Medan, Oktober 2025 — Media sosial telah menjelma menjadi arena utama komunikasi yang memberikan dampak besar pada Bahasa Indonesia. Sebuah studi oleh enam mahasiswa Universitas Quality (UQ) Medan menyoroti peran ganda platform digital: sebagai pemicu kreativitas, namun juga ancaman serius bagi kaidah bahasa baku di kalangan generasi muda.
Sisi Positif: Kosakata Dinamis dan Adaptif
Media sosial terbukti memperkaya Bahasa Indonesia dengan kosakata baru yang menyebar cepat, seperti istilah gaul atau serapan asing (misalnya, spill, vibes). Fenomena ini menunjukkan bahwa Bahasa Indonesia adalah bahasa yang dinamis dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Sisi Negatif: Degradasi Kaidah dan Campur Kode
Dampak negatif yang paling disorot adalah pengabaian ejaan dan tata bahasa baku. Maraknya singkatan, penggunaan tanda baca yang salah, serta campur kode (mencampur Bahasa Indonesia dengan bahasa asing) secara berlebihan dikhawatirkan dapat mengikis kemampuan generasi muda dalam menguasai Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Rekomendasi: Gerakan Literasi Bahasa Digital UQ
Tim peneliti UQ menyarankan agar kampus dan lembaga pendidikan di Sumatera Utara mengintensifkan literasi bahasa digital. Diperlukan strategi yang menggabungkan kaidah bahasa baku dengan konten digital yang kreatif, sehingga generasi muda tidak menganggap Bahasa Indonesia yang benar sebagai sesuatu yang kaku dan usang.
Penulis:
1. Lisa anggraini
2. Siti Choyrani Bangun
3. Jesika br.sembiring
4. Nur H Sa’Diyah Aritonang
5. Egah Juni Mawarni Lase
6. Anggun Erika Sinaga
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Quality
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













