Pagelaran Wayang Kulit sebagai Peringatan Sumpah Pemuda dan Pengukuhan Pasar Sami Rukun

Seni
Pagelaran Wayang Kulit sebagai Peringatan Sumpah Pemuda dan Pengukuhan Pasar Sami Rukun

Karang Taruna Desa Klodran menyelenggarakan Pagelaran Wayang Kulit dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda serta pengukuhan Pasar Tugu Bata Sami Rukun. Pagelaran Wayang Kulit ini mengambil lakon “Semar Mbangun Gedhong Kencana” dengan dalang Ki Sri Susilo Tengkleng asal Boyolali.

Bapak Saiful Anam Khoirul Bakri selaku ketua karang taruna bekerjasama dengan pemerintah Desa Klodran serta pengelola pasar yaitu Bapak Indah Rahmanto mengambil konsep “Sami Rukun” yang ditujukan sebagai pengukuhan dari Pasar Tugu Bata Sami Rukun tersebut yang sebelumnya terbengkalai.

Mereka berharap bahwa kedepannya pasar ini dapat memberikan penghasilan daerah kepada Desa Klodran serta guyub rukun antar sesama warganya.

Bacaan Lainnya
DONASI

Baca Juga: Pertunjukan Seni Teater Ketika Iblis Menikahi Seorang Perempuan

Lakon dari wayang ini adalah “Semar Mbangun Gedhong Kencana” yang di mana memiliki cerita tentang perjuangan Semar dalam membangun Gedhong Kencana tersebut.

Bermula ketika kedatangan Sri Krisna di Kerajaan Amarta yang meminta kepada kakaknya, Prabu Baladewa pusaka milik Prabu Puntadewa yaitu jimat Jamuskalimasada untuk menjadi tumbal di Kerajaan Dwarawati yang sedang terjadi bencana pagebluk.

Bertepatan dengan Semar yang menyuruh anak-anaknya, dua punakawan yaitu Gareng dan Petruk untuk meminjam jimat Jamuskalimasada di mana jimat tersebut akan digunakan membangun Gedhong Kencana.

Sesampainya di Kerajaan Amarta, Petruk dan Bagong tidak diperbolehkan meminjam jimat Jamuskalimasada dan diolok-olok miskin tetapi ingin membangun Gedhong Kencana oleh Prabu Baladewa, yang di mana ia adalah keponakan Semar dan dibesarkan olehnya. Dua punakawan pun tidak terima atas olokan tersebut, dan terjadi pertikaian antara mereka.

Setelah terjadi perdebatan antara Prabu Yudistira, Petruk, dan Prabu Baladewa, muncul kejanggalan di mana pada saat itu di Kerajaan Dwarawati tidak ada kabar mengenai suatu pagebluk yang dibicarakan Sri Krisna. Setelah ditelusuri ternyata Sri Krisna yang meminta jimat Jamuskalimasada adalah Sri Krisna palsu.

Baca Juga: Pertunjukan Seni Drama Ande-Ande Lumut Oleh Guru SDIT Gunung Jati Tangerang

Prabu Baladewa segera mengerahkan senopati Amarta untuk mencari Sri Krisna yang palsu dan terjadilah pertempuran antara senopati Amarta dengan senopati musuh. Akhirnya senopati musuh kalah dan mundur dari peperangan.

Sama halnya dengan proses Pasar Tugu Sami Rukun ini dalam pengoperasiannya kembali. Pasar ini juga melewati banyak gunjingan serta remehan dari orang-orang sekitar. Dengan kesabaran dan keuletan warga Desa Klodran, Pasar Tugu Sami Rukun ini bisa berdiri kokoh lagi.

Penulis: Nimas Ayu Nur Azizah
Mahasiswa Prodi Film dan Televisi Institut Seni Indonesia Surakarta

Editor: Ika Ayuni Lestari

Bahasa: Rahmat Al Kafi

Kirim Artikel

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI