak lepas dari tantangan, terutama pada kapasitas produksi yang terbatas. Proses pemotongan bambu yang masih dilakukan secara manual membuat waktu pengerjaan menjadi lebih lama dan tenaga yang dibutuhkan cukup besar, sehingga jumlah produk yang dihasilkan belum maksimal.

Melihat hambatan ini, Kelompok 107 mengambil peran aktif dengan membantu menjalin komunikasi antara Pak Sudar dan pihak kampus. Upaya ini membuahkan hasil berupa dukungan peralatan baru, yaitu alat pemotong bambu modern.

Kehadiran alat ini menjadi titik balik bagi Singanyam, karena mampu mempercepat proses pengolahan bahan baku, meningkatkan kapasitas produksi, sekaligus menjaga kualitas setiap produk agar tetap konsisten. Dengan dukungan teknologi ini, diharapkan Singanyam tidak hanya dapat memenuhi permintaan lokal, tetapi juga berpeluang merambah pasar yang lebih luas, membawa warisan kerajinan anyaman bambu ke lebih banyak orang.

Baca Juga: KKN UMBY Kelompok 19 Membantu Optimalisasi Wisata Watu Lumpang dan Kali Oyo di Dusun Banyuurip, Jatimulyo, Dlingo

Produksi Peyek Kacang “Mbak Satin”

upaya umkm mampu bersaing dalam pasar bebas
Mahasiswa KKN  UMBY Kelompok 107 bersama pemilik UMKM Peyek Kacang “Mbak Satin” saat melakukan survei dan wawancara- Dok. KKN UMBY Kelompok 107

Berlokasi di RT 02 Dusun Jatirejo, usaha rumahan milik pasangan suami istri ini telah menjadi bagian dari denyut ekonomi desa selama tujuh tahun terakhir. Dengan tangan terampil dan resep turun-temurun, Mbak Satin memproduksi peyek kacang yang renyah, gurih, dan selalu berhasil memanjakan lidah para pelanggannya. Tidak heran jika produknya telah memiliki pelanggan setia di wilayah sekitar, yang kerap kembali untuk membeli karena cita rasa khas yang sulit ditandingi.

Namun, di balik kualitas rasa yang sudah terjamin, peyek kacang Mbak Satin masih menghadapi tantangan dari sisi pemasaran. Ketiadaan identitas visual yang kuat membuat produknya sulit dikenali dan dibedakan dari deretan produk serupa di pasar.

Melihat hal ini, Kelompok 107 hadir dengan inisiatif kreatif, merancang logo baru yang tidak hanya menarik secara estetika, tetapi juga mencerminkan karakter, kehangatan, dan kualitas produk buatan Mbak Satin.

Kehadiran logo ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun brand yang lebih profesional, meningkatkan brand awareness, serta memperkuat daya saing produk di tengah persaingan pasar yang semakin ketat. Dengan identitas visual yang lebih menonjol, peyek kacang Mbak Satin memiliki peluang lebih besar untuk meraih pasar yang lebih luas, bahkan menembus penjualan di luar wilayah desa.

Baca Juga: Mahasiswa KKN UMBY dan KWT Badean Wujudkan Program ‘Teras Hijau’ untuk Ketahanan Pangan dan Lingkungan Berkelanjutan

Pengrajin Sarang Burung “Susuk Burung Aisyah”

upaya umkm mampu bersaing dalam pasar bebas
Mahasiswa KKN UMBY Kelompok 107 dengan produk yang dibuat oleh UMKM sarang burung “Susuk Burung Aisyah” – Dok. KKN UMBY Kelompok 107

UMKM keluarga ini telah menekuni industri kerajinan sarang burung selama beberapa tahun, membangun reputasi lewat keunikan bahan baku yang digunakan.

Berbeda dari kebanyakan produsen, mereka mengandalkan daun pinus sebagai material utama pembuatan sarang burung, memberikan sentuhan alami sekaligus nilai estetika yang khas. Kreativitas ini menjadi daya tarik tersendiri, namun sayangnya belum sepenuhnya dikenal oleh pasar yang lebih luas.

Salah satu kendala yang dihadapi adalah lokasi rumah produksi yang sulit ditemukan, sehingga calon pembeli kerap kesulitan untuk berkunjung secara langsung. Ditambah lagi, ketiadaan identitas merek yang jelas membuat produk ini sulit menonjol di tengah persaingan.

Menyadari potensi besar yang dimiliki, Kelompok 107 mengambil langkah strategis untuk membantu pengembangan usaha ini.

Langkah pertama adalah mendaftarkan lokasi rumah produksi ke Google Maps, sehingga pelanggan dapat dengan mudah menemukan dan mengunjungi tempat produksi tanpa hambatan. Langkah kedua adalah merancang sebuah logo yang merepresentasikan ciri khas produk, sarang burung dari daun pinus dengan tampilan yang profesional dan mudah diingat.

Kombinasi strategi pemasaran digital dan penguatan identitas visual ini diharapkan mampu memperluas jangkauan pasar, menarik lebih banyak pelanggan baru, serta memperkuat posisi UMKM ini sebagai pelaku usaha yang unik dan kompetitif di industri kerajinan.

Baca Juga: KKN UMBY Dorong Remaja Raih Masa Depan Cerah lewat Literasi Finansial dan Karier

Rumah Produksi Kipas Tangan “Mas Anton”

upaya umkm mampu bersaing dalam pasar bebas
Mahasiswa KKN UMBY Kelompok 107 saat berada di rumah produksi kipas tangan “Mas Anton”- Dok. KKN UMBY Kelompok 107

Berlokasi berdampingan dengan pengrajin sarang burung Aisyah, UMKM milik Mas Anton menjadi salah satu pelaku usaha kreatif yang mempertahankan warisan budaya melalui produksi kipas tangan tradisional.

Setiap kipas dibuat dengan sentuhan modern, memadukan nilai estetika klasik dan desain yang lebih segar sehingga cocok digunakan baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun acara khusus. Keunikan ini menjadikan produk Mas Anton memiliki daya tarik tersendiri di tengah gempuran produk pabrikan.

Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya teroptimalkan. Salah satu kendala terbesar adalah lokasi rumah produksi yang belum terdaftar di platform digital, sehingga calon pembeli yang ingin berkunjung kerap kesulitan menemukan alamat secara tepat.

Kondisi ini tentu membatasi jangkauan pemasaran, terutama di era digital di mana kemudahan akses menjadi kunci penting bagi perkembangan usaha.

Menanggapi tantangan ini, Kelompok 107 mengambil langkah konkret dengan membantu mendaftarkan lokasi produksi kipas tangan Mas Anton ke Google Maps. Dengan adanya penandaan lokasi yang jelas di peta digital, pelanggan kini dapat menemukan dan mengunjungi rumah produksi dengan lebih mudah.

Diharapkan, langkah sederhana namun strategis ini mampu meningkatkan visibilitas usaha, memperluas pasar, dan membuka peluang baru bagi kipas tangan tradisional khas Mas Anton untuk dikenal lebih luas, bahkan hingga di luar wilayah desa.

“Kami berharap bantuan yang diberikan dapat menjadi titik awal bagi UMKM di Dusun Jatirejo untuk terus berkembang dan memanfaatkan teknologi digital dalam memasarkan produk mereka,” ujar Naufal perwakilan Kelompok 107.

Baca Juga: Tradisi dan Kebersamaan: KKN UMBY Kelompok 70 di Merti Dusun Srunggan Morogaten

Penutup

Melalui rangkaian pendampingan ini, KKN PPM UMBY Kelompok 107 tidak hanya membantu pelaku UMKM di Dusun Jatirejo meningkatkan kapasitas usaha, tetapi juga menanamkan kesadaran akan pentingnya branding dan pemanfaatan teknologi digital sebagai kunci keberlangsungan bisnis di masa depan.

Kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat ini menjadi bukti bahwa langkah kecil, jika dilakukan dengan tepat sasaran, mampu memberi dampak besar bagi kemajuan ekonomi lokal, sekaligus mengangkat potensi lokal agar semakin dikenal di kancah yang lebih luas.

 

Penulis: Mahasiswa Kelompok 107 KKN UMBY 
Universitas Mercu Buana Yogyakarta

Editor: I. Khairunnisa
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses