Tim PKM RSH UPI Teiliti Nomophobia dan Pengaruhnya terhadap Civic Disposition pada iGeneration

PKM RSH UPI
Poster Nomophobia di Era Mondial (Sumber: Penulis)

Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Riset Sosial Humaniora (RSH) Universitas Pendidikan Indonesia yang diketuai oleh Sarah Raudlatul Aulia (PKn), dan terdiri dari beberapa anggota lain yaitu, Putri Minda C (PKn), Rian Juniawan (PKn), Susan Susanti (Sosiologi), Nadila Maulida Fadilah (Psikologi) dan Dr. Sri Wahyuni Tanshzil, S.Pd., M.Pd., sebagai dosen pembimbing menyoroti fenomena nomophobia pada iGeneration di Kota Bandung.

Dalam riset yang didanai oleh Kemenristekdikti ini, Sarah dkk meneliti tentang permasalahan nomophobia yang marak terjadi di kalangan iGeneration saat ini dan bagaimana hal itu dapat berpengaruh terhadap pembentukan karakter warga negara (civic disposition) dan identitas diri iGeneration pada era mondial.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Sarah mengemukakan latar belakang diangkatnya tema ini karena melihat fenomena nomophobia yang sangat marak terjadi saat ini, bahkan kerap tidak disadari oleh pelakunya.

Nomophobia, yang merupakan singkatan dari “no-mobile-phone phobia,” telah menjadi fenomena yang semakin umum terjadi pada iGeneration.

Pada saat yang sama, civic disposition atau disposisi kewarganegaraan juga menjadi aspek penting dalam membentuk karakter individu dalam masyarakat.

Kaitan antara nomophobia dan civic disposition pada iGeneration menjadi perhatian penting dalam menghadapi tantangan teknologi modern.

Nomophobia sudah menjadi sebuah fenomena, akibat adanya permasalahan terkait intensitas penggunaan smartphone yang tinggi, sehingga seseorang cenderung merasa takut, cemas dan khawatir berlebih ketika tidak dapat menggunakan atau berjauhan dengan smartphone.

Kondisi ini dapat dikatakan bukan sekadar penyakit ketergantungan biasa karena penggunanya cenderung candu untuk menghabiskan banyak waktu mengakses smartphone, yang mana hal ini dapat menghambat dan mengancam pembentukan civic disposition iGeneration saat ini,” ungkapnya.

Nadila mengungkapkan lebih lanjut, “Seiring dengan berkembangnya teknologi, khususnya ponsel pintar, iGeneration telah tumbuh dalam era di mana konektivitas digital menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari.

Namun, dampak negatif dari ketergantungan pada teknologi ini semakin jelas terlihat, terutama dalam bentuk nomophobia.

Beberapa tanda ketergantungan terhadap ponsel yang sering muncul adalah gangguan tidur, isolasi sosial, penurunan produktivitas, dan masalah kesejahteraan mental.

Individu yang mengalami nomophobia cenderung merasa cemas, gelisah, atau bahkan panik ketika mereka tidak memiliki akses ke ponsel mereka.

Ini dapat mengganggu keseimbangan kehidupan sehari-hari dan berdampak negatif pada hubungan sosial. Jika seseorang dengan nomophobia gejala tinggi, maka dapat berpotensi juga mengalami depresi dan stres yang memburuk serta keterampilan dan kompetensi emosional yang lebih rendah.”

Berdasarkan hasil riset yang dilakukan, iGeneration Kota Bandung dominan pernah mengalami nomophobia.

Sebanyak 49,65% responden menyatakan setuju dan 25,30% responden menyatakan sangat setuju bahwa mereka sering memastikan smartphone-nya berada dalam jangkauan mereka ketika berinteraksi sosial secara langsung.

Indikasi paparan nomophobia pada iGeneration juga terlihat pada hasil riset yang menunjukan bahwa sebanyak 24,82% responden menyatakan setuju dan 47.52% responden menyatakan sangat setuju bahwa mereka sering menunda pekerjaan karena memainkan smartphone dalam waktu yang cukup lama.

Dari hasil riset juga ditemukan fenomena nomophobia berpengaruh terhadap penurunan civic disposition pada diri iGeneration.

Hasil riset ditemukan, sebagai berikut:

  1. 71,99% responden menyepakati bahwa penggunaan smartphone secara berlebihan dapat menurunkan rasa kepedulian saya terhadap sesama;
  2. 73,20% responden menyepakati bahwa intensitas penggunaan smartphone yang tinggi dapat mempengaruhi tanggung jawab sosial saya sebagai seorang warga negara;
  3. 65,94% responden menyepakati bahwa seseorang yang mengalami nomophobia cenderung memiliki kemampuan yang kurang dalam mendengarkan dan menghargai pendapat orang lain; dan
  4. 56,08% responden menyepakati bahwa orang-orang yang mengalami Nomophobia cenderung minim berpartisipasi dalam urusan politik, seperti isu politik yang sedang hangat terjadi.

Apabila fenomena ini terus terjadi, maka berpotensi mengancam iGeneration yang memiliki peranan penting sebagai generasi penerus bangsa dengan karakter kewarganegaraan yang baik.

Lebih luasnya, secara tidak langsung jika terjadi penurunan proses pembentukan karakter kewarganegaraan akibat nomophobia, maka dapat mengancam efektifitas warga negara khususnya dalam gatra individu serta partisipasinya dalam lingkup sosial dalam mendukung berjalannya kehidupan bernegara yang sehat demi kemaslahatan bersama.

Penulis :

  1. Sarah Raudlatul Aulia
  2. Putri Minda. C
  3. Rian Juniawan
  4. Susan Susanti
  5. Nadila Maulida Fadilah

Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses