Mengenal Rhizopus oryzae: Jamur Serbaguna dalam Fermentasi dan Bioteknologi

Biologi
Rhizopus oryzae.

Rhizopus oryzae merupakan salah satu jamur dari kelas Zygomycete yang memiliki peran penting dalam berbagai aplikasi fermentasi dan bioteknologi.

Jamur ini dikenal luas sebagai mikroorganisme utama dalam produksi produk fermentasi tradisional seperti tempe, serta memiliki potensi besar dalam bidang industri modern, termasuk produksi asam organik, enzim, dan bioetanol.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Artikel ini membahas karakteristik, peran, dan aplikasi Rhizopus oryzae dalam fermentasi dan bioteknologi, serta tantangan dan peluang dalam pengembangannya. 

Fermentasi merupakan salah satu proses bioteknologi yang sudah lama digunakan manusia untuk menghasilkan berbagai produk makanan, minuman, dan bahan kimia. Salah satu mikroorganisme yang sering dimanfaatkan dalam proses ini adalah Rhizopus oryzae.

Jamur ini telah digunakan secara tradisional di berbagai budaya, khususnya di Asia Tenggara, untuk memproduksi makanan fermentasi seperti tempe dan tape.

Nurholipah dan Ayun (2021) mengatakan bahwa produksi tempe di Indonesia umumnya terbuat dari kedelai yang difermentasikan dengan kapang Rhizopus sp.

Hasil dari fermentasi kapang ini mampu menghasilkan 3 enzim yaitu enzim protase yang berfungsi sebagai pengurai protein menjadi peptide dan asam amino bebas, enzim lipase yang berfungsi sebagai pengurai lemak menjadi asam-asam lemak, dan enzim amilase yang dapat menguraikan karbohidrat kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana.

Selain perannya dalam fermentasi makanan, Rhizopus oryzae juga memiliki potensi besar dalam aplikasi bioteknologi modern, termasuk produksi asam laktat, asam fumarat, enzim hidrolitik, dan bioetanol.

Sesuai dengan Hidayat (2006) bahwa R. oryzae dapat memproduksi asam laktat dalam bentuk L(+) yang dihasilkan melalui proses fermentasi. Asam laktat merupakan bentuk yang diinginkan untuk dimanfaatkan dalam industri terutama dalam aplikasinya pada industri pangan. Rhizopus oryzae dapat menghasilkan asam laktat murni.

Karakteristik Biologis Rhizopus oryzae

Rhizopus oryzae adalah jamur saprofit yang biasanya ditemukan pada bahan organik yang sedang mengalami dekomposisi. Rhizopus oryzae tergolong filum zygomycetes, ordo mucorales dan genus Rhizopus.

Suhu minimum pertumbuhan Rhizopus oryzae adalah 5-7 ˚C dan suhu maksimum yaitu 44 ˚C sedangkan pH pertumbuhan optimumnya adalah 4-9. Rhizopus sering tumbuh pada sayuran dan buah buahan.

Selain merusak makanan, beberapa spesies Rhizopus juga digunakan dalam pembuatan beberapa makanan fermentasi tradisional, misalnya Rhizopus oligosporus dan Rhizopus oryzae yang digunakan dalam fermentasi berbagai macam tempe dan oncom hitam (Anita, 2022). 

Baca Juga: Inovasi Bakso Jamur Tiram dan Tepung Kacang Merah: Solusi Kreatif dari Pelatihan untuk Ibu-Ibu Perumahan Dinoyo Royal Park

Klasifikasi Rhizopus oryzae menurut Ade (2016) adalah sebagai berikut:

Kingdom : Myceteae 

Divisi : Zygomycota 

Kelas : Zygomycetes 

Ordo : Mucorales 

Famili : Mucoraceae 

Genus : Rhizopus 

Spesies : Rhizopus oryzae 

Secara makroskopis Rhizopus oryzae terlihat seperti koloni jamur pada medium setelah tujuh hari masa inkubasi berwarna putih sampai abu-abu (Gambar 1). Pengamatan secara mikroskopis memperlihatkan rhizoid berwarna coklat dan bercabang, stolon licin dan berwarna coklat kekuningan.

