Sampah merupakan suatu benda atau barang yang tidak digunakan atau dibuang yang berasal dari aktivitas manusia ataupun alam. Seiring dengan bertambahnya kepadatan penduduk sampah menjadi permasalahan, karena volume sampah yang dihasilkan dari manusia semakin meningkat.
Permasalahan sampah di suatu kawasan meliputi kurangnya kesadaran masyarakat yang selalu membuang sampah sembarangan dan kurangnya pengetahuan mengenai pengelolaan sampah rumah tangga. Penanganan sampah yang tidak baik akan menyebabkan pencemaran lingkungan dan gangguan kesehatan.
Sampah rumah tangga umumnya merupakan sampah organik yang berasal dari sisa makanan yang dibuang. Sampah organik adalah jenis sampah yang mudah melapuk dan terurai oleh mikroorganisme yang berasal dari makhluk hidup, baik manusia, hewan maupun tumbuhan.
Pengelolaan sampah rumah tangga organik bisa menjadi solusi untuk mengurangi pencemaran lingkungan dan menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat. Sampah rumah tangga yang awalnya tidak memiliki nilai manfaat bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat jika diolah dengan tepat contohnya sebagai pembuatan mikro organisme lokal dan pupuk organik cair.
Pada 07 Desember 2023, mahasiswa jurusan Agribisnis fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur melakukan sosialisasi mengenai pembuatan Mikro Organisme Lokal (MOL) dan Pupuk Organik Cair (POC) di Rumah Bibit RW 07 Desa Sumput, Kec. Sidoarjo, Kab. Sidoarjo, Jawa Timur.
Di sekitar Rumah Bibit Desa Sumput mayoritas ibu rumah tangga belum memahami cara memanfaatkan nasi basi menjadi mikro organisme lokal dan pupuk organik cair.
Tujuan dari kegiatan pengabdian ini adalah memberikan sosialiasi dan pendampingan kepada para ibu rumah tangga di sekitar Rumah Bibit Desa Sumput dalam memanfaatkan nasi basi menjadi mikro organisme lokal dan pupuk organik cair yang dapat mengurangi pengeluaran biaya dalam usahatani rumah tangga serta mengurangi sampah rumah tangga yang terbuang secara percuma.
Mikro Organisme Lokal (MOL) adalah larutan yang mengandung mikro organisme yang berperan sebagai mempercepat penguraian bahan organik seperti pupuk kompos dan dapat digunakan sebagai pupuk organik cair untuk meningkatkan kesuburan tanah.
Mikro Organisme Lokal (MOL) dapat dibuat dari air cucian beras, air kelapa, cairan gula, dan sampah rumah tangga organik. Salah satu sampah rumah tangga organik yang mudah didapat untuk pembuatan mikro organisme lokal dan pupuk organik cair adalah nasi basi yang sudah berjamur.
Nasi basi merupakan nasi yang sudah tidak layak dikonsumsi, karena sudah ditumbuhi jamur dan memiliki bau yang tidak sedap.
Masyarakat sering membuang nasi basi secara percuma tanpa ada pemanfaatan lanjutan. Kelebihan dari mikro organisme lokal dan pupuk organik cair ini adalah mempercepat proses penguraian sampah organik, mampu menyediakan zat hara yang dibutuhkan tanaman, dan mengurangi pencemaran lingkungan.
Penyuluhan dilakukan dengan memberikan materi pengertian mengenai mikro organisme lokal dan pupuk organik cair, bahan pembuatan mikro organisme lokal dan pupuk organik cair, langkah-langkah pembuatan mikro organisme lokal dan pupuk organik cair, dan manfaat dari mikro organisme lokal dan pupuk organik cair.
Pelatihan dilakukan dengan mendemonstrasikan secara langsung pembuatan mikro organisme lokal serta pupuk organik cair.
Alat yang akan digunakan adalah wadah khusus untuk nasi basi, ember atau baskom, botol bekas air kemasan 1,5 liter, corong, saringan halus, gelas ukur, dan sarung tangan plastik. Bahan yang akan digunakan nasi basi ± 350 gram, 1 liter air, gula merah, atau gula pasir 3 sdm, dan air kelapa 250 ml.
Cara pembuatan mikro organisme lokal dan pupuk organik cair: Memasukkan 3 sdm gula merah atau gula pasir dan 1 liter air ke dalam wadah atau ember lalu diaduk hingga larut. Masukkan air kelapa 250 ml ke dalam wadah atau ember.
Setelah itu, nasi yang sudah berjamur juga dimasukkan ke dalam wadah dan diaduk hingga tercampur merata. Jika sudah tercampur merata, pindahkan cairan mikro organisme lokal ke dalam botol air kemasan 1,5 liter dengan bantuan corong.

Biarkan selama 4-6 hari hingga cairan mikro organisme lokal berbau seperti bau tape. Tutup botol harus dibuka setiap pagi hari untuk membuang gas yang dihasilkan dan kocok botol agar endapan tidak menggumpal.
Proses pemanenan mikro organisme lokal dilakukan dengan cara disaring menggunakan saringan halus atau kain saring. Hasil saringan selanjutnya dikemas dalam kemasan botol dan siap digunakan sebagai biostarter bokashi dan pupuk organik cair.
Untuk penggunaan sebagai biostarter dalam pembuatan bokashi membutuhkan MOL sebanyak 1 liter cairan MOL : 5 liter air. Sedangkan untuk disemprotkan ke tanaman, encerkan cairan MOL sebanyak 1 liter cairan MOL : 20 liter air. Penyiraman sebagai biostarter dan pupuk organik cair disemprotkan ke tanaman dapat dilakukan seminggu sekali.

Selama kegiatan berlangsung, ibu-ibu PKK Arisan RW 07 terlihat senang dan antusias dalam mengikuti penyuluhan dan pelatihan ini. Penyuluhan ini dapat meningkatkan pengetahuan para ibu rumah tangga mengenai manfaat mikro organisme lokal dan pupuk organik cair dari nasi basi.
Sehingga nasi basi menjadi produk yang memiliki nilai manfaat bagi lingkungan dan tanaman. Pembuatan mikro organisme lokal dan pupuk organik cair dari nasi basi bisa menjadi alternatif pemenuhan kebutuhan pupuk untuk lahan pertanian pekarangan.
Penulis: Akbar Satriya Indrawan
Mahasiswa Agribisnis, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













