Krisis pangan bukan lagi sekadar isu masa depan, melainkan ancaman nyata yang sedang berlangsung di seluruh penjuru dunia.
Laporan FAO pada tahun 2023 mencatat bahwa lebih dari 735 juta orang mengalami kelaparan kronis, dengan sebagian besar berada di negara-negara berkembang.
Angka ini melonjak tajam akibat kombinasi berbagai faktor: pandemi COVID-19 yang mengguncang sistem logistik global, konflik geopolitik seperti perang Rusia-Ukraina yang memutus rantai pasok bahan pangan dan pupuk, serta perubahan iklim ekstrem yang menyebabkan kekeringan, banjir, dan gagal panen.
Ironisnya, kelaparan terjadi di tengah kemajuan teknologi global yang seharusnya mampu memastikan akses pangan bagi semua orang.
Hal ini menimbulkan pertanyaan besar: Apakah teknologi benar-benar sudah digunakan untuk menyelesaikan persoalan paling dasar umat manusia yakni ketersediaan pangan?
Di Indonesia, negeri dengan julukan negara agraris, persoalan pangan justru makin kompleks.
Meski memiliki lahan subur, iklim tropis yang mendukung, dan sejarah panjang bercocok tanam, ketahanan pangan nasional masih tergantung pada impor.
Menurut data BPS, Indonesia masih mengimpor beras, gandum, kedelai, dan daging dalam jumlah besar setiap tahunnya.
Di sisi lain, para petani pilar utama sektor pertanian mengalami stagnasi produktivitas, kesulitan akses ke pasar, dan krisis regenerasi.
Lebih dari 90% petani Indonesia adalah petani kecil dengan luas lahan kurang dari dua hektar. Mereka rentan terhadap fluktuasi cuaca, harga pasar yang tidak stabil, dan akses terhadap teknologi yang sangat terbatas.
Padahal tantangan pangan modern tidak bisa lagi dihadapi dengan alat tradisional dan sistem tanam berdasarkan kebiasaan turun-temurun.
Dibutuhkan pendekatan baru yang lebih adaptif, presisi, dan efisien yakni melalui pemanfaatan teknologi pertanian atau agri-tech.
Baca juga: Dinamika Aliran dalam Produk Pangan: Pentingnya Ilmu Reologi
Agri-tech merupakan istilah yang merujuk pada integrasi teknologi digital, otomatisasi, dan data dalam proses produksi, distribusi, dan pemasaran hasil pertanian.
Teknologi seperti Internet of Things (IoT) memungkinkan pemantauan kelembaban tanah, suhu, dan kebutuhan nutrisi tanaman secara real-time.
Drone dapat digunakan untuk pemetaan lahan, pemupukan presisi, dan pengawasan hama. Kecerdasan buatan (AI) digunakan untuk menganalisis pola cuaca, memprediksi panen, hingga mengoptimalkan penggunaan sumber daya.
Platform digital berbasis aplikasi juga telah membantu petani terhubung langsung ke konsumen atau pasar, memotong mata rantai distribusi yang panjang dan merugikan.
Menurut McKinsey (2022), adopsi teknologi pertanian presisi dapat meningkatkan hasil panen hingga 30%, menghemat air sebanyak 40%, dan mengurangi penggunaan pestisida sebesar 20%.
Angka-angka ini menunjukkan bahwa agri-tech bukan sekadar gaya hidup digital, melainkan solusi nyata yang berdampak langsung terhadap produktivitas dan keberlanjutan pertanian.
Namun, kenyataan di lapangan tidak semudah itu. Sebagian besar petani Indonesia belum mampu mengakses teknologi tersebut.
Literasi digital yang rendah menjadi tantangan pertama. Banyak petani berusia di atas 45 tahun, belum terbiasa menggunakan smartphone atau perangkat digital, apalagi memahami cara kerja sensor atau aplikasi pertanian.
Selain itu, banyak wilayah pedesaan di Indonesia, khususnya di bagian timur dan pelosok Sumatra serta Kalimantan, masih belum memiliki infrastruktur internet yang memadai. Koneksi yang lambat atau bahkan tidak ada sama sekali membuat teknologi berbasis cloud tidak bisa dioperasikan dengan baik.
Masalah ketiga adalah biaya. Teknologi agri-tech, meskipun efisien dalam jangka panjang, tetap memiliki biaya awal yang tinggi.
Membeli drone, sensor IoT, atau langganan perangkat lunak berbasis AI bukanlah hal yang mudah bagi petani kecil yang penghasilannya pas-pasan dan bergantung pada musim.
Tantangan-tantangan inilah yang membuat adopsi agri-tech di Indonesia masih tergolong lambat dan belum merata.
Namun demikian, beberapa contoh sukses telah menunjukkan bahwa agri-tech bukanlah hal yang mustahil.
Salah satu contoh inspiratif adalah eFishery, startup agrikultur digital yang mengembangkan alat pemberi pakan ikan otomatis berbasis IoT.
Teknologi ini memungkinkan peternak mengatur jadwal pemberian pakan secara presisi, mengurangi pemborosan, dan meningkatkan efisiensi budidaya.
Hingga 2024, eFishery telah menjangkau lebih dari 70.000 pembudidaya ikan di Indonesia, membuktikan bahwa teknologi bisa diterapkan secara luas jika sesuai dengan kebutuhan lapangan dan disertai pendampingan yang baik.
Contoh lainnya adalah TaniHub, yang membangun platform digital untuk mempertemukan petani langsung dengan pembeli seperti restoran, hotel, dan supermarket.
Dengan memangkas peran tengkulak, petani memperoleh harga lebih baik dan keuntungan yang lebih besar.
Baca juga: Krisis Lingkungan dan Dampak Perubahan Iklim di Indonesia
Meski inisiatif swasta patut diapresiasi, negara tidak bisa bergantung pada sektor privat semata.
Pemerintah memiliki peran sentral dalam membangun ekosistem pertanian digital nasional yang inklusif dan berkelanjutan.
Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah memberikan subsidi bagi petani kecil untuk memperoleh alat teknologi pertanian seperti sensor, drone, atau perangkat lunak analitik.
Kedua, membangun infrastruktur internet pedesaan sebagai fondasi utama digitalisasi sektor pertanian.
Ketiga, membentuk pusat pelatihan dan literasi teknologi di desa-desa, bekerja sama dengan perguruan tinggi, penyuluh pertanian, dan komunitas teknologi lokal.
Keempat, menciptakan skema pembiayaan mikro seperti kredit lunak dan leasing alat pertanian berbasis teknologi.
Kelima, memperkuat riset dan pengembangan teknologi pertanian lokal agar tidak terus bergantung pada produk luar negeri yang belum tentu cocok dengan kondisi agrikultur Indonesia.
Di sisi lain, pemerintah dan masyarakat juga perlu waspada terhadap aspek etika dan keamanan data.
Banyak startup pertanian digital mengumpulkan data dari petani, mulai dari pola tanam hingga volume produksi.
Data ini sangat berharga dan strategis. Tanpa regulasi yang jelas, data petani bisa digunakan oleh korporasi besar untuk kepentingan bisnis semata tanpa memberi manfaat kembali kepada petani.
Oleh karena itu, perlu ada kebijakan perlindungan data dan regulasi kepemilikan data pertanian yang berpihak kepada petani sebagai produsen utama.
Yang tidak kalah penting adalah mendorong regenerasi petani. Saat ini, hanya sekitar 8% petani Indonesia yang berusia di bawah 35 tahun.
Jika tidak segera diatasi, dalam dua dekade mendatang Indonesia bisa mengalami krisis tenaga kerja pertanian.
Agri-tech memiliki potensi besar untuk menarik generasi muda kembali ke dunia pertanian.
Dengan pendekatan yang berbasis teknologi, pertanian bisa diposisikan sebagai sektor masa depan yang modern, bernilai bisnis tinggi, dan sesuai dengan gaya hidup digital anak muda masa kini.
Pemerintah bisa mendukung hal ini melalui program inkubasi startup pertanian, beasiswa teknologi agrikultur, dan insentif kewirausahaan berbasis pertanian digital.
Pada akhirnya, agri-tech bukan hanya soal alat dan aplikasi.
Ia adalah cerminan dari niat kita sebagai bangsa: apakah kita sungguh-sungguh ingin menciptakan sistem pangan yang adil, berkelanjutan, dan berdaulat, atau terus bergantung pada pola lama yang membuat petani terpinggirkan.
Baca juga: Pentingnya Mengoptimalkan Ketersediaan Pangan yang Berkelanjutan di Indonesia
Di tengah krisis pangan global yang kian nyata, Indonesia memiliki pilihan menjadi korban dari sistem yang usang atau pemimpin dalam transformasi pertanian digital Asia Tenggara.
Kita memiliki lahan subur, keragaman komoditas, dan populasi petani yang masih signifikan.
Yang dibutuhkan hanyalah keberanian politik, investasi sosial, dan komitmen kolektif untuk berubah.
Karena semakin lama kita menunda transformasi ini, semakin besar risiko yang harus kita tanggung di masa depan.
Agri-tech adalah ladang masa depan dan kita harus mulai menanaminya hari ini, sebelum semuanya terlambat.
Penulis: Najwa Azhalia Mutiara Ramadhani
Mahasiswa Jurusan Agribisnis, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Editor: Anita Said
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













