Wujud Diplomasi Budaya Indonesia lewat Seni Pertunjukan Modern di Era Globalisasi

strategi diplomasi budaya indonesia
Wujud Diplomasi Budaya Indonesia lewat Seni Pertunjukan Modern di Era Globalisasi. Sumber: MMI.

Diplomasi budaya merupakan cara negara memanfaatkan kekayaan budaya dalam membuka ruang dialog dan mempererat hubungan dengan negara lain. Praktiknya bisa berupa pertukaran seniman, musisi, pelajar, dan akademisi, promosi warisan budaya nasional, hingga dukungan terhadap berbagai kegiatan budaya di luar negeri.

Di era globalisasi, diplomasi budaya menjadi salah satu strategi penting bagi negara dalam membangun citra positif serta menjalin dan memperluas relasi internasional.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Sebagai negara yang memiliki keberagaman budaya yang cukup luas, Indonesia memiliki potensi yang besar untuk memanfaatkan seni atau budayanya sebagai instrumen dalam berdiplomasi yang mudah untuk diterima oleh masyarakat global.

Seni pertunjukan modern, yakni pertunjukkan yang menggabungkan unsur tradisional dengan unsur-unsur modern. Dikutip dari artikel yang ditulis oleh Pinto, tradisi yang dulu dianggap kaku dan terikat pada masa lalu, kini dilihat sebagai sesuatu yang hidup, yang bisa ditafsirkan ulang, disesuaikan, dan diubah.

Hal ini termasuk menciptakan kembali karya, teknik, dan gaya yang sudah ada, sering kali dengan sentuhan kontemporer. Dengan penyesuaian dan tambahan sentuhan kontemporer, hal ini membuat seni pertunjukan lebih relevan dengan masyarakat masa kini sehingga dapat dijadikan salah satu bentuk diplomasi budaya.

Keunggulan menjadikan seni pertunjukan modern sebagai bentuk diplomasi budaya dapat dilihat dari kemampuannya menyajikan identitas budaya secara dinamis, kreatif, dan komunikatif yang menyebabkan pesan-pesan dapat tersampaikan.

Seniman memiliki peran penting dalam diplomasi budaya ini. Mereka tidak hanya berperan sebagai pelaku seni, akan tetapi juga sebagai representasi identitas nasional dan juga ambasador budaya di ruang publik skala internasional.

Melalui kreativitas mereka dalam menginterpretasi hal yang artistik dan juga cara mereka berinteraksi dengan penonton global, peran dan pengaruh seniman dalam pembentukan persepsi global terhadap Indonesia dan pemahaman budaya dapat diperluas.

Oleh karena itu, seni pertunjukan dapat memperkuat diplomasi budaya Indonesia dikarenakan memberi ruang bagi seniman untuk memperkenalkan identitas budaya Indonesia.

Seni pertunjukan modern, sebagai hasil penggabungan unsur tradisional dengan pendekatan dan konteks kontemporer, menjadi media yang efektif dalam praktik diplomasi budaya Indonesia.

Baca Juga: Membangun Kedekatan Tanpa Pengakuan: Diplomasi Budaya antara Indonesia dan Taiwan

Dalam praktiknya, seni pertunjukan yang sebelumnya dinilai berfungsi dalam dunia hiburan juga dapat dimanfaatkan dalam pengenalan dan pertukaran budaya Indonesia dengan budaya asing.

Sebagai contoh, pada Juli 2025 lalu, diadakan The Indonesia Ballet Gala 2025 yang menampilkan 14 karya tari mulai dari Classical Ballet, Contemporary Dance, dan puncaknya adalah adanya tari kreasi ballet yang diberikan sentuhan tradisional Indonesia.

Hal ini menunjukkan bahwa adanya percampuran budaya tradisional Indonesia dengan kesenian khas Eropa. The Indonesia Ballet Gala 2025 menampilkan Beksan Telaga Angsa yang menggabungkan karya klasik “Swan Lake” dengan Tari Bedhaya khas Jawa.

Tidak berhenti sampai di situ, pada Desember 2025, Beksan Telaga Angsa dibawa oleh British Council Indonesia sebagai perayaan kerjasama budaya Indonesia dengan Inggris dan memperingati 75 tahun English National Ballet.

Hal ini  menunjukan bahwa kerjasama negara bisa dibangun dari kebudayaannya, diplomasi tidak selalu tentang pembahasan isu-isu kepentingan negara, tetapi adanya diplomasi budaya menunjukan bahwa kebudayaan bisa dijadikan instrumen untuk negara dapat bekerja sama dengan negara lain.

Selain karya seninya, senimannya pun memiliki peran penting dalam pengenalan identitas nasional. Mulai dari sutradara maupun para penampil, semua memiliki peran yang sama dalam mengenalkan kebudayaan nasional.

Sutradara dari penampilan Beksan Telaga Angsa sebagai otak dari penampilan ini berhasil menyatukan dua kebudayaan yang sangat berbeda menjadi satu.

Orang-orang Eropa yang sudah terbiasa melihat penampilan dengan pembawaan klasik seperti ballet dapat menikmati penampilan tari tradisional khas Indonesia dengan media penampilan yang sudah biasa mereka nikmati.

Hal ini ditambah juga dengan mereka dapat mendengar instrumen gamelan khas Indonesia sebagai pengiring dari tarian tersebut. Hal yang sama juga berlaku bagi orang-orang Indonesia yang sudah terbiasa melihat penampilan tari khas Indonesia yang kesannya magis bisa menikmati penampilan ballet yang cenderung sangat klasik khas Eropa.

Tidak hanya itu, bagi orang-orang Indonesia yang sudah terpapar efek globalisasi pun dan jadi terbiasa untuk melihat budaya-budaya Barat atau khususnya Eropa jadi bisa semakin mengetahui kebudayaan lokal melalui pementasan Beksan Telaga Angsa ini.

Baca Juga: Wonderland Indonesia Menjadi Diplomasi Budaya

Sedangkan para penari yang berperan sebagai eksekutor memiliki peran penting dikarenakan penampilan yang sudah dirancang sedemikian rupa tidak akan berhasil ditampilkan jika para penarinya tidak ada atau tidak memahami esensi dari pertunjukan yang mereka bawa.

Seni pertunjukan modern secara signifikan membentuk citra positif Indonesia di mata internasional dengan menampilkan negara sebagai pusat inovasi budaya yang dinamis dan inklusif.

Melalui reinterpretasi elemen tradisional seperti Tari Bedhaya atau gamelan dengan pendekatan kontemporer dalam penampilan Beksan Telaga Angsa di Indonesia Ballet Gala 2025, Indonesia berhasil menggeser persepsi dari negara berkembang menjadi mitra strategis seni global yang setara dengan Barat.

Pertunjukan ini tidak hanya memikat audiens Eropa melalui pengenalan gamelan dan gerak Bedhaya dalam format ballet familiar, tetapi juga membangkitkan kebanggaan nasional di kalangan masyarakat Indonesia yang terpapar globalisasi, sehingga memperkuat branding “Indonesia kreatif” yang dimiliki oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. ​

Pengaruhnya meluas ke diplomasi publik, di mana kolaborasi internasional seperti British Council membawa Beksan Telaga Angsa pada Desember 2025 untuk memperingati 75 tahun English National Ballet, membuktikan kemampuan seni Indonesia membuka kerja sama bilateral lintas budaya.

Seni pertunjukan modern telah terbukti sebagai instrumen diplomasi budaya Indonesia yang ampuh di era globalisasi, dengan kemampuan unik dalam menyajikan identitas nasional secara dinamis melalui reinterpretasi tradisi seperti Beksan Telaga Angsa yang memadukan Tari Bedhaya dengan Swan Lake klasik Eropa.

Seniman sebagai duta budaya mulai sutradara hingga penari memainkan peran krusial dalam menjembatani persepsi global, memikat audiens internasional sambil membangkitkan kebanggaan domestik terhadap kekayaan lokal di tengah globalisasi.

Dampaknya terhadap citra Indonesia sangat signifikan, menggeser persepsi dari negara berkembang menjadi pusat kreativitas inklusif yang setara dengan Barat, sebagaimana terlihat dalam kolaborasi British Council Indonesia yang membuka kerja sama bilateral melalui seni, sehingga memperkuat branding Indonesia kreatif secara berkelanjutan.


Penulis: Christabel Jezania Lesmana
Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR)


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Daftar Pustaka

Nonsuch Foundation. “Introduction to Cultural Exchange in Art.” Nonsuch Foundation, 2024. https://nonsuchfoundation.com/cultural-exchange-art-intro/.

Pinto, Duarte. “Transformations of Tradition in Modern Performing Arts Practices,” 2025.

Sunandoro, Suryo. “Menembus Batas Budaya, Ketika Balet Bertemu Tari Jawa.” Kumparan, 2025. https://kumparan.com/spsunandoro/menembus-batas-budaya-ketika-balet-bertemu-tari-jawa-25SMRoB4TIm.

The Global Leaders Institute. “Cultural Diplomacy: Bridging Nations through Arts and Ideas | Global Leaders Institute.” Global Leaders Institute, 2024. https://www.globalleadersinstitute.org/blog-post/cultural-diplomacy-bridging-nations-through-arts-and-ideas/.

Yuliastuti, Dian, and Iwan Kurniawan. “Perkawinan Balet Dan Tari Bedhaya Di Indonesian Ballet Gala 2025.” Tempo. PT Tempo Inti Media, 2025. https://www.tempo.co/teroka/perkawinan-balet-dan-tari-bedhaya-di-indonesian-ballet-gala-2025-1935119.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses