Selat Hormuz Menegang: Ancaman Krisis Energi bagi Indonesia dalam Setahun ke Depan

Ketegangan Selat Hormuz
Ilustrasi Ketegangan di Selat Hormuz Akibat Konflik AS-Iran (Foto: Dok. MMI)

Pada 11 Maret 2026, Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat telah mendeklarasikan kemenangannya melawan Iran.

Dalam pidatonya dengan tampak percaya diri, Presiden Amerika Serikat yang ke-47 tersebut mengklaim pada masyarakat pendukungnya bahwa telah melumpuhkan sistem pertahanan dan pabrik rudal Iran, “we won, we won the bet…” pungkas Trump, di Kentucky, AS.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Seperti yang diketahui saat ini Selat Hormuz telah ditutup secara efektif oleh Iran karena konflik militer nya bersama dengan AS-Israel.

Lalu apakah ini sebuah kemenangan yang patut kita lihat sekilas lalu abai, yang telah dideklarasikan oleh Trump?

Ketegangan Selat Hormuz
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang berpidato.

Selat Hormuz menjadi salah satu titik perhatian dunia saat ini, karena selat ini merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.

Bahkan Jepang sebagai salah satu negara maju di Asia telah siaga tinggi karena mengkhawatirkan cadangan minyak yang mereka miliki hanya mampu bertahan 8-9 bulan kedepan.

Baca Juga: Teori Komunikologi: Pengelolaan Konflik AS-IRAN: Antara Hormuz dan Nuklir

Pergejolakan ekonomi telah terjadi, mata uang Jepang, Yen berfluktuasi diantara permintaan safe-haven karena penguatan Dolar AS.

Tidak hanya Jepang, Indonesia pun telah mengalami dampak geo-ekonomi secara signifikan karena pelemahan nilai Rupiah terhadap Dolar AS sampai dengan Rp17.800; sehingga berpotensi lonjakan harga BBM, dan tekanan pada APBN.

Dan negara-negara lainnya yang juga bergantung pada impor energi mulai menghitung dan merumuskan strategi-fit risiko ekonomi yang akan segera muncul.

Bagi Indonesia, situasi ini bukan hanya isu geopolitik Internasional semata, namun ancaman nyata bagi stabilitas energi dan ekonomi nasional dalam satu tahun kedepan. 

Konflik antara Iran-AS-Israel mungkin terlihat biasa saja dan terasa jauh bagi masyarakat Indonesia karena tidak secara langsung mempengaruhi kehidupan sehari-hari.

Namun, dalam sistem ekonomi global yang terus terhubung, pada akhirnya akan memberikan dampak yang sangat besar bagi masyarakat biasa karena meningkatnya harga minyak dan ketidakpastian ekonomi.

Perang tersebut, tidak hanya lagi menjadi sekedar konflik retorika politik, bahkan memungkinkan akan menjadi skala yang lebih besar dari yang sekarang.

Ada sekitar 20% perdagangan minyak global melewati selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab, memisahkan Iran dan Oman.

Selat ini menjadi jalur utama distribusi energi dari Arab Saudi, UEA, Kuwait, dan Irak ke pasar Asia.

Serangan rudal bolak-balik selama 11 hari sebelumnya telah mengganggu distribusi minyak, sehingga kenaikan biaya energi domestik menjadi semakin meluas terutama di Indonesia, sebagai negara berkembang yang masih bergantung pada impor energi.

Hal ini dipengaruhi oleh biaya transportasi, logistik, dan produksi industri, dan akan merambat pada harga barang konsumsi berpotensi meningkat.

Tidak hanya itu, konflik geopolitik ini akan memicu ketidakpastian di pasar keuangan global, investor menjadi waspada dan mengalihkan aset mereka ke instrumen yang dianggap akan lebih aman.

Nilai tukar melemah, biaya impor energi menjadi semakin mahal.

Baca Juga: Badai Global, Guncangan Lokal: Mengapa IHSG Lebih Cepat ‘Demam’ Saat Isu Geopolitik Memanas

Dalam perilaku konsumen, situasi ini akan memberikan dampak yang tercermin dalam harga kebutuhan pokok meningkat, namun kondisi ekonomi terasa tidak pasti.

Masyarakat berada dalam bayang-bayang apakah negara bisa menanggulangi dampak ini, sementara hanya sanggup menjadi penonton.

Masyarakat akan berhati-hati dalam mengelola keuangan, dan cenderung memprioritaskan kebutuhan utama, sehingga pengeluaran untuk kebutuhan sekunder seperti hiburan, wisata, atau barang mewah ditunda, pada akhirnya daya beli menurun.

Perilaku ini disebut sebagai precautionary consumption behavior, yaitu kecenderungan masyarakat untuk menahan konsumsi ketika menghadapi ketidakpastian ekonomi.

Namun apakah benar Indonesia tidak memiliki kekuatan strategis dan hanya berperan sebagai penonton dalam dinamika tersebut?

Walaupun menurut beberapa analis, konflik Iran-AS-Israel tidak akan memberikan dampak yang begitu besar pada Indonesia.

Harus diketahui bahwa pasar energi global memiliki mekanisme penyesuaian yang cukup kuat, dan Indonesia juga pastinya memiliki kebijakan stabilitas harga energi yang dapat membantu meredam gejolak harga minyak dunia.

Seperti yang telah ditegaskan oleh Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa yang menyatakan bahwa pemerintah tidak ingin tergesa-gesa untuk mengubah kebijakan fiskal, dalam mengamati gejolak ekonomi global saat ini.

Sehingga langkah mitigasi yang akan diambil kedepannya harus benar-benar mencerminkan keadaan naik atau turunnya harga minyak dunia, agar kebijakan yang diambil relevan dengan arah pergerakan harga sebelum mengambil langkah penyesuaian dalam APBN.

Optimisme ini harus dijaga namun tetap dibarengi dengan kewaspadaan, sebagai masyarakat awam, harus pandai dalam memilah informasi dan terus memantau strategi yang akan diambil oleh Indonesia.

Sejarah telah menunjukan bahwa konflik geopolitik seringkali berkembang secara tidak terduga.

Apalagi kondisi Iran saat ini masih keras menutup Selat Hormuz, dan mengancam akan menembaki kapal yang melintas, oleh Garda Revolusi Iran.

Ketika ketegangan ini terus berlanjut, maka dampaknya bisa jadi akan semakin meluas bahkan dapat merusak stabilitas ekonomi secara keseluruhan.

Baca Juga: Selat Hormuz: Ketika Sekuritisasi menjadi Mata Uang Geopolitik

Oleh karenanya, Indonesia harus mulai memperkuat strategi ketahanan energi nasional, termasuk diversifikasi sumber energi dan pengembangan energi alternatif.

Dalam menghadapi potensi krisis energi dalam satu tahun kedepan, langkah strategi-fit seperti penguatan cadangan energi nasional, adanya pengembangan energi terbarukan, serta kebijakan ekonomi yang adaptif menjadi semakin penting.

Indonesia mungkin tidak dapat menghentikan konflik Iran-AS-Israel, tetapi Indonesia bisa menentukan seberapa siap menghadapi dampaknya.

Ketegangan di Selat Hormuz harus menjadi alarm bahwa ketahanan energi bukan lagi sekadar isu ekonomi, melainkan bagian dari keamanan nasional.

Karena itu, pemerintah perlu memperkuat cadangan energi, mempercepat pengembangan energi terbarukan, dan mengurangi ketergantungan pada impor minyak.

Jika konflik terus berlanjut, yang dipertaruhkan bukan hanya kenaikan harga BBM, tetapi juga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat Indonesia.

Pada akhirnya, pertanyaan terbesarnya bukan siapa yang menang dalam perang ini, melainkan apakah Indonesia siap menghadapi konsekuensinya.


Penulis: Neni Fitriani Dewi, S.E.
Mahasiswa Prodi Magister Manajemen, Universitas Negeri Yogyakarta


Dosen Pengampu: Prof. Dr. Tony Wijaya, S.E., M.M.


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

1 Komentar