Ketika seseorang mengalami kesulitan di bidang akademik atau/dan kesulitan2 lainnya, banyak murid akan menganggap dia “beban kelompok” atau/dan “pemalas”.
Anggapan2 tersebut dapat menjadi perlakuan yang tidak adil. Mereka tidak peduli apa kesulitan yang dialaminya, dan tidak peduli, bahwa kesulitan tersebut dapat terjadi ke mereka.
Contoh lain, ketika ada suatu berita viral, cukup banyak netizen yang langsung menyebarkannya tanpa dicek kebenarannya atau memikirkan dampaknya. Jika berita tersebut tidak benar, dapat memicu kebingungan dan keresahan publik bahkan sampai merusak reputasi secara tidak adil.
Seperti saat awal 2018, ketika ada berita beredarnya telur plastik. Masyarakat sangat resah, peternak dan penjual telur mengalami kerugian.
Bahkan, Kementerian Pertanian dan Satgas Pangan Mabes Polri harus turun tangan untuk mengumumkan bahwa berita tersebut tidak benar.
Dari dua contoh tersebut, banyak orang menilai seseorang terlalu cepat. Ketika seseorang membuat suatu kesalahan, mereka menyamakan kesalahan tersebut dengan karakternya, dan menyebarkan penilaian tersebut.
Mereka tidak peduli apa kebaikan yang pernah dia buat. Sehingga ketika seseorang mendapat reputasi yang buruk, tidak peduli apakah wajar atau tidak, akan sangat sulit untuk memperbaiki reputasi tersebut.
Lalu, bagaimana mencegah hal-hal tersebut? Pertama, cek bahwa penilaian kita atau penyebar info benar. Jika kita tidak tahu kebenarannya, jangan dinilai dulu.
Kita harus mendengarkan perspektif kedua pihak, dari kita/penyebar dan orang yang dinilai, secara netral(pahami kenapa pandangan mereka seperti itu).
Jangan sampai karena kita hanya mendengar dari salah satu pihak atau merasa tidak enak, kita menyebarkan informasi yang tidak tepat atau melakukan tindakan yang salah.
Kedua, pikirlah dampak tindakan kita. Jangan sampai, hanya karena seseorang melakukan kesalahan, kita merasa dia lebih rendah dari kita.
Dia manusia, kita pun juga, sehingga tidak luput dari kesalahan, meski adanya usaha kita untuk mencegahnya.
Baca juga: Melemahnya Interaksi Sosial Akibat Dominasi Media Sosial
Kita juga tidak tahu kondisi, kesulitan, atau/dan tekanan apa yang dialaminya sehingga membuat kesalahan tersebut. Ingat, pandangan yang keliru dapat menyebabkan perkataan dan perbuatan yang keliru pula.
Jika kalian melihat seseorang berbuat kesalahan, lebih baik menegurnya(jika dia masih mengulangi atau bersikeras bahwa dia benar, lapor ke pihak berwenang) daripada menyebarkan berita tersebut ke orang lain.
Memang, menyebarkan kesalahannya bisa menjadi pengendalian sosial dan memberikan efek jera, karena banyak orang tidak mau menjadi bahan pembicaraan.
Namun, itu juga dapat merusak kepercayaan diri orang tersebut, karena merasa tidak disukai banyak orang.
Bahkan, orang tersebut dapat merasa tersakiti oleh kita, dan rasa tersebut dapat menumbuhkan kontravensi yang ada menjadi konflik.
Kalian juga sebaiknya jangan membuang waktu untuk mengubah pendapat orang2 yang membicarakanmu.
Lebih baik jika fokus ke diri sendiri, mencari orang yang dapat dipercaya jika perlu, dan mengubah perilaku kurang baik jika memang ada.
Jika merasa telah menyakiti pihak lain, minta maaf ke mereka. Namun yang paling penting, jangan putus asa, karena hanya kamu yang dapat menentukan harga dirimu, bukan orang lain, bukan kesalahanmu, bukan prestasi atau jabatan, dan bukan nilai rapor.
Baca juga: Ketidakadilan dalam Penilaian
Maka, sebelum menyebarkan penilaian kalian, cek bahwa penilaian tersebut benar dan pikirlah dampaknya, terutama pada orang yang kalian nilai.
Ketahui bahwa semua tindakan dan perkataanmu berdampak, baik positif maupun negatif. Oleh karena itu, buatlah lingkungan yang layak untuk semua orang.
Penulis: Sean Collin Susanto
Mahasiswa Jurusan SMA Katolik Santo Louis 1 Surabaya
Referensi
https://www.youtube.com/watch?v=KFzhz3NXYAc
https://youtu.be/8Vwcn4hMWvM?si=C3IVtuF4Pi6bQa0l
Editor: Anita Said
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












