Menguak Psikologi Perempuan ala Ester Lianawati: Perempuan Jadilah Liar!

Buku
Buku Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan karya Ester Lianawati.

Pengertian Feminis dan Patriarki

Feminis merujuk pada seseorang atau gerakan yang mendukung atau memperjuangkan kesetaraan gender antara perempuan dan laki-laki, terutama dalam hal hak-hak sosial, politik, ekonomi, dan budaya.

Gerakan feminisme sendiri memiliki sejarah panjang dan berkembang dalam berbagai gelombang yang masing-masing menanggapi isu-isu tertentu pada waktu tertentu.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Feminisme tidak hanya terbatas pada perempuan, tetapi juga melibatkan laki-laki sebagai sekutu dalam upaya menciptakan masyarakat yang lebih adil dan setara, di mana stereotip dan peran gender yang kaku dapat dibongkar.

Jadi, meskipun banyak fokusnya pada pemberdayaan perempuan, ide dasar feminisme adalah untuk memperjuangkan keadilan sosial secara lebih luas.

Dalam banyak gerakan feminisme, patriarki dipandang sebagai salah satu penyebab utama ketidaksetaraan gender, dan perjuangan feminis sering kali diarahkan untuk membongkar atau menggantikan sistem patriarkal dengan struktur yang lebih egaliter, di mana kekuasaan dan kesempatan lebih merata antara semua gender.

Patriarki adalah sistem sosial, budaya, atau politik di mana kekuasaan dan otoritas utama berada di tangan laki-laki, sementara perempuan dan kelompok gender non-biner sering kali diposisikan di bawah atau terpinggirkan.

Dalam masyarakat patriarkal, struktur kekuasaan dan peran gender seringkali menguntungkan laki-laki dan memberikan hak-hak yang lebih besar kepada mereka, baik dalam ranah keluarga, ekonomi, politik, maupun budaya.

Patriarki bukan hanya sebuah sistem yang melibatkan laki-laki yang menindas perempuan, tetapi juga mempengaruhi laki-laki itu sendiri, karena mereka diharapkan untuk menyesuaikan diri dengan peran yang sangat ketat sebagai “pemimpin” atau “penyedia,” yang bisa menimbulkan tekanan dan ketegangan.

Baca Juga: Pernikahan Dini dan Pengaruh Psikologis terhadap Perempuan

Bab-Bab dalam Buku

Ester Lianawati berbicara mengenai pencarian jati diri perempuan dalam ranah kacamata feminisme dalam bukunya yang berjudul Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan: Psikologi Feminis untuk Meretas Patriarki. Dalam tulisannya, Ester membagi menjadi 3 bab.

Bab Pertama berjudul ‘Psikologi Feminis: Apa & Bagaimana’ memuat 6 sub bab:  Membaca Psikologi Feminis; Apakah Perempuan Ingin Penis? Membincangkan Freud; Dunia di Antara Rahim dan Vagina: Menimbang Teori Erikson; Saya Sabina Spielrein, (Bukan) Kekasih Carl Jung; Selalu Ada Kesempatan untuk Bangkit: Menerapkan Terapi Trauma; Otak, Seks, Ideologi.  

Bab Kedua berjudul ‘Semesta yang Tak Terlihat’ memuat 10 sub bab: Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan; Perempuan, Jadilah Liar; Aku Perempuan, Aku Tidak Sempurna; Perempuan, Tubuh, dan Kecantikan; Kecantikan dan Narsisme Ala Salome; Etika Kepedulian dan Keputusan-Keputusan Moral Perempuan; Kartini yang Aku Pahami; Ibu dan Kesakitan-kesakitannya; Dalam Jebakan Takdir; Perempuan-Perempuan Penyihir.

Bab Ketiga berjudul ‘Mari Kita Bicarakan Kekerasan terhadap Perempuan’ memuat 6 sub bab: Kekerasan terhadap Perempuan di Seluruh Dunia; Kecam Babi Itu, Mari Mulai Bicara; Hari Ini Saya Lempar Keluar Babi Itu; Seksualisasi Traumatis; Gadis Cilik Itu dan Kepribadiannya yang Tersayat; Tubuh Ini Bukan Milikku Lagi: Kematian dan Traumatisasi Korban Pemerkosaan.

Penulis menjabarkan bagaimana pandangan sosial terhadap menstruasi pada perempuan pada abad ke-18, di mana saat itu menstruasi dianggap sebagai penyakit, selain kotor dan memalukan yang dilekatkan padanya.

Bahkan kegiatan yang melibatkan intelektual atau pikiran dianggap dapat membahayakan kesehatan perempuan, penyakit ini dinamakan Anorexia-Scholastica yang hanya menyerang perempuan saja karena terlalu banyak belajar.

Pandangan ini dipatahkan oleh Mary Putman Jacobi dalam penelitiannya The Question of Rest for Women During Menstruation (1877) bahwa psikologi mempertimbangkan ketimpangan gender, dokter dan ahli fisik menyatakan bahwa perempuan tidak membutuhkan istirahat fisik dan mental secara khusus saat menstruasi, performa perempuan tidak akan terganggu dan dapat beraktivitas normal jika mendapat asupan gizi yang seimbang.

Baca Juga: Dampak Pelecehan Seksual oleh Orang Terdekat: Dampak Psikologis pada Anak Perempuan

Teori Psikologi tentang Perempuan

Kemudian penulis memasukkan beberapa teori psikologi tentang perempuan yang terkenal, pertama teori Kompleks Oedipus Feminin oleh Sigmund Freud, teori ini mengatakan bahwa perempuan cemburu pada laki-laki yang mempunyai penis dan tidak dipotong atau sunat (dalam arti kata kasar), perempuan cemburu pada kebebasan gerak lelaki yang tidak dibatasi norma atau keteraturan. 

Kedua ada teori 8 Tahap Manusia oleh Erik Erikson di mana dalam penelitiannya, Erik hanya mengambil sampel pada laki-laki saja dan kata yang digunakan adalah ‘man’ dan ‘child’ yang menjurus kepada lelaki tetapi memberi judul penelitiannya secara universal yaitu ‘manusia’ sehingga tidak memuat identitas perempuan dan menunjukkan bahwa Erik adalah penganut androsentrisme (perspektif yang menempatkan laki-laki sebagai pusat dan mengabaikan perspektif lain/ perspektif perempuan). 

Ketiga ialah teori oleh psikolog asal Rusia-Sabina Spielrein-yang terlupakan karena politik Stalin. Teorinya yaitu ‘masokis’: Bagaimana mungkin seseorang mendapat kepuasan dari kepedihan orang lain (pengalaman setelah ia putus dari pacarnya)?

Kemudian ia menemukan bahwa kekuatan perempuan (yang membedakan dengan laki-laki) adalah empati. Menurutnya, melalui empati, psike perempuan bersifat aktif dan dinamis. Psike perempuan sama sekali tidak lebih rendah dari psike lelaki.

Perempuan tidak memiliki banyak peluang dibandingkan lelaki untuk bereksperimen dalam dunia nyata dan mewujudkan segala keinginannya. Namun dengan berempati terhadap apa yang dirasakan orang lain, ia ‘menghidupkan’ pengalaman-pengalamannya.

Adalah empati yang membedakan psike perempuan, kapasitas untuk masuk ke dalam kehidupan internal orang lain dengan merasakan apa yang dirasakan orang lain, seraya menyadari pada saat yang sama bahwa apa yang sedang ia rasakan adalah perasaan orang lain.

Baca Juga: Daddy Issues: Kehilangan Figur Ayah Memungkinkan Munculnya Situasi yang Rumpang, Terutama bagi Anak Perempuan

Penyembuhan Diri dan Pemulihan Psikologi pada Perempuan yang Trauma

Perempuan mudah terkena stres (neurotik) dan mudah mendapat trauma dibanding lelaki, tetapi sepahit dan seburuk apapun dampaknya, selalu ada kesempatan bagi perempuan untuk bangkit mengatasinya, perempuan selalu mudah untuk belajar dari pengalaman paling pahit dalam hidupnya, belajar memaafkan dan kembali mencintai.

Akan tetapi, penyembuhan diri tidak dapat dibebankan begitu saja kepada perempuan yang pernah mengalami peristiwa traumatis (KDRT, pemerkosaan, strict parents, broken home, patah cinta, dan lain-lain).

Kita hanya akan menambah dampak buruk bila menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya kepada korban. Pemulihan psikologis perlu diberikan kepada korban, baik dari konselor atau terapis trauma, dan juga kita sendiri sebagai orang terdekat.

Pertama, tampilkan sikap empati namun tidak menyalahkan korban atas apapun yang terjadi padanya. Kedua, kita perlu membangkitkan sikap realistis tetapi tetap optimistis. Maksudnya, realistis dalam bentuk penerimaan bahwa peristiwa buruk yang sudah terjadi tidak dapat diubah lagi.

Optimis dalam bentuk pemahaman baru bahwa tidak semua yang dihasilkan dari peristiwa negatif hanyalah negatif, kita perlu menggugah keyakinan mereka bahwa tidaklah berhenti sampai di sini, masa depan yang lebih baik sangat mungkin dimiliki.

Ketiga, kita perlu menumbuhkan harapan pada diri korban, hargai proses kemajuan korban walau sekecil apapun dan selambat apapun.

Karena kemajuan seperti apapun bentuknya menegaskan adanya harapan. Ketiga cara ini dapat membantu korban penyintas dan secara tidak langsung, kita turut berkontribusi untuk menjadikan kehidupan perempuan lebih sejahtera.

Baca Juga: Ketidakadilan Gender dalam Politik: Hambatan bagi Partisipasi Perempuan

Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan

Terinspirasi dari karya mitologi Romawi kuno mengenai Romulus dan Remus yang diselamatkan dan disusui serigala betina, penulis menggunakan representasi serigala betina dengan perempuan.

Stigma serigala adalah binatang buas, padahal serigala betina adalah binatang penyayang dan pelindung serta tidak membiarkan apapun melukai mereka. Sebagai pasangan, ia setia pada pasangannya, mampu melindungi diri sendiri, anak-anak, dan kelompoknya.

Ia mampu memimpin dirinya sendiri dan kelompoknya tanpa rasa takut. Di sisi lain, serigala mendorong anaknya untuk mandiri dan mampu melindungi dirinya sendiri.

Memiliki pengindraan yang tajam, intuisi kuat, kepedulian pada sesama, intuisi kuat, keberanian, kemampuan beradaptasi dalam berbagai situasi dan kondisi, kekuatan dan daya tahan. Jika banyak perempuan tidak menyadarinya, itu karena keliaran perempuan sejak lama ditekan oleh masyarakat.

Pada Eropa kuno, perempuan pintar dan berpikiran modern dianggap sebagai WITCH atau penyihir dan harus dibunuh. 

Liar di sini bukan dalam makna negatif nan merendahkan seperti tak terkendali melainkan mengandung arti kebersatuan dengan alam: menjalani kehidupan secara alami, mengikuti irama kehidupan dan aspirasi terdalam. Pribadi yang hangat dan autentik.

Jujur terhadap diri sendiri dan orang lain, perempuan liar mampu beradaptasi namun tetap menjadi diri sendiri, menjalani persahabatan secara tulus bukan untuk memenuhi kebutuhan diri agar dicintai atau dihargai karena ia telah mencintai dirinya sendiri, ia punya identitas sendiri.

Tidak membiarkan orang lain mengatakan apa yang harus ia lakukan dan membiarkan masyarakat menetapkan kriteria kecantikan. Tegas, berani, dan otonom.

Memahami kapasitas mencintai. Bangkit dan belajar dari pengalaman, perempuan liar tau saatnya bangkit, meski sudah hampir mati sekalipun, terseok-seok, serigala betina akan bangkit.

Baca Juga: Manajemen Stres pada Perempuan yang Mengalami Siklus Menstruasi

Kelebihan

Penulis tampaknya telah lama menggeluti dunia psikologi perempuan, banyak riset yang dimasukkan dalam bukunya tanpa dari banyaknya buku dan penelitian dalam referensi. Dalam satu buku memuat banyak isu dan selalu memberi solusi di akhir. Kamu seperti membaca 5 buku psikologi yang dirangkum dalam 1 buku. 

Kekurangan

Buku ini termasuk buku dengan pembahasan berat, kamu bisa membacanya perlahan karena banyak bahasa ilmiah. Selain itu pada bab teori-teori yang dikemukakan para ahli, hendaknya penulis membuat bab khusus untuk menjelaskan teori dan terpisah dari bab pengertian feminis.

Karena ketika membacanya, saya sedikit bingung pada awalnya sampai akhirnya saya menyelesaikan bab pertama dan membolak-balikkan satu bab ini untuk disusun secara teratur agar bisa memahaminya, akhirnya saya baru memahami bahwa bab pertama khusus pengertian feminis lalu kemudian pembagian teori para ahli, itu pun dibuat dengan judul khusus yang sedikit membingungkan saya pada awalnya dan membuat saya ingin berhenti membaca. Namun makin ke tengah, saya mulai terbawa arus dan mulai memahami maksud penulis.

Penulis: Ika Ayuni Lestari
Pemimpin Redaksi Media Mahasiswa Indonesia

Ikuti berita terbaru di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses