Selat Hormuz: Ketika Sekuritisasi menjadi Mata Uang Geopolitik

Selat Hormuz
Ilustrasi Selat Hormuz (Gambar: Dok. MMI)

Di tengah panasnya politik Timur Tengah, Selat Hormuz berdiri sebagai selat sempit yang menopang sekaligus juga mengancam stabilitas pasar global. Selat Hormuz sebagai chokepoints menjadi jalur energi, militer, bahkan kepentingan kekuatan besar yang saling berseberangan dalam satu tempat yang sama. Setiap kapal yang lewat bukan hanya membawa energi, namun juga membawa risiko geopolitik yang bisa menggoyahkan pasar global. Sekuritisasi Selat Hormuz sekarang telah berkembang menjadi instrumen kekuasaan global yang menentukan siapa yang menekan, siapa yang bertahan, dan siapa yang akan menanggung dampaknya.

Mengapa Hormuz Terus Menjadi Pusat Sekuritisasi

Selat Hormuz adalah selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia ke Samudra Hindia, ia bukan hanya sekedar celah sempit namun juga penopang utama ekonomi dan geopolitik dunia. Di dalamnya terdapat pipelines energi besar dan terminal dari negara-negara Teluk bergantung pada selat ini untuk mendistribusikan minyak dan gas ke pasar global. Maka dari itu, setiap adanya ketegangan politik dan militer, atau hanya sekedar ancaman simbolis Hormuz, tidak hanya berdampak pada negara-negara di sekitarnya saja, namun juga sangat mengguncang pasar energi yang berakibat pada kenaikan harga, dan memicu ketidakpastian global. Dalam konteks ini,, bekerjalah sebuah logika sekuritisasi, sebuah ruang ekonomi yang dikonstruksikan menjadi ruang ancaman, sehingga diperlakukan seolah panggung konflik permanen. Sebuah studi oleh Rizkiyani, H., M., et al. (2025) menggambarkan dinamika maritime di kawasan menunjukkan betapa cepatnya insiden lokal (penangkapan kapal, gangguan sistem navigasi, atau latihan militer) berubah menjadi narasi ancaman global, yang memperkuat justifikasi peningkatan hadirnya militer asing di wilayah perairan tersebut.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Proses transisi Hormuz dari isu ekonomi menjadi isu keamanan bukan hanya sebuah retorika belaka, ia melahirkan sebuah praktik keamanan seperti patroli militer, pembentukan koalisi maritim, dan legitimasi bagi aksi koersif. Studi terbaru dari Zahra, S., R., et al (2024) menunjukkan bahwa strategi maritime negara-negara pesisir telah bergeser dari dominasi militer besar-besaran menuju kekuatan asimetris dengan menggunakan kapal, drone laut, dan potensi A2/AD (anti-access/area-denial). Sekuritisasi dalam hal ini berkenaan dengan leverage geopolitik yang mampu menjaga posisi tawar, menekan rival potensial, dan menuntut konsesi di arena diplomasi.

Iran dan Logika Ancaman Asimetris

Bagi Teheran, Selat Hormuz bukan hanya sekedar batas geografis, melainkan sumber daya strategis. Kekuatan utama Iran bukan hanya bertumpu pada superioritas konvensional, namun juga kemampuannya dalam menciptakan suatu ketidakpastian. Dalam logika inilah ancaman untuk menutup Hormuz digunakan sebagai alat tawar politik. Strategi ini tidak ditujukan untuk memenangkan sebuah perang besar, namun untuk memaksa musuh untuk mengkalkulasikan ulang biaya konflik yang harus dibayarkan nantinya. Teheran sangat memahami betul sensitivitas sistem global terhadap gangguan pasokan energi, yang saat ini sangat dibutuhkan untuk menopang perekonomian negara. Maka, ancaman terhadap Hormuz sebagai alat diplomasi koersif yang jauh lebih efektif dibandingkan retorika di forum diplomatik.

Kerentanan Ekonomi: Ketergantungan yang Terbayar Mahal

Tidak dapat disangkal bahwa dampak ekonomi dari sekuritisasi Selat Hormuz bersifat langsung, cepat, dan berskala lintas negara. Setiap eskalasi, sekecil apa pun, segera menciptakan reaksi berantai di pasar global, yang mencakup melonjaknya harga minyak bahkan sebelum pasokan benar-benar terganggu, premi asuransi pelayaran meningkat tajam karena risiko geopolitik dinilai naik, dan kontrak pengiriman energi harus dinegosiasi ulang dengan biaya yang lebih mahal. Dalam sistem ekonomi global yang sangat tersambung, gejolak di satu titik sempit ini menyebar ke seluruh dunia melalui mekanisme harga, nilai tukar, dan tekanan inflasi. Hormuz bukan hanya jalur teknis perdagangan, tetapi simpul utama logistic energi global.

Dalam kondisi ini, minyak tidak lagi berfungsi sebagai komoditas belaka, ia telah menjelma menjadi senjata geopolitik. Semua gangguan di Selat Hormuz selalu berdampak pada psikologis pasar energi global. Harga melonjak bukan hanya karena risiko fisik, namun karena adanya konstruksi ketakutan kolektif yang terus dihasilkan oleh konflik politik.

Ketergantungan dunia pada satu titik sempit ini menciptakan paradoks globalisasi ekonomi yang berjalan di atas fondasi geografis yang sangat rentan. Stabilitas ekonomi global disandarkan pada keamanan sebuah selat yang secara politik terus diperebutkan.

Iran vs Amerika dan Stabilitas yang Saling Membelenggu

Iran dan Amerika telah lama berkonfrontasi, ketegangan berulang antara Amerika dan Iran menempatkan Selat Hormuz dalam posisi semakin rentan, meskipun pada kenyataannya kedua negara memiliki kepentingan yang sama untuk menjaga stabilitas kawasan tersebut. Studi terbaru oleh Istiqomah, I & Mutmainah, D. (2025) menjelaskan bahwa semenjak Amerika keluar dari perjanjian nuklir JCPOA, tekanan ekonomi terhadap Iran meningkat drastis, karena sanksi maksimum yang kembali diterapkan , tekanan ini melahirkan respons balik oleh Iran, dengan menjadikan Selat Hormuz sebagai alat tawar, mulai dari ancaman penutupan Selat Hormuz, pengangkatan, dan serangan terhadap kapal tanker, yang semuanya memicu kenaikan harga minyak dan kekhawatiran global.

Di sisi lain, respons militer Amerika dan hadirnya armada di wilayah tersebut memperbesar potensi salah kalkulasi yang bisa berujung pada konflik terbuka. Hal ini menunjukkan, saat ada dua aktor yang sama-sama memerlukan jalur yang aman malah saling mendorong pada ketidakstabilan. Jika tidak ada komitmen dan kesepakatan keamanan maritime yang mengikat, maka selamanya dunia harus terus membayar harga yang mahal atas rivalitas aktor-aktor yang memegang kunci salah satu chokepoint energi terpenting di planet ini (Damayanti, A., Et al. 2022).

Hormuz: Antara Hak Lintas dan Politik Perlawanan

Kondisi Selat Hormuz saat ini adalah simbol dunia yang semakin terpolarisasi antara hukum dan logika kekuatan. Ia mencerminkan bagaimana chokepoint paling vital justru berjalan dalam ketidakpastian politik yang terus menerus dihasilkan oleh rivalitas kekuasaan.

Sekuritisasi Hormuz bukan hanya berkenaan dengan militerisasi kawasan laut, tapi juga tentang bagaimana sanksi ekonomi, diplomasi koersif, dan ketimpangan kekuasaan global saling memperbesar jurang konflik. Selama tekanan terhadap Iran terus dilakukan maka selamanya Selat Hormuz akan tersandera oleh kondisi geopolitik dunia.

Dunia ingin Hormuz tetap terbuka, namun di sisi lain juga mendorong kebijakan yang memungkinkan agar Hormuz ditutup. Selama kontradiksi ini belum selesai, dunia akan terus melihat Selat Hormuz sebagai chokepoints dengan beban konflik internasional.

 

Penulis: Charisa Try Hapsari 
Mahasiswa Prodi Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Sriwijaya

Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Referensi

Damayanti, A., M., et al. (2023). United States-Iran shared interest and the stability of the Strait of Hormuz. Global Strategies, 16(2), 357-369. https://doi.org/10.20473/jgs.16.2.2022.357-378

Istiqomah, I. & Mutmainah, D. (2025). Upaya Diplomasi Maritim Koersif Amerika Serikat terhadap Iran di Selat Hormuz. SOSMANIORA (Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora). 4(2), 515-529. DOI: https://doi.org/10.55123/sosmaniora.v4i2.5386

Rizkiyani, H. M., Et al. (2025). Geopolitical dynamics of maritime security in the Strait of Hormuz. International Journal of Humanities Education and Social Sciences, 4(6), 2536-2543. DOI: https://doi.org/10.55227/ijhess.v4i6.1351

Zahra, S.R. et al. (2025). Analysis of Iran’s Maritime Strategy in the Strait of Hormuz Under Admiral Tangsiri’s Leadership. Marcopolo: Indonesian Journal of Interdisciplinary in Science and Technology. 2(10), 1331-1348. DOI: https://doi.org/10.55927/marcopolo.v2i10.11448

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses