Di era sekarang, konflik antarnegara tidak cuma terjadi di medan perang, tapi juga di ruang informasi.
Media yang seharusnya menyampaikan fakta justru sering jadi alat untuk membentuk cara kita melihat suatu konflik.
Akibatnya, apa yang kita anggap sebagai “kebenaran” belum tentu benar-benar netral.
Hal ini bisa dilihat dari berbagai krisis regional yang sedang berlangsung, seperti konflik Rusia–Ukraina, Israel–Palestina, hingga eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Dalam banyak kasus, media dari masing-masing pihak menyajikan cerita yang berbeda, bahkan bertolak belakang.
Di satu sisi, suatu negara bisa terlihat sebagai agresor, tapi di sisi lain justru diposisikan sebagai pihak yang membela diri.
Baca Juga: Confirmation Bias: Mengapa Kita Cenderung Mencari Informasi yang Mendukung Keyakinan Sendiri
Dalam konflik terbaru di Timur Tengah, misalnya, serangan Israel terhadap fasilitas militer Iran yang kemudian diikuti oleh keterlibatan Amerika Serikat menunjukkan bagaimana konflik bisa dengan cepat meluas dan melibatkan aktor global.
Namun, yang menarik bukan hanya dinamika militernya, melainkan bagaimana konflik ini diberitakan.
Media Barat cenderung membingkai keterlibatan Amerika Serikat sebagai upaya menjaga stabilitas dan keamanan global, sementara media lain melihatnya sebagai bentuk intervensi dan kepentingan geopolitik di kawasan tersebut.
Kalau dilihat dari perspektif konstruktivisme, hal ini masuk akal.
Dalam hubungan internasional, realitas tidak berdiri sendiri, tapi dibentuk lewat ide, identitas, dan cara suatu peristiwa diceritakan.
Media punya peran besar di sini, karena mereka yang memilih sudut pandang, menentukan mana yang ditonjolkan, dan mana yang diabaikan.
Jadi, media bukan cuma menyampaikan realitas, tapi ikut menciptakannya.
Baca Juga: Era Digital Mengguncang Diplomasi: Teknologi Kini Jadi Aktor Global Baru
Lebih jauh lagi, konsep hegemoni menjelaskan bahwa kekuasaan tidak selalu dijalankan dengan paksaan.
Negara dominan bisa mempertahankan pengaruhnya dengan membentuk persetujuan publik.
Di sinilah media jadi alat penting.
Lewat narasi yang terus diulang, suatu tindakan bisa terlihat wajar, sah, bahkan dianggap benar oleh publik.
Contohnya, dalam konflik Rusia–Ukraina, media Barat banyak membingkai Rusia sebagai pihak yang melanggar hukum internasional, sementara Ukraina digambarkan sebagai korban yang layak mendapat dukungan global.
Di sisi lain, media Rusia menyampaikan cerita berbeda, dengan menekankan bahwa tindakan mereka adalah bentuk pertahanan diri terhadap ancaman Barat.
Baca Juga: Di Tengah Riuh Opini, Masihkah Kita Mendengar Kemanusiaan?
Hal yang sama juga terlihat dalam konflik Amerika Serikat–Israel–Iran.
Narasi yang berkembang di media tidak hanya mempengaruhi opini publik, tetapi juga membentuk legitimasi tindakan militer dan kebijakan luar negeri.
Ketika satu pihak berhasil menguasai narasi global, ia tidak hanya memenangkan opini, tetapi juga memperkuat posisinya dalam struktur kekuasaan internasional.
Pada akhirnya, media dalam krisis regional tidak bisa dianggap netral.
Ia sudah jadi bagian dari permainan kekuasaan global.
Informasi bukan lagi sekadar fakta, tapi juga alat untuk membentuk persepsi, mempengaruhi opini, dan memperkuat dominasi.
Makanya, penting buat kita untuk tidak langsung percaya begitu saja pada satu narasi.
Dalam dunia yang dipenuhi arus informasi, yang paling berbahaya bukanlah kurangnya informasi, tetapi keyakinan bahwa kita sudah mengetahui kebenaran.
Penulis: Karin Grace Airene Pakpahan
Mahasiswa Prodi Hubungan Internasional, UPN Veteran Jawa Timur
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