Gambar 1. Koloni Rhizopus oryzae pada medium PDA.
[Sumber: Ade, 2016].
(Tanggal akses: 14 Januari 2025).

Baca Juga: Potensi Bagasse Tebu sebagai Media Tumbuh Jamur Tiram Putih di Indonesia

Spora yang dimiliki bulat atau setengah bulat dengan dinding berwarna coklat tua. Hal ini sesuai dengan karakteristik yang dikemukakan Samson dan van Reenen Hoekstra (1988) bahwa R. oryzae mempunyai koloni yang berwarna putih sampai abu-abu, rhizoid berwarna coklat dan bercabang, stolon licin dan berwarna coklat kekuningan dan spora yang dimiliki bulat atau setengah bulat dengan dinding berwarna coklat tua, dan dapat dilihat pada Gambar 2. 

Gambar 2. Mikroskopis R. oryzae pada perbesaran 100×.
[Sumber: Ade, 2016].
(Tanggal akses: 14 Januari 2025).
Rhizopus oryzae merupakan jamur yang dapat tumbuh pada kondisi yang lembab seperti di Indonesia. Jamur ini mudah tumbuh di daerah tropis maupun subtropis. Indonesia merupakan salah satu negara tropis yang cemaran jamurnya cukup tinggi sehingga memudahkan untuk isolasi Rhizopus oryzae.

Isolasi jamur ini dapat dilakukan dari berbagai macam sumber, seperti tanah, biji-bijian, kacang kacangan, air tercemar, sayuran dan buah yang sudah busuk (Anita, 2022).

Peran dalam Fermentasi Tradisional

Dalam industri makanan tradisional, Rhizopus oryzae dikenal sebagai mikroorganisme utama dalam pembuatan tempe. Jamur ini memecah protein, lemak, dan karbohidrat dalam kedelai, menghasilkan tekstur yang khas dan meningkatkan kandungan nutrisi, seperti vitamin B12 dan senyawa bioaktif lainnya.

Selain tempe, Rhizopus oryzae juga digunakan dalam fermentasi tape, menghasilkan rasa manis dan aroma khas akibat aktivitas enzimatisnya.  

Baca Juga: Strategi Kunci Budidaya Jamur Tiram

Aplikasi dalam Bioteknologi Modern

  1. Produksi Asam Organik: Rhizopus oryzae merupakan salah satu mikroorganisme yang digunakan dalam produksi asam laktat dan asam fumarat secara komersial. Asam laktat banyak digunakan dalam industri makanan, farmasi, dan sebagai bahan baku pembuatan plastik ramah lingkungan (polilaktat).  
  2. Produksi Enzim Hidrolitik: Jamur ini menghasilkan berbagai enzim seperti amilase, lipase, dan protease yang digunakan dalam industri pangan, tekstil, dan farmasi. Enzim-enzim ini memiliki potensi besar dalam pengolahan limbah organik dan bioremediasi.  
  3. Produksi Bioetanol: Kemampuan Rhizopus oryzae untuk memfermentasi gula menjadi etanol membuatnya menjadi kandidat yang potensial dalam produksi bahan bakar terbarukan. Penelitian terus dilakukan untuk meningkatkan efisiensi produksi bioetanol menggunakan jamur ini.  

Kesimpulan

Rhizopus oryzae sebagai jamur serbaguna yang telah digunakan secara luas dalam fermentasi tradisional dan memiliki potensi besar dalam berbagai aplikasi bioteknologi modern.

Dengan penelitian dan pengembangan lebih lanjut, jamur ini dapat menjadi solusi inovatif untuk berbagai kebutuhan industri, termasuk pangan, farmasi, dan energi terbarukan.

Penulis: Annisa Muthia Rini
Mahasiswa Jurusan Biologi (Bioteknologi) Universitas Al Azhar Indonesia
Penulis aktif juga di organisasi BEMFST UAI

Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses