Media sosial kini bukan lagi sekedar ruang pamer foto atau video hiburan.
Di tangan Muhammad Iqdam Kholid, atau yang lebih akrab disapa Gus Iqdam, platform digital seperti YouTube disulap menjadi panggung dakwah yang riuh oleh jutaan pasang mata generasi muda.
Pengasuh Majelis Ta’lim Sabilu Taubah ini sukses mematahkan mitos bahwa kajian agama tradisional selalu kaku dan membosankan bagi anak zaman sekarang.
Fenomena ini memicu sebuah riset mendalam mengenai taktik dibalik layar kanal YouTube Gus Iqdam Official.
Menggunakan kacamata teori strategi dakwah Al-Bayanuni, peneliti membedah bagaimana sang pendakwah mampu menyihir emosi, logika,dan panca indra audiensnya sekaligus lewat pendekatan etnografi virtual.
Daya pikat dakwah digital Gus Iqdam bersumber dari keseimbangan tiga strategi: pendekatan emosional yang hangat (sentimental), argumen logis yang relevan dengan kehidupan remaja (rasional), dan penekanan pada amalan praktis yang bisa langsung diterapkan (indrawi).
Pendekatan ini terbukti efektif menjangkau milenial dan Gen Z, membuat ajaran tradisional lebih mudah diterima.
Strategi adaptif ini berdampak nyata pada perilaku remaja, ditandai dengan meningkatnya kesadaran beragama serta perbaikan perilaku, seperti lebih rajin beribadah dan bertingkah laku santun.
Keberhasilan Gus Iqdam membuktikan bahwa pengemasan pesan agama secara kreatif dan cerdas dapat menjaga relevansinya di era digital.
Penulis: Maula Rahma Widia
Mahasiswa Prodi Manajemen Dakwah, UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung
Dosen Pengampu: Dr. Zulva Ismawati, M.Pd.
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












