Kebakaran merupakan salah satu risiko operasional yang menimbulkan dampak besar terhadap keselamatan, aset, dan keberlangsungan bisnis suatu perusahaan.
Dalam konteks ini, manajemen risiko operasional dan mitigasi bencana menjadi aspek penting yang perlu diterapkan secara terencana dan berkelanjutan, termasuk pada perusahaan berbasis teknologi seperti Terra Drone.
PT Terra Drone mengalami musibah kebakaran pada Selasa, 9 Desember 2025, di gedung perusahaan yang berlokasi di Cempaka Baru, Kemayoran, Jakarta Pusat.
Peristiwa tragis ini menelan korban jiwa, dengan jumlah korban meninggal mencapai 22 orang. Dugaan awal menyebutkan kebakaran dipicu oleh baterai litium (drone battery) yang tersimpan di lantai dasar atau area gudang.
Sebagian besar korban dilaporkan meninggal akibat paparan asap dan gas beracun. Manajemen PT Terra Drone Indonesia dalam pernyataan resminya menyampaikan bahwa perusahaan memfokuskan perhatian pada bantuan kemanusiaan bagi korban dan keluarga yang berdampak.
Oleh karena itu, analisis terhadap manajemen risiko operasional dan strategi mitigasi bencana dalam kasus kebakaran pada PT Terra Drone menjadi relevan untuk memahami sejauh mana perusahaan mampu mengidentifikasi, mengendalikan, dan meminimalkan dampak risiko tersebut.
Manajemen risiko operasional merupakan komponen strategis dalam sistem pengelolaan perusahaan yang bertujuan untuk melindungi keselamatan tenaga kerja, aset, serta keberlangsungan operasional, sebagaimana tercermin dalam insiden kebakaran yang menimpa PT Terra Drone Indonesia.
Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa proses identifikasi risiko operasional belum dilakukan secara menyeluruh, khususnya terhadap potensi bahaya yang berasal dari aktivitas operasional dan pengelolaan fasilitas kerja, sehingga risiko kebakaran tidak diantisipasi secara memadai sejak tahap perencanaan.
Kelemahan dalam identifikasi risiko ini berdampak langsung pada tidak optimalnya evaluasi dan mitigasi risiko yang seharusnya diterapkan untuk mencegah terjadinya kejadian buruk atau setidaknya meminimalkan dampak yang ditimbulkan, baik melalui penyusunan standar operasional prosedur keselamatan maupun penyediaan sarana dan prasarana penunjang tanggap darurat.
Selain itu, pengendalian operasional yang lemah, seperti tidak konsistennya penerapan standar keselamatan kerja, keterbatasan fasilitas evakuasi, serta kurangnya sistem proteksi kebakaran yang memadai, memperlihatkan bahwa manajemen risiko belum terintegrasi secara efektif dalam aktivitas operasional sehari-hari perusahaan.
Kondisi tersebut semakin diperburuk oleh tidak dilaksanakannya monitoring dan review risiko secara berkala, yang seharusnya berfungsi untuk menilai efektivitas pengendalian risiko serta menyesuaikan langkah mitigasi terhadap perubahan kondisi operasional dan lingkungan kerja.
Lebih lanjut, kasus ini menegaskan bahwa manajemen risiko operasional tidak hanya menjadi tanggung jawab manajemen internal perusahaan, tetapi juga melibatkan pemangku kepentingan eksternal seperti otoritas pengawas dan regulator dalam menciptakan tata kelola risiko yang lebih luas, terpadu, dan akuntabel. Dengan demikian, insiden kebakaran PT Terra Drone Indonesia menjadi pembelajaran penting mengenai urgensi penerapan manajemen risiko operasional secara komprehensif melalui proses identifikasi, mitigasi, pengendalian, serta monitoring risiko yang berkelanjutan guna mencegah terulangnya peristiwa serupa di masa mendatang.
Dalam kasus kebakaran Terra Drone di Jakarta yang menewaskan puluhan korban akibat minimnya tangga darurat dalam gedung tersebut dan hanya terdapat satu jalur akses utama yang membuat asap dan api lebih cepat membara gedung tersebut.
Mitigasi bencana kebakaran ini seharusnya harus difokuskan dalam pemenuhan standar keselamatan gedung sejak tahap awal perencanaan hingga ke tahap operasional gedung.
Mitigasi bencana kebakaran meliputi beberapa aspek keselamatan seperti penyediaan alat pemadam kebakaran, menyediakan lebih dari satu jalur evakuasi yang mudah di akses dan aman, pelatihan untuk tanggap darurat, dan pemasangan alarm kebakaran sebagai sistem proteksi kebakaran.
Selain itu, diperlukan juga pelatihan evakuasi rutin bagi para penghuni di dalam gedung. Ketidakadaan komponen dalam mitigasi bencana ini memperlihatkan kelemahan dalam manajemen perencanaan dan pengelolaan risiko, seharusnya komponen mitigasi bencana ini menjadi bagian penting dari tata kelola operasional dalam bangunan tinggi.
Kata Kunci: manajemen risiko operasional, mitigasi bencana kebakaran, keselamatan dan kesehatan kerja, pengendalian operasional, tata kelola risiko perusahaan
Penulis:
1. Katherine Elysia Dewi (0301524024)
2. Nabila Ramadhani (0301524036)
3. Nazwa Queenara Azahra Pesik Pajouw (0301524040)
Mahasiswa Prodi Manajemen, Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI)
Dosen Pengampu: Prof. Dr. Dewi Elfidasari, S.Si., M.Si.
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Daftar Pustaka
Kompas.com. (2025, 13 Desember). Terungkap karyawan Terra Drone ternyata tak paham cara mengelola baterai. Diakses dari https://megapolitan.kompas.com/read/2025/12/13/06231321/terungkap-karyawan-terra-drone-ternyata-tak-paham-cara-mengelola-baterai
Selidikkasus.com. (2025, 11 Desember). Kebakaran PT Terra Drone Indonesia: Data konsesi dan munculnya pertanyaan tata kelola lingkungan. Diakses dari https://selidikkasus.com/2025/12/11/kebakaran-pt-terra-drone-indonesia-data-konsesi-dan-munculnya-pertanyaan-tata-kelola-lingkungan/
Tribunnews.com. (2025, 13 Desember). Kebakaran Terra Drone menewaskan 22 orang, pemilik gedung akui tidak ada tangga darurat. Diakses dari https://wartakota.tribunnews.com/jakarta/877202/kebakaran-terra-drone-menewaskan-22-orang-pemilik-gedung-akui-tidak-ada-tangga-darurat
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI











