Melalui Program BBK 6 UNAIR: Siswa SDN Kedungmentawar Praktik Jadi “Agen Anti-Bullying” lewat Surat Afirmasi Sayang Teman

Foto bersama siswa SDN Kedungmentawar dengan kelompok BBK 6 UNAIR (Sumber: Dokumentasi Penulis, 2025)
Foto bersama siswa SDN Kedungmentawar dengan kelompok BBK 6 UNAIR (Sumber: Dokumentasi Penulis, 2025)

Kedungmentawar, MMI – Suasana kelas di SDN Kedungmentawar terasa berbeda dari biasanya. Penuh tawa, diskusi, dan kreativitas, para siswa tidak sedang belajar matematika atau Bahasa Indonesia, melainkan mengikuti program kerja “STOP Bullying! Bersahabat Tanpa Menyakiti” yang diinisiasi oleh mahasiswa Belajar Bersama Komunitas (BBK) 6 Universitas Airlangga. Program ini dirancang untuk menanamkan pemahaman tentang perundungan (bullying) dan membangun empati sejak dini dengan cara yang menyenangkan.

Menyadari bahwa lingkungan sekolah yang aman adalah hak setiap anak, para mahasiswa KKN membawakan materi dengan metode yang interaktif. Menggunakan media presentasi PowerPoint, para siswa diajak untuk mengenali apa itu bullying

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Dijelaskan bahwa bullying adalah tindakan sengaja menyakiti orang lain, baik secara fisik seperti memukul, verbal seperti mengejek, maupun secara sosial dengan mengucilkan teman.

“Kami ingin anak-anak paham bahwa bercanda ada batasnya. Jika sudah membuat teman sedih, takut ke sekolah, atau tidak percaya diri, itu bukan lagi candaan, tapi sudah masuk kategori bullying,” ujar Inas selaku pemateri dari kelompok BBK 6 Kedungmentawar. 

Untuk memperkuat pemahaman, suasana menjadi hening sejenak saat para siswa diajak menonton sebuah video edukasi sederhana yang mudah dipahami. Video tersebut menggambarkan dampak negatif dari perundungan, seperti stres, rasa cemas, dan ketakutan untuk pergi ke sekolah. 

Baca Juga: Bullying dan Hate Speech di Kalangan Pemuda: Fenomena, Dampak, dan Solusi

Momen ini terbukti efektif untuk membangun sisi emosional dan empati para siswa. Mereka diajak untuk merasakan apa yang dirasakan oleh korban bullying. Puncak dari kegiatan ini adalah sesi paling ditunggu-tunggu, yaitu membuat “Surat untuk mengungkapkan rasa sayang teman” menggunakan kertas origami.

Ini bukan sekedar surat menyurat, tetapi setiap siswa diminta untuk menuliskan hal-hal positif secara acak untuk temannya. Dengan antusias, tangan-tangan mungil mereka melipat kertas warna-warni dan menuliskan pesan-pesan hangat.

 Ada yang menulis, “Terima kasih ya sudah mau jadi teman layanganku,” ada pula yang mengajak, “Nanti sore kita main layangan di sawah, ya!” hingga ucapan sederhana seperti, “Kamu baik banget, makasih udah mau main sama aku.”

Baca Juga: Dampak Bullying dan Hate Speech pada Mental Generasi Muda

Aktivitas sederhana ini berhasil mengubah atmosfer kelas menjadi penuh kehangatan. Para siswa yang menerima surat terlihat tersenyum malu-malu, membacanya berulang kali, dan beberapa bahkan langsung membalas dengan ucapan terima kasih. Kegiatan ini secara langsung mengajarkan mereka untuk menghargai teman dan menyebarkan kebaikan, bukan kebencian. 

Program ditutup dengan ikrar janji bersama untuk tidak melakukan bullying dan selalu menghargai teman. Diharapkan, program ini tidak hanya berhenti sebagai acara seremonial, tetapi menjadi fondasi bagi terciptanya generasi yang lebih peduli, empati, dan menjadikan sekolah sebagai rumah kedua yang benar-benar aman dan nyaman untuk semua. 

Penulis: BBK 6 Kedungmentawar
Mahasiswa Universitas Airlangga

Dosen Pengampu (DPL): Pujo Sakti Nur Cahyo S.Hum, M.Hum.

Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

 

Ikuti berita terbaru di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses