Pengaruh Academic Stress terhadap Kecenderungan Perilaku Impulsive Buying Generasi Z pada Pengguna Lazada

academic stress
Foto: Dok. MMI

Abstrak

Perkembangan e-commerce di era digital telah meningkatkan kecenderungan perilaku impulsive buying pada Generasi Z, khususnya mahasiswa sebagai kelompok pengguna aktif platform belanja online.

Di sisi lain, tekanan akademik yang tinggi berpotensi memengaruhi kondisi emosional mahasiswa dan mendorong perilaku konsumtif sebagai bentuk pelarian psikologis.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh academic stress terhadap kecenderungan perilaku impulsive buying pada mahasiswa Generasi Z pengguna Lazada.

Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kausal.

Teknik pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling dengan jumlah responden sebanyak 70 mahasiswa aktif pengguna Lazada.

Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala Academic Stress dan Impulsive Buying Tendency Scale, kemudian dianalisis menggunakan regresi linear sederhana.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa academic stress tidak berpengaruh signifikan terhadap kecenderungan perilaku impulsive buying pada pengguna Lazada.

Temuan ini menunjukkan bahwa perilaku impulsive buying mahasiswa lebih dipengaruhi oleh faktor lain seperti kontrol diri, literasi keuangan, dan stimulus pemasaran digital. 

Kata Kunci: Academic Stress, Impulsive Buying, Generasi Z, Mahasiswa, E-commerce 

Abstract 

The development of e-commerce in the digital era has increased the tendency of impulsive buying behavior among Generation Z, particularly university students as a group of active users of online shopping platforms.

On the other hand, high academic pressure has the potential to affect students’ emotional conditions and encourage consumptive behavior as a form of psychological escape.

This study aims to determine the effect of academic stress on the tendency of impulsive buying behavior among Generation Z university students who use Lazada.

This study employed a quantitative approach with a causal research design.

The sampling technique used was purposive sampling, involving 70 active university students who use Lazada.

Data were collected using the Academic Stress Scale and the Impulsive Buying Tendency Scale, then analyzed using simple linear regression.

The results showed that academic stress did not have a significant effect on the tendency of impulsive buying behavior among Lazada users.

These findings indicate that students’ impulsive buying behavior is more influenced by other factors, such as self-control, financial literacy, and digital marketing stimuli. 

Keyword: Academic Stress, Impulsive Buying, Generasi Z, Mahasiswa, E-commerce 

Pendahuluan

Perkembangan era digital dan transformasi teknologi telah mengubah lanskap perilaku konsumsi masyarakat secara drastis, khususnya dengan kehadiran e-commerce sebagai media transaksi elektronik utama di era modern.

Kemudahan akses internet dan ketersediaan perangkat digital yang masif memungkinkan individu untuk melakukan aktivitas belanja kapan saja dan di mana saja.

Di Indonesia, pasar digital ini berkembang sangat pesat dengan membidik target konsumen utama dari kelompok Generasi Z (Gen-Z) yang dikenal sebagai digital native.

Karakteristik platform belanja online yang menawarkan fitur interaktif, diskon besar, flash sale, gratis ongkos kirim, hingga rekomendasi personal terbukti memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap perubahan pola konsumsi mereka (Marhumi, 2024).

Sebagai konsumen yang sangat aktif di dunia maya, Generasi Z menunjukkan keterikatan yang tinggi terhadap teknologi, di mana paparan visual dan kemudahan transaksi digital secara konstan menstimulasi respons emosional yang mengarah pada ketidakrasionalan dalam berbelanja.

Kondisi lingkungan belanja online yang sangat dinamis ini memicu munculnya fenomena impulsive buying atau pembelian impulsif, yang dipahami sebagai perilaku belanja spontan, tidak rasional, tanpa perencanaan terlebih dahulu, dan umumnya didorong oleh stimulasi emosional sesaat (Komariyah et al., 2025).

Ketika mengalami dorongan ini, seorang konsumen cenderung mengabaikan konsekuensi jangka panjang maupun aspek fungsional dari produk yang mereka beli akibat tertarik oleh stimulus lingkungan atau dorongan afektif (Wijaya, 2025).

Kelompok mahasiswa berusia 18–22 tahun yang tergolong dalam Generasi Z teridentifikasi memiliki tingkat impulsivitas belanja yang paling tinggi karena keputusan membeli mereka lebih sering didominasi oleh faktor emosi sesaat (Wijaya, 2025).

Perilaku belanja online yang tidak terencana ini sering kali dilakukan berulang-ulang secara tidak sadar untuk mendapatkan kepuasan emosional atau menyingkirkan perasaan negatif yang sedang dialami individu, yang apabila terjadi secara terus-menerus dapat berkembang menjadi compulsive buying (Ahmad et al., 2024).

Meskipun persaingan pasar e-commerce di Indonesia sangat ketat, Lazada yang merupakan salah satu platform terkemuka dan sangat populer kini dihadapkan pada tantangan besar berupa penurunan performa serta kemerosotan daya saing dibandingkan dengan kompetitor utamanya.

Penurunan performa ini salah satunya dipicu oleh kompleksitas internal perusahaan dalam mengelola jutaan ulasan (review) pengguna yang sangat beragam dan menumpuk setiap harinya (Pramita et al., 2024).

Kegagalan dalam mengidentifikasi ulasan secara cepat dan efisien menyebabkan penurunan kualitas penyaringan produk, sehingga mempersulit platform untuk secara konsisten memenuhi ekspektasi serta mempertahankan kepuasan pelanggan (Pramita et al., 2024).

Di tengah kemerosotan posisi pasar tersebut, Lazada terus berupaya mempertahankan eksistensinya dengan membangun citra merek yang kuat dan memanfaatkan strategi komunikasi digital untuk menarik kembali minat beli masyarakat (Poppy et al., 2023).

Pembentukan citra merek (brand image) yang positif serta penyebaran ulasan elektronik dari mulut ke mulut (electronic word of mouth) menjadi instrumen krusial yang secara signifikan memengaruhi niat beli konsumen, termasuk di kalangan mahasiswa aktif (Poppy et al., 2023).

Bagi konsumen Generasi Z, interaksi dengan platform yang sedang berjuang mempertahankan performanya seperti Lazada ini memunculkan dinamika psikologis yang unik, di mana stimulus promosi agresif yang diberikan demi mendongkrak kembali transaksi berpotensi bersinggungan langsung dengan kondisi emosional pengguna.

Di sisi lain, kehidupan sebagai mahasiswa tidak pernah lepas dari berbagai tekanan akademik yang berat.

Mahasiswa diwajibkan untuk beradaptasi dengan jadwal perkuliahan yang padat, beban tugas yang tinggi, ujian, persaingan nilai, serta tuntutan kompetensi keilmuan yang pada akhirnya sering kali memicu kondisi academic stress atau stres akademik (Dikian Rampala et al., 2024).

Stres  akademik  merupakan  tekanan  psikologis  yang  dirasakan  individu  akibat  adanya ketidakseimbangan antara tuntutan akademis dengan kapasitas nyata yang dimiliki oleh mahasiswa tersebut (Setyaningtyas, 2026).

Ketika mahasiswa mengalami tingkat stres yang tinggi akibat beban perkuliahan, hal tersebut akan mengganggu stabilitas emosional mereka dan memicu berbagai macam emosi negatif (Dikian Rampala et al., 2024).

Untuk meredakan tekanan psikologis dan ketidaknyamanan emosional tersebut, individu secara alami akan mencari mekanisme koping (coping strategy).

Dalam konteks perilaku konsumen modern, salah satu bentuk strategi koping negatif yang sering dilakukan oleh Generasi Z adalah melarikan diri dari tekanan melalui aktivitas belanja online secara berlebihan, sebuah fenomena psikologis yang dikenal dengan istilah doom spending (Cahyani et al., 2025).

Fenomena ini memperlihatkan bahwa stres, baik yang dipicu oleh media sosial maupun tekanan lingkungan lainnya, secara langsung maupun tidak langsung dapat memicu tindakan belanja impulsif secara online sebagai bentuk kompensasi emosional (Pramita et al., 2024).

Tingginya tingkat stres terbukti berkorelasi positif dengan kecenderungan individu untuk melakukan pelarian melalui pembelian yang tidak terencana (Pamalah et al., 2023).

Meskipun aktivitas belanja di platform digital dapat memberikan kepuasan emosional instan (emotional gratification), dampak jangka panjang yang ditimbulkan dari perilaku impulsive buying yang tidak terkontrol ini sangat merugikan.

Secara finansial, kebiasaan berbelanja tanpa perencanaan matang akan mengganggu stabilitas keuangan mahasiswa, memicu perilaku konsumtif, pemborosan, dan menyebabkan kegagalan dalam manajemen keuangan pribadi akibat rendahnya kontrol diri (Rachman et al., 2025).

Secara psikologis, kepuasan yang didapatkan dari pembelian impulsif ini bersifat sementara karena setelah dorongan emosional mereda, perilaku tersebut sering kali diikuti oleh perasaan bersalah, kecemasan finansial baru, serta siklus stres yang semakin berat (Favian Ahmad et al., 2024). 

Urgensi penelitian ini didasarkan pada pentingnya menguji hubungan antara variabel independen (academic stress) dan variabel dependen (kecenderungan perilaku impulsive buying) pada kelompok mahasiswa, mengingat adanya dukungan empiris dari berbagai penelitian terdahulu.

Penelitian yang dilakukan oleh (Setyaningtyas, 2026) menemukan adanya hubungan positif yang signifikan antara tingkat stres akademik dengan kecenderungan impulsive buying pada kelompok mahasiswa.

Temuan serupa juga ditunjukkan oleh (Dikian Rampala et al., 2024) yang meneliti mahasiswa kedokteran, di mana tingginya tekanan akademis terbukti memicu ketidakstabilan emosi yang mendorong mahasiswa melakukan tindakan impulsive buying sebagai mekanisme koping.

Dorongan emosional dan motivasi belanja hedonis yang dipicu oleh tekanan psikologis ini menjadi faktor utama pendorong impulsive buying pada Gen-Z di Indonesia (Cahyani et al., 2025).

Selain itu, stres terbukti memiliki efektivitas dalam memengaruhi kecenderungan pembelian impulsif pada mahasiswa di platform e-commerce (Pamalah et al., 2023).

Stres yang dialami oleh Generasi Z memicu tindakan belanja impulsif secara online melalui mediasi strategi koping yang negatif.

Hubungan ini diperkuat oleh fakta bahwa perilaku belanja online berulang pada mahasiswa sering kali digunakan sebagai alat untuk menyingkirkan perasaan negatif dan stres yang sedang mereka hadapi (Ahmad et al., 2024).

Lebih lanjut, stres akademik terbukti memberikan pengaruh positif yang signifikan terhadap peningkatan perilaku konsumtif mahasiswa, yang mengindikasikan bahwa semakin tinggi tekanan akademis yang dirasakan, maka kecenderungan mahasiswa untuk berperilaku konsumtif tanpa rencana juga akan semakin meningkat (Rachman et al., 2025).

Meskipun banyak literatur terdahulu telah menguji fenomena belanja impulsif ini, mayoritas penelitian masih berfokus pada platform kompetitor seperti Shopee atau TikTok Shop.

Masih terdapat keterbatasan studi mendalam yang secara spesifik menguji bagaimana dinamika stres akademik memengaruhi kecenderungan impulsive buying khusus pada pengguna platform Lazada, terutama ketika ekosistem mahasiswa Generasi Z dihadapkan pada situasi platform yang tengah mengalami penurunan performa operasional sekaligus gencar melakukan strategi pemulihan citra merek.

Berdasarkan kesenjangan penelitian tersebut, maka dilakukan penelitian ini dengan judul: “Pengaruh Academic Stress terhadap Kecenderungan Perilaku Impulsive Buying pada Mahasiswa Generasi-Z Pengguna Lazada.” 

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian kausal (pengaruh) (Khaerani et al., n.d.).

Desain penelitian kausal dipilih secara spesifik karena tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menguji, membuktikan, dan mengukur hubungan sebab akibat, yaitu seberapa besar peran atau kontribusi yang diberikan oleh variabel independen terhadap perubahan variabel dependen.

Penggunaan metode kuantitatif ini didasarkan pada pengumpulan data berupa angka statistik dari kuesioner yang disebarkan kepada responden, yang kemudian diolah secara objektif menggunakan metode uji statistik demi menguji hipotesis pengaruh yang telah dirumuskan (Purwanto et al., 2018).

Dalam konteks penelitian ini, desain kausal diterapkan untuk mengetahui dan menjelaskan pengaruh langsung dari Academic Stress (sebagai variabel independen atau variabel penyebab) terhadap Kecenderungan Perilaku Impulsive Buying (sebagai variabel dependen atau variabel akibat) pada mahasiswa Generasi-Z pengguna Lazada.

Melalui desain ini, peneliti tidak sekadar melihat apakah kedua variabel memiliki kaitan acak, melainkan mengukur secara pasti seberapa besar peningkatan atau penurunan kecenderungan perilaku belanja impulsif mahasiswa yang didorong secara searah oleh tingkat tekanan akademis yang mereka alami.

Alat analisis utama yang digunakan untuk membuktikan dan menghitung besaran pengaruh searah ini adalah analisis regresi linear sederhana (Purwanto et al., 2018). 

Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa aktif yang tergolong ke dalam kelompok Generasi-Z dan merupakan pengguna platform e-commerce Lazada.

Pengumpulan data dilakukan menggunakan teknik non-probability sampling dengan pendekatan purposive sampling, di mana penentuan sampel didasarkan pada kriteria khusus yang selaras dengan tujuan penelitian.

Kriteria inklusi subjek meliputi: (1) mahasiswa aktif perguruan tinggi, (2) lahir dalam rentang tahun Generasi-Z (1997–2012), dan (3) pernah melakukan transaksi pembelian di Lazada dalam kurun waktu 3 bulan terakhir.

Total responden yang berpartisipasi dan memenuhi seluruh kriteria dalam penelitian ini ditentukan secara pasti sebanyak 70 mahasiswa. 

Pengumpulan data primer dilakukan secara digital dengan menyebarkan kuesioner terstruktur melalui Google Form.

Alat ukur dalam penelitian ini menggunakan format yang berbeda pada pilihan jawaban untuk mengoptimalkan variasi data dari responden.

Pertama, Skala Academic Stress (Variabel Independen) diukur dengan mengadopsi instrumen standar Student-Life Stress Inventory (SSI) yang dikembangkan oleh Gadzella dan telah diadaptasi ke dalam konteks serta bahasa Indonesia (Pragholapati et al., 2021).

Alat ukur ini menggunakan model skala Likert 5 pilihan jawaban (Sangat Tidak Setuju, Tidak Setuju, Netral/Ragu-ragu, Setuju, Sangat Setuju).

Komponen alat ukur ini mencakup aspek sumber stres (stressors) yang meliputi frustrasi, konflik, tekanan, perubahan, dan pemaksaan diri (self-imposition), serta aspek reaksi terhadap stres (reactions to stressors) yang terdiri dari reaksi fisiologis, emosional, perilaku, dan kognitif 

(Pragholapati et al., 2021) Kedua, Skala Perilaku Impulsive Buying (Variabel Dependen) diukur menggunakan modifikasi instrumen Impulsive Buying Tendency Scale (IBTS) yang mengacu pada aspek kognitif (berbelanja tanpa perencanaan atau no thinking) dan aspek afektif (dorongan emosional sesaat atau feeling) yang dirasakan oleh pengguna platform Lazada saat berbelanja (Pramita et al., 2024). Alat ukur ini menggunakan model skala Likert 4 pilihan jawaban (Sangat Tidak Setuju, Tidak Setuju, Setuju, Sangat Setuju) demi meminimalkan kecenderungan responden memilih jawaban di kategori tengah atau ragu-ragu (Verplanken et al., 2001). 

Hasil dan Pembahasan

Penelitian kuantitatif kausal ini berhasil menguji hubungan sebab-akibat antara tingkat tekanan akademis dan pola konsumsi digital pada mahasiswa Generasi Z (Khaerani et al., n.d.).

Temuan ilmiah utama dari analisis data terhadap 70 responden mahasiswa ini menunjukkan bahwa Academic Stress tidak memiliki pengaruh yang signifikan secara statistik terhadap kecenderungan perilaku Impulsive Buying pada mahasiswa Generasi Z pengguna Lazada.

Hasil ini menjawab pertanyaan dan tujuan awal penelitian dengan membuktikan bahwa fluktuasi atau tinggi rendahnya tekanan akademis yang dialami mahasiswa tidak serta-merta mendikte tingkat spontanitas mereka dalam melakukan transaksi belanja online.

Berdasarkan rumusan model regresi linear sederhana, kontribusi pengaruh dari variabel stres akademik terhadap perilaku belanja impulsif tercatat sangat rendah, yakni hanya sebesar 5,3%.

Hal ini menegaskan bahwa mayoritas variasi perilaku belanja tidak terencana pada mahasiswa, yaitu sebesar 94,7%, dikendalikan secara penuh oleh faktor-faktor eksternal lain di luar fokus pemodelan ini.

Karakteristik arah hubungan yang terbentuk dalam pengujian ini juga memperlihatkan koefisien bernilai negatif, yang mengindikasikan sebuah tren unik di mana peningkatan beban stres akademik justru diikuti oleh penurunan kecenderungan berbelanja secara impulsif di platform Lazada. 

Secara ilmiah, tidak adanya pengaruh signifikan serta munculnya arah hubungan negatif ini dapat diinterpretasikan melalui analisis keterbatasan kapasitas kognitif dan alokasi waktu individu.

Ketika mahasiswa Generasi Z dihadapkan pada tingkat stres akademik yang intens akibat akumulasi tugas perkuliahan, tekanan ujian, ataupun tuntutan kompetensi nilai yang berat, fokus perhatian dan energi psikologis mereka akan tersedot sepenuhnya untuk melakukan penyelesaian masalah akademis tersebut (Dikian Rampala et al., 2024; Setyaningtyas, 2026).

Tuntutan akademis yang berada di luar batas kapasitas nyata subjek memaksa mereka mengalokasikan seluruh waktu produktifnya untuk belajar, sehingga secara drastis memangkas kesempatan atau durasi mereka untuk mengakses dan berselancar di aplikasi belanja digital (Setyaningtyas, 2026).

Keterbatasan ruang kognitif (cognitive load) selama fase stres tinggi ini menekan dorongan afektif mahasiswa, yang berdampak pada penurunan sensitivitas mereka terhadap stimulus pemasaran digital, sehingga peluang terjadinya perilaku transaksi spontan menjadi tereduksi secara signifikan (Verplanken et al., 2001).

