Kala itu, suara gaduh terdengar dari luar kamar. Suara pintu dibanting, piring pecah, dan suara sahut-menyahut yang saling beradu terdengar samar namun tertancap hingga hati yang membuatnya terasa sesak.
Dari balik pintu kamarnya, seorang anak yang tidak tahu menahu hanya bisa menjadi saksi diam, tetapi yang ia tahu, sejak pertengkaran malam itu, suasana rumahnya tidak lagi sama, segalanya berubah.
Rumah yang dulu sangat hangat kini menjadi dingin dan asing. Tidak ada lagi tawa dari ruang makan, tidak ada lagi obrolan ringan di sore hari. Kini semua terasa hening dan canggung.
Bagi anak itu, rumah yang dulu menjadi tempat paling aman untuk berpulang kini justru terasa sangat menakutkan. Keheningan yang menyelimuti setiap ruangan rumah itu seolah menyimpan amarah yang siap meledak kapan saja. Entah mengapa sesuatu yang ia tak mengerti itu, membuatnya terasa sesak setiap hari.
Hatinya penuh dengan kebingungan hingga tak sadar rasa takut pun ikut memenuhi dirinya. Ia tidak tahu harus menyalahkan siapa, ia hanya mengerti bahwa sesuatu telah hilang, tawa, kehangatan, dan kasih sayang yang dahulu memenuhi rumahnya kini semua tergantikan oleh sepi yang menusuk dan luka yang perlahan tumbuh di dalam dirinya.
Kini setiap langkahnya terasa hampa, setiap napasnya seperti menggema di ruang kosong. Kedua orang tuanya yang dulu memberi rasa aman sekarang justru menjadi bayang-bayang yang menakutkan. Ia mencoba melupakan segala yang terasa menyakitkan itu, namun semakin dalam ia mencoba, semakin dalam pula luka itu terasa.
Ia menjadi tahu bahwa luka ketika ia terjatuh dan berdarah bisa sembuh dengan waktu, bisa kering dengan usapan kasih orang tuanya. Tapi luka kali ini berbeda. Tak ada darah, tak ada bekas yang bisa dilihat, namun perihnya jauh lebih dalam. Lukanya meninggalkan hening, dan nyeri yang selalu terasa di setiap napasnya.
Luka yang ia rasakan sejak malam itu tidak hanya berhenti sampai situ saja. Ia tumbuh di tengah pertengkaran orang tuanya, dan perlahan kehilangan rasa aman. Pertengkaran yang sering terjadi dan terus-terusan menghantuinya ternyata bukan hanya sekadar suara sahut-menyahut saja.
Ternyata yang selama ini merenggut kehangatan keluarganya, merupakan ketidaksetiaan di antara kedua orang tuanya. Setiap pertengkaran yang ia dengar kini terasa lebih menyesakkan, terasa lebih berat. Ia mulai mengerti pertengkaran itu keluar dari pengkhianatan di balik janji yang telah kedua sosok itu ucapkan di depan banyak orang.
Seolah janji itu hanya terlontar begitu saja, seolah tahun-tahun yang mereka lalui, tahun-tahun yang mereka perjuangkan berdua, seolah semua terjadi tanpa cinta dan makna di dalamnya.
Ternyata janji yang diucapkan itu belum mampu melindungi kehangatan dan menumbuhkan rasa aman di dalamnya. Kini semuanya hangus. Kini ia sendirian di dunia yang ramai ini.
Fenomena perselingkuhan merupakan masalah dalam hubungan pernikahan yang tidak dapat dihilangkan dan bahkan terus mengalami peningkatan, menurut Irawan & Suprapti (dalam Dewanggana & Setyawan, 2021).
Baca Juga: Perselingkuhan yang Berujung Perceraian dalam Aspek Emosional dan Fisik
Perselingkuhan dapat memberikan efek yang dapat mengganggu keamanan, pikiran, dan harga diri semua anggota keluarga tidak terkecuali anak- anak di dalam pernikahan tersebut.
Anak yang terlibat secara tidak langsung dalam konflik orang tua sering kali menjadi korban emosional yang tersembunyi. Anak mengalami kehilangan rasa aman, kebingungan, dan kesulitan memahami situasi yang sedang terjadi.
Dewanggana dan Setyawan (2021) menemukan bahwa anak laki-laki yang mengetahui ayahnya berselingkuh mengalami guncangan emosional yang mendalam. Mereka merasa dikhianati oleh figur yang selama ini dianggap sebagai pelindung dan panutan.
Anak-anak tersebut sering kali menarik diri, sulit mempercayai orang lain, dan kehilangan kehangatan dalam interaksi sosial. Penelitian tersebut menegaskan bahwa dampak perselingkuhan tidak berhenti pada pasangan suami istri saja, melainkan menular dan merusak keseimbangan psikologis anak yang menjadi saksi konflik.
Hal serupa juga ditemukan oleh Prasidarini dan Arifin (2024) dalam penelitiannya, yang menjelaskan bahwa anak-anak yang orang tuanya terlibat perselingkuhan cenderung mengalami gangguan emosional seperti rendah diri, trauma, serta kecenderungan melampiaskan rasa kecewa pada perilaku negatif.
Selain itu, mereka kerap menjadi korban bullying atau kehilangan semangat belajar karena kurangnya perhatian dari orang tua. Hilangnya figur kasih sayang dan contoh moral dari orang tua membuat anak merasa tidak berharga dan sulit memahami konsep keluarga yang harmonis.
Sementara itu, Lahuddin (2021) menemukan bahwa pengalaman anak menghadapi perselingkuhan orang tua berpengaruh terhadap proses penerimaan diri mereka.
Anak yang tidak mendapatkan dukungan emosional pasca kejadian tersebut sering kali tumbuh dengan luka batin yang memengaruhi kepercayaan diri dan cara mereka berhubungan dengan orang lain.
Penerimaan diri anak sangat bergantung pada bagaimana lingkungan mendukungnya, terutama peran orang tua yang tidak berselingkuh dalam memberikan rasa aman dan kehangatan baru.
Banyak penelitian kini menegaskan dampak dari perselingkuhan orang tua menyentuh aspek yang sangat mendasar dalam kehidupan anak-anak.
Melalui penelitian oleh The Impact of Infidelity on Children’s Psychological Development (Imtinan, Rahayu Z, Anindya & Malin, 2023) menunjukkan bahwa anak-anak yang tumbuh dalam keluarga di mana salah satu orang tua melakukan perselingkuhan menghadapi ketidakpercayaan terhadap pernikahan atau pasangan lawan jenis, kemarahan atau kebencian terhadap orang tua yang berselingkuh, hingga penurunan motivasi sosial dan kecenderungan menarik diri dari lingkungan sekitar.
Penelitian oleh Salih dan Chaudry (2023) dalam Exploring the Lived Experience of Parental Infidelity juga memperkuat hal ini.
Baca Juga: Faktor Penyebab dan Dampak Perceraian di Pengadilan Agama Stabat
Anak-anak yang menjadi saksi perselingkuhan orang tua menggambarkan pengalaman mereka melalui beberapa fase emosional: shock, penyangkalan, rasa malu, kemarahan, dan akhirnya upaya menerima kenyataan.
Namun sebagian besar responden menyebutkan bahwa luka akibat kehilangan kepercayaan itu tidak sepenuhnya pulih bahkan hingga mereka dewasa.
Penelitian yang dilakukan oleh Salih dan Chaudry (2023) menunjukkan bahwa anak-anak yang menjadi saksi perselingkuhan orang tuanya cenderung mengalami kesulitan dalam mempercayai hubungan romantis di masa depan.
Mereka mulai mengaitkan cinta dengan rasa sakit dan pengkhianatan, seolah setiap hubungan akan berakhir dengan kekecewaan.
Berdasarkan perspektif Teori Sistem Keluarga Bowen, keluarga berfungsi sebagai satu kesatuan emosional yang saling memengaruhi. Ketika salah satu anggota, terutama orang tua, melakukan pelanggaran seperti perselingkuhan, sistem emosional keluarga terganggu.
Anak sebagai bagian paling rentan dari sistem tersebut akan berisiko mengalami emotional cutoff, kecenderungan memutus koneksi emosional sebagai bentuk perlindungan diri. Dalam jangka panjang, ini dapat berujung pada kesulitan menjalin kedekatan emosional dan munculnya rasa takut terhadap hubungan pribadi di masa dewasa.
Jika ditinjau melalui Teori Hierarki Kebutuhan Abraham Maslow, pengalaman anak yang menghadapi perselingkuhan orang tua menunjukkan bagaimana terpenuhinya kebutuhan dasar dapat terganggu oleh konflik dalam keluarga.
Dalam hierarki Maslow, setelah kebutuhan fisiologis terpenuhi, manusia akan mencari rasa aman yang salah satunya berasal dari keluarga. Namun, ketika anak ikut terlibat dalam pertengkaran orang tua yang tiada henti, rasa aman tersebut tidak terpenuhi dan runtuh.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat perlindungan justru menjadi sumber ketakutan bagi anak. Setelah kebutuhan akan rasa aman terganggu, kebutuhan akan cinta dan memiliki juga akan ikut terpengaruh. Anak akan merasakan tidak dicintai, tidak diinginkan.
Hal ini membuat anak sulit membangun kedekatan emosional dengan orang lain kedepannya. Kebutuhan untuk dicintai tidak terpenuhi sehingga memengaruhi rasa percaya diri dan penghargaan terhadap diri sendiri (Esteem Needs).
Secara psikologis, hal ini akan menimbulkan kecemasan yang mendalam, karena rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman berubah menjadi sumber ketidakpastiaan dan sumber ketakutan bagi anak. Anak sulit percaya pada orang lain karena trauma yang dialami dari pengkhianatan orang tuanya.
Hal ini bisa memunculkan pola attachment cemas atau menghindar, di mana ia merasa selalu harus waspada agar tidak terluka lagi. Rasa takut dikhianati membatasi kemampuan anak dalam membangun hubungan dengan orang lain.
Baca Juga: Menggali Dampak Perceraian Orang Tua terhadap Perkembangan Psikologis Anak
Pengalaman menyaksikan perselingkuhan orang tua juga membentuk persepsi anak tentang cinta, setia, dan janji. Anak mungkin anak berpikir bahwa cinta akan selalu disertai rasa sakit, pengkhiantan atau pun rasa kekecewaan. Pola pikir ini dapat memegaruhi cara anak melihat hubungan interpersonal ke depannya.
Ia akan ragu-ragu terhadap kasih sayang yang ditawarkan orang lain. Rasa kehilangan keamanan dan kepercayaan ini meninggalkan jejak emosional yang dalam bagi anak yang juga berpengaruh terhadap cara anak itu merespons dunia dan membangun identitas emosionalnya.
Ketika tiga lapisan ini tidak terpenuhi, maka anak akan kesulitan untuk mencapai tahap yang lebih tinggi, yaitu aktualisasi diri. Anak tumbuh dengan rasa takut kehilangan, ketidakpercayaan terhadap cinta, dan kesulitan membangun hubungan di masa depan.
Berdasarkan uraian dan berbagai penelitian di atas, dapat dipahami bahwa dampak perselingkuhan orang tua bukan hanya sekadar persoalan antara pasangan suami istri, tetapi juga berpengaruh hingga kepada anak. Anak menjadi saksi bisu dari hubungan yang retak, memikul beban emosi yang bahkan tidak mereka pahami sepenuhnya.
Luka itu tidak terlihat, tetapi tumbuh dan berakar di dalamnya. Kepercayaan terhadap cinta dan keluarga perlahan memudar, berganti dengan rasa takut dan kewaspadaan terhadap kehangatan yang ditawarkan orang lain.
Dalam kondisi seperti itu, anak mulai belajar bahwa cinta bisa berujung pada rasa sakit, dan kasih sayang bisa berubah menjadi sumber luka. Setiap pertengkaran yang mereka saksikan, membentuk keyakinan bahwa keamanan tidak pernah benar-benar ada.
Mereka tumbuh dengan perasaan harus selalu siap melindungi diri, seolah kasih sayang adalah sesuatu yang harus diwaspadai. Namun di sisi lain, tidak sedikit pula anak yang justru menjadikan pengalaman pahit itu sebagai pelajaran untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Mereka belajar menghargai kejujuran, kesetiaan, dan komunikasi yang sehat dalam hubungan. Fenomena ini menunjukkan bahwa setiap pengalaman emosional, seberapa pun menyakitkannya, dapat menjadi titik balik bagi pembentukan kepribadian seseorang.
Ketika anak mendapatkan dukungan yang tepat, baik dari lingkungan sosial maupun dari salah satu orang tua yang tetap hadir dan penuh kasih, luka yang pernah menyesakkan itu bisa menjadi sumber kekuatan.
Meskipun luka yang ditinggalkan oleh orang tuanya akan terus membekas, namun hidup tidak berhenti di situ saja, hidup terus berjalan. Maka luka itu juga mau tidak mau harus bisa diterima. Walaupun masa lalu tidak bisa diubah, namun ia bisa memilih bagaimana menjalani hari-hari kedepannya.
Dalam kesendiriannya, anak itu mulai menerima kenyataan bahwa cinta memang bisa terluka, tetapi cinta juga bisa dibangun kembali, walaupun dimulai dari dirinya sendiri. Anak itu semakin dewasa perlahan menyadari meski dunia ia tak lagi kokoh dan telah runtuh, namun setidaknya pengalaman itu mengajarkan sesuatu.
Pengalaman yang meninggalkan luka yang dalam juga membentuk cara anak itu melihat dunia, memahami cinta, mengajarkan menghargai cinta yang tulus. Rumah anak itu mungkin tidak akan sama lagi, orang tuanya juga tidak lagi seperti dulu.
Namun, ia bisa belajar bahwa dirinya tetap bisa menemukan rasa aman, kehangatan, dan harapan yang tulus meski harus mencari dan membangunnya sendiri. Luka-luka itu menuntunnya, meski tidak mudah untuk sembuh, namun rasa sakit dan kehilangan bukan akhir dari segalanya, melainkan bagian dari proses untuk bertumbuh.
Penulis: Sonia Benecia Christie Situmorang
Mahasiswa Psikologi Universitas Jambi
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












