Tim peneliti Program Studi S2 Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Malang (UM), menginisiasi proyek riset terapan inovatif dalam bidang biofotonik. Proyek ini dilatarbelakangi oleh tingginya angka mortalitas akibat penyakit leptospirosis di Indonesia yang sering kali terlambat terdiagnosis karena gejala klinisnya yang nonspesifik. Sebagai langkah konkret, tim peneliti mengembangkan teknologi sensor berbasis serat optik yang dilapisi material fungsional khusus untuk mendeteksi bakteri Leptospira interrogans secara presisi.
Kegiatan ini bertujuan menciptakan perangkat deteksi dini yang memiliki sensitivitas tinggi, selektivitas yang tajam terhadap bakteri target, serta stabilitas kinerja untuk penggunaan berulang. Fokus utama riset ini adalah menyediakan solusi teknologi yang mendukung penguatan kesehatan masyarakat melalui percepatan durasi diagnosis medis.
Pelaksanaan Penelitian
Pelaksanaan penelitian direncanakan berlangsung pada April hingga November 2026.
Metodologi penelitian meliputi sintesis dan karakterisasi material fungsional melalui komparasi metode sintesis kimia dan fisika, dilanjutkan dengan fabrikasi sensor serat optik, pelapisan material fungsional dan selective agent, serta pengujian performa optik di Laboratorium Fotonik, Departemen Fisika, Universitas Negeri Malang.
Selanjutnya, dilakukan validasi eksperimental di Universiti Sains Malaysia untuk mengevaluasi kinerja sensor yang telah dikembangkan.
Hasil Penelitian
Penelitian ini melibatkan 3 dosen ahli dan 2 mahasiswa S2 Fisika UM yang bekerja secara intensif.
Hasil aktual menunjukkan bahwa sensor ini mampu mendeteksi keberadaan bakteri dengan tingkat sensitivitas yang tinggi, sebuah peningkatan signifikan dibandingkan metode laboratorium konvensional. Beneficiaries dari inovasi ini adalah masyarakat luas, terutama kelompok berisiko di daerah endemik.
Latifatul Aisyah Nabila, selaku Person in Charge, menyatakan, “Leptospirosis masih menjadi tantangan kesehatan di Indonesia karena gejalanya sering menyerupai penyakit lain, sehingga diagnosis kerap terlambat dan dapat meningkatkan risiko komplikasi hingga kematian. Melalui penelitian ini, kami berupaya mengembangkan sensor yang dapat membantu mendeteksi bakteri penyebab leptospirosis secara lebih cepat dan spesifik. Kami berharap teknologi ini dapat mendukung deteksi dini sehingga penanganan pasien dapat dilakukan lebih tepat waktu.”
Kontribusi terhadap SDGs
Kegiatan ini memberikan kontribusi nyata pada SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), khususnya Target 3.3 dalam menghentikan epidemi penyakit menular melalui penyediaan layanan kesehatan preventif yang canggih.
Selain itu, program ini mencerminkan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kemitraan pendidikan internasional bersama Prof. Dr. Citartan Marimuthu dari Universiti Sains Malaysia.
Integrasi riset ini juga mencakup aspek pelatihan guru dan akademisi dalam forum seminar untuk mendiseminasikan teknologi pendidikan yang terjangkau guna membangun kesadaran kesehatan masyarakat yang lebih baik.
Tantangan Penelitian
Tantangan utama penelitian ini tidak hanya berkaitan dengan stabilitas sensor pada sampel lingkungan yang kompleks, tetapi juga aspek keselamatan kerja.
Penanganan bakteri Leptospira patogen memerlukan laboratorium BSL-2 dengan fasilitas Biological Safety Cabinet (BSC) Kelas II, sehingga belum semua laboratorium dapat melakukan pengujian secara mandiri.
Oleh karena itu, pengembangan biosensor yang portabel diharapkan dapat mendukung deteksi cepat (point-of-care testing) dengan kebutuhan pengujian yang lebih praktis di masa mendatang.

Penulis: Latifatul Aisyah Nabila
Mahasiswa Program Studi S2 Fisika, Universitas Negeri Malang (UM)
Dosen Pengampu: Nurul Hidayat, Ph.D.
Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI



