Manifestasi stres akademik pada sampel mahasiswa dalam penelitian ini terbukti tidak disalurkan melalui mekanisme koping pelarian berupa retail therapy, melainkan direspons dengan penarikan diri sementara dari aktivitas hiburan digital non-fungsional demi menjaga fokus performa perkuliahan mereka.

Temuan negatif atau tidak berpengaruhnya stres akademik terhadap belanja impulsif dalam studi ini sangat rasional terjadi, karena ketika mahasiswa membuka aplikasi belanja saat berada dalam kondisi tertekan, mereka justru dihadapkan pada realitas performa operasional platform Lazada yang sedang merosot daya saingnya di pasar digital Indonesia.

Adanya penumpukan jutaan ulasan pengguna yang belum mampu diidentifikasi secara cepat dan otomatis oleh sistem internal Lazada terbukti menurunkan efisiensi serta kualitas penyaringan produk pada platform tersebut.

Akibatnya, alih-alih mendapatkan kelegaan emosional instan, kompleksitas ulasan yang tidak terkelola dengan baik ini justru mempersulit konsumen untuk menemukan produk yang sesuai, sehingga platform yang sedang mengalami penurunan kinerja ini gagal memicu respons afektif mahasiswa untuk melakukan pembelian impulsif (Pramita et al., 2024).

Eksplorasi lebih mendalam terhadap signifikansi hasil ini juga tidak dapat dilepaskan dari kondisi ekosistem objek yang diteliti, yaitu platform e-commerce Lazada.

Penolakan hipotesis ini sangat dipengaruhi oleh fakta objektif di mana Lazada saat ini sedang menghadapi tantangan operasional berupa penurunan performa bisnis serta kemerosotan daya saing jika dibandingkan dengan kompetitor utamanya (Pramita et al., 2024).

Adanya tumpukan jutaan ulasan dari pengguna platform yang belum terkelola dengan efisien mempersulit proses penyaringan kualitas produk, sehingga kenyamanan navigasi dan kepuasan pelanggan menjadi terganggu (Pramita et al., 2024).

Citra merek (brand image) Lazada yang tengah berada dalam fase pemulihan ini menyebabkan stimulus visual, pesan komunikasi digital, maupun algoritma rekomendasi belanja online pada platform tersebut kurang memiliki daya pikat yang agresif terhadap emosi konsumen mahasiswa (Poppy et al., 2023).

Akibatnya, ketika mahasiswa Generasi Z yang sedang tertekan membutuhkan media pelarian emosional, ekosistem Lazada tidak memberikan stimulasi yang cukup kuat untuk membangkitkan dorongan belanja spontan atau mengabaikan pertimbangan rasional mereka (Marhumi, 2024). 

Temuan ilmiah dalam penelitian ini menunjukkan perbedaan atau anomali yang sangat tajam jika dibandingkan dengan mayoritas publikasi ilmiah terdahulu oleh para peneliti lain.

Hasil ini bertolak belakang dengan temuan Setyaningtyas (2026) yang secara konsisten melaporkan bahwa tingkat stres akademik memiliki hubungan positif yang signifikan dalam mendorong peningkatan kecenderungan perilaku impulsive buying pada kelompok mahasiswa di Yogyakarta dan Jayapura (Dikian Rampala et al., 2024; Setyaningtyas, 2026).

Hasil penelitian ini juga tidak sejalan dengan studi (Arizah Fitrah et al., 2024; Pamalah et al., 2023) di Surabaya yang menyatakan bahwa stres secara efektif bertindak sebagai pemicu utama tindakan belanja online tidak terencana pada mahasiswa sebagai bentuk kompensasi atas emosi negatif yang mereka rasakan (Arizah Fitrah et al., 2024; Pamalah et al., 2023).

Perbedaan hasil yang radikal ini terjadi karena mayoritas literatur terdahulu menjadikan platform dengan penetrasi pasar yang sangat agresif di kalangan anak muda seperti Shopee atau TikTok Shop sebagai objek studi, di mana ekosistem platform tersebut memiliki stimulus promosi, fitur live streaming, dan skema paylater yang jauh lebih adiktif untuk memicu compulsive maupun impulsive buying (Ahmad et al., 2024; Komariyah et al., 2025; Pamalah et al., 2023).

Sementara itu, penelitian ini membuktikan bahwa pada platform yang sedang mengalami penurunan performa operasional seperti Lazada, fungsi stres akademik sebagai pemicu belanja impulsif menjadi tidak berlaku.

Selain itu, rendahnya persentase pengaruh (5,3%) dalam studi ini mengonfirmasi argumen dari (Ahmad et al., 2024; Rachman et al., 2025) yang menyatakan bahwa perilaku konsumtif dan impulsivitas belanja mahasiswa di era digital modern jauh lebih dominan dikendalikan oleh faktor-faktor literasi finansial, kontrol diri, manajemen keuangan pribadi, serta kuatnya pengaruh konformitas teman sebaya ketimbang variabel tekanan psikologis internal semata (Ahmad et al., 2024; Rachman et al., 2025).

Ditinjau dari aspek metodologi ilmiah, sifat hasil yang marginally insignificant (nilai signifikansi 0,055 berada sangat tipis di atas ambang batas 0,05) juga bersumber dari ukuran sampel yang relatif terbatas yaitu 70 responden, yang secara matematis berdampak pada penurunan daya statistik model (statistical power) untuk menangkap efek pengaruh yang nyata di tingkat populasi. 

Tabel 1. Variables Entered/Removedᵃ

Model  Variable Entered  Variables Removed  Method 
STRESS_ACADEMIC    Enter 
  1. Dependent Variable: IB 
  2. All requested variables entered. 

Tabel 2. Model Summary 

Model R R Square Adjusted R

Square

Std. Error of the

Estimate

1 0,231 0,053 0,039 7,709

Predictors: (Constant), STRESS_ACADEMIC

Tabel 3. ANOVA

Model Sum of Squares df Mean

Square

F Sig.
1 Regression 227.282 1 227.282 3.825 .055 ᵇ
Residual 4041.004 68 59.427
Total 4268.286 69      
  1. Dependent Variable: IB 
  2. Predictors: (Constant), STRESS_ACADEMIC 

Simpulan

Penelitian ini menyimpulkan bahwa academic stress tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kecenderungan perilaku impulsive buying pada mahasiswa Generasi Z pengguna Lazada.

Temuan ini memberikan kontribusi ilmiah terhadap pengembangan kajian perilaku konsumen digital dengan menunjukkan bahwa tekanan akademik tidak selalu menjadi faktor dominan dalam mendorong perilaku pembelian impulsif pada konteks platform e-commerce tertentu.

Rendahnya pengaruh academic stress terhadap perilaku impulsive buying pada mahasiswa dalam penelitian ini lebih disebabkan karena platform Lazada sendiri yang lemah dalam memberikan stimulus pemasaran digitalnya.

Kondisi operasional Lazada yang sedang mengalami penurunan kinerja dan kompleksitas dalam mengelola jutaan ulasan pengguna secara otomatis terbukti memperlemah daya pikat ekosistem digitalnya.

Akibatnya, platform tersebut gagal menstimulasi respons emosional mahasiswa untuk melakukan pembelian spontan meskipun mereka sedang berada dalam kondisi tertekan.

Penelitian selanjutnya disarankan untuk melibatkan jumlah sampel yang lebih luas, menggunakan platform e-commerce berbeda, serta menambahkan variabel mediasi maupun moderasi agar diperoleh model penelitian yang lebih komprehensif dan mendalam. 


Penulis:
1. Kayla Saripatun Nisa
2. Najwa Fitria Anfa
3. Muharani Yusmi
4. Shabrina Taqiyya Insani
Mahasiswa Prodi Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Daftar Pustaka 

  1. Ahmad, F. … Wiroko, E. P. (2024). Understanding Online Buying Behavior in University Students: The Role of Conformity and Aca- demic Stress on Compulsive Buying Memahami Perilaku Belanja Online pada Mahasiswa : Peran Konformitas dan Stres Akademik terhadap Compulsive Buying. 12(1), 96–102. 
  2. Arizah Fitrah, R., & Zubair, Arie Gunawan Hazairin Purwasetiawati, T. F. (2024). Hubungan Stres Akademik dengan Impulsive Buying pada Mahasiswa di Kota Makassar. 4(2), 513–520. https://doi.org/10.56326/jpk.v4i2.3428 
  3. Cahyani, W. … Surabaya, U. A. (2025). Pemicu Impulsive buying di Era Tiktok Shop : Perspektif Shopping enjoyment dan Scarcity message Pada Gen Z Surabaya. 9, 26641–26649. 
  4. Dikian Rampala, S., & Wahyuningrum, E. (2024). Stres Akademik Dan Perilaku Impulsive Buying Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih Jayapura. 4, 5466–5476. 
  5. Khaerani, A. … Rada, A. U. (n.d.). PENGARUH INTERNET FINANCIAL REPORTING (IFR) 
  6. TERHADAP RETURN SAHAM DAN VOLUME PERDAGANGAN SAHAM PADA PERUSAHAAN PERBANKAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA
  7. Komariyah, N. … Timur, J. (2025). ANALISIS IMPULSIVE PADA GEN Z PENGGUNA ECOMMERCE SHOPEE ANALISIS IMPULSIVE PADA GEN Z PENGGUNA E-COMMERCE SHOPEE. 3(9). 
  8. Marhumi. (2024). The influence of e-commerce on impulsive buying behavior in generation z in purwakarta city pengaruh e-commerce terhadap perilaku impulsive buying pada generasi z di kota purwakarta. 7, 7234–7246. 
  9. Pamalah, I., & Puspitasari, D. (2023). Peran Stres dalam Pembelian Impulsif : Investigasi Perilaku Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya di E-commerce TikTok Shop. 2
  10. Poppy, A., & Siti, A. (2023). The influence of electronic word of mouth (e-wom) and brand image on purchase intention in lazada e-commerce. 7
  11. Pragholapati, A. … Sulastri, A. (2021). Indonesian adaptation of the Student-Life Stress Inventory: Psychometric properties and factor structure
  12. Pramita, A. G., & Nugraha, F. (2024). SISTEM ANALISIS SENTIMEN PRODUK PADA APLIKASI LAZADA MENGGUNAKAN METODE NAIVE BAYES. 14(1), 23–30. 
  13. Purwanto, A. … Santoso, T. I. (2018). Analisis Data Penelitian Marketing : Perbandingan Hasil antara Amos , SmartPLS , WarpPLS , dan SPSS Untuk Jumlah Sampel Besar. 2(4), 216–227. Rachman, I. P., & Kusumawardani, A. (2025). Pengaruh Academic Stress terhadap Perilaku Konsumtif Mahasiswa Akuntansi dengan Financial Attitude sebagai Variabel Moderasi (Studi pada Mahasiswa Akuntansi Universitas Terbuka ). 1(1), 54–67. 
  14. Setyaningtyas, A. D. A. (2026). Arus Jurnal Psikologi dan Pendidikan ( AJPP ) Stres Akademik dan Kecenderungan Impulsive Buying pada Mahasiswa di Yogyakarta. 000
  15. Verplanken, B. A. S., & Herabadi, A. (2001). Individual Differences in Impulse Buying Tendency : Feeling and no Thinking. 83(January), 71–83. 
  16. Wijaya, T. P. Y. (2025). IMPULSIVE BUYING GENERASI Z SEBAGAI KONSUMEN ECOMMERCE DITINJAU DARI THE BIG FIVE OF PERSONALITY. 5(5), 6149–6166.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses