Ada masa dalam hidup yang meninggalkan jejak lebih dari sekadar catatan di lembar laporan, masa dimana kita belajar, berproses dan tumbuh dalam diam. Bagi saya, masa itu hadir ketika menjalani magang di kantor wilayah badan pertanahan nasional (BPN) Aceh melalui program mahasiswa berdampak Universitas Syiah Kuala.
Hari pertama masih sangat jelas di ingatan. Pagi yang hangat, langkah yang ragu, dan dada yang berdebar. Saya berdiri di depan gedung besar itu, menatap logo BPN yang tampak megah sambil bertanya dalam hati : “Bisakah saya beradaptasi disini?”
Namun, semua keraguan itu perlahan luruh ketika disambut oleh senyum ramah pegawai dan sambutan yang terasa sangat membanggakan. Para kepala bidang memberikan arahan dan motivasi yang menumbuhkan semangat dan tentunya terasa menenangkan.
Hari-hari berikutnya berjalan dengan ritme yang baru. Ketikan cepat di keyboard, pandangan yang fokus pada layar komputer masing – masing dan ruangan yang dipenuhi suara printer yang bersahutan. Semua orang tenggelam dalam kesibukan, namun tetap ada kehangatan dalam sapa. Semuanya kini menjadi bagian dari keseharian saya.
Perlahan, Saya mulai memahami bahwa setiap dokumen yang saya lihat dan sentuh bukan hanya sekedar kertas, tetapi kisah. Kisah seseorang yang menunggu kepastian, hak, atau rasa adil yang tengah diperjuangkan.
Tugas saya beragam, mulai menelaah kasus, mencetak berkas, menulis nota belanja, menjaga loket pelayanan, hingga mengantar surat antar bagian. Kadang Lelah, kadang monoton, tapi setiap langkah kecil itu meninggalkan bekas dalam diri saya.
Memahami bahwa tanggung jawab tidak selalu datang dalam keputusan besar, tapi juga dalam hal-hal sederhana yang kita selesaikan dengan sungguh-sungguh.
Ada hari yang sibuk, ada pula hari yang sunyi. Tapi di sela semua itu, saya menemukan kehangatan. Para pegawai yang sabar membimbing, yang tidak segan menjelaskan ulang meski salah berkali-kali. Bahkan, ada yang sesekali menawari makan siang dengan senyum tulus.
Ketika hari mulai sore, suasana kantor menjadi tenang. Saya sering kali memperhatikan orang-orang yang masih tekun bekerja dan dalam diam saya merasa bersyukur karena berada di antara mereka memberikan pelajaran hidup yang tidak akan saya temukan di ruang kuliah.
Saya belajar bahwa bekerja bukan hanya tentang menggugurkan kewajiban, tetapi tentang keikhlasan. Tentang bagaimana kita menjaga nama baik institusi, menghormati setiap proses dan menghargai waktu orang lain.
Ada masa di hidup saya yang begitu tenang, tetapi meninggalkan gema yang panjang. Masa dimana saya belajar arti tanggung jawab, mengenal dunia kerja yang sesungguhnya, dan memahami bahwa “ berdampak” tidak selalu berarti melakukan hal besar.
Kadang ia tumbuh dari kesederhanaan – dari niat baik yang dilakukan dengan hati. Itulah yang saya rasakan saat magang di Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional (BPN) Aceh.
Penulis: Nur Halisa
Mahasiswa Prodi Ilmu Hukum, Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh
Editor: Fifi Elvira
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












