Bukan soal jauh dekatnya lokasi, tapi saat ketegangan muncul di Timur Tengah maupun Asia Timur, reaksi langsung terlihat di layar Bursa Efek Indonesia (BEI).
Gerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sering kali lebih tajam daripada tetangga sesama kawasan begitu situasi global memanas. Belum tentu karena fundamental ekonomi dalam negeri buruk, namun sentimen luar bisa dengan cepat mengubah arus dana asing. Ketidakpastian global ternyata cukup kuat untuk membuat pelaku pasar luar menunda penempatan atau bahkan keluar sementara waktu.
Baca juga: Apa itu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)? Panduan Lengkap untuk Pemula & Investor
Di tengah ketegangan antara Iran, Israel, serta Amerika Serikat, situasi di Timur Tengah tetap tak menentu meski sudah berlangsung lama. Dampaknya merambat ke perekonomian dunia, salah satunya menggoyahkan perdagangan saham secara luas. Investor internasional melihat Indonesia sebagai bagian dari kelompok negara berkembang yang rentan terhadap gejolak.
Ketika krisis muncul, mereka cenderung menjauhi risiko dengan segera menarik modal dari wilayah seperti ini. Dana tersebut kemudian dialihkan ke instrumen yang dianggap lebih stabil, misalnya logam mulia atau mata uang dolar Amerika Serikat.
Justru karena itu, tombol jual bergerak serempak hingga membuat IHSG terjun lebih tajam ketimbang pasar saham Singapura maupun Tokyo yang tampak lebih stabil. Meski begitu, ketergantungan besar pada sektor komoditas malah menekan posisi Indonesia.
Saat ketegangan muncul di Selat Hormuz, harga minyak dunia cenderung melambung tinggi. Karena statusnya sebagai pengimpor minyak bersih (net oil importer), naiknya biaya energi langsung membayangi belanja negara serta memicu desakan pada laju inflasi. Ada kegelisahan yang tumbuh di kalangan pelaku pasar soal turunnya kemampuan konsumsi warga, ditambah risiko lonjakan biaya subsidi energi yang berpotensi memangkas keuntungan emiten.
Baca juga: Selat Hormuz: Ketika Sekuritisasi menjadi Mata Uang Geopolitik
Dalam skenario semacam ini, kondisi jadi lebih rapuh lantaran komposisi pemodal dalam negeri masih terbatas. Walau angka partisipan lokal kian naik, besarnya dana yang mereka miliki tidak sebanding dengan volume arus keluarnya investasi asing. Pasar domestik mudah guncang begitu investor global mengubah posisi, disebabkan sedikitnya transaksi beli agresif dari lembaga internal macam pengelola dana pensiun atau perusahaan asuransi saat nilai saham sedang rendah.
Bukan cuma alat baca angka, tampilan data di BEI memperlihatkan betapa dekatnya perekonomian dalam negeri dengan gejolak luar, sekaligus membuka mata soal lemahnya daya tahan terhadap tekanan global. Meski arus dana asing masih jadi penopang utama dan pasokan energi belum mandiri, suara tembakan dari ujung dunia bisa saja sampai menggema di tengah Jakarta.
Penulis:
Melisa Dwi Lestari
Mahasiswa Universitas Pamulang
Marsha Fiyandiva
Mahasiswa Universitas Pamulang
Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













